jurnalistik.co.id – Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) meminta kampus mengambil langkah tegas agar kejadian peluru nyasar di lingkungan kampus tidak terulang.
Permintaan tersebut muncul setelah dugaan peluru nyasar menimpa dua mahasiswa di kawasan depan rektorat UNP, Padang, Sumatera Barat, pada Selasa (2/6/2026). Para mahasiswa menyampaikan kekhawatiran karena mereka menilai insiden serupa telah berulang.
Dalam penuturannya, mahasiswa Teknik Mesin Rozi Hardian meyakini peristiwa yang menimpa korban terkait dengan latihan tembak yang dilakukan TNI saat kejadian berlangsung. Rozi juga menyoroti bahwa lokasi latihan tembak berada dekat area kampus.
“Semua kita tahu bahwa didekat sini ada lapangan tembak. Tentu sudah bisa diprediksi pelurunya dari mana,” ujarnya.
Rozi menilai, meski arah asal peluru dinilai dapat diprediksi, kampus belum mengambil tindakan tegas setelah insiden terjadi. Ia menyebut kejadian yang sama sudah pernah terjadi dan karena itu peristiwa terakhir seharusnya menjadi pemantik perubahan nyata.
“Minimal kampus harus tegas, apakah meminta lapangan tembak ditutup, dipindahkan lokasinya atau sudut menembaknya,” jelas Rozi.
Menurut Rozi, sikap yang diminta bukan sebatas tanggapan sesaat, melainkan keputusan yang jelas menyangkut keberlanjutan lokasi dan pengaturan latihan tembak. Ia menekankan perlunya evaluasi agar potensi bahaya tidak kembali menyasar area kampus.
Mahasiswa lainnya, Nurul Fikri, menilai kasus yang membuat dua korban menjalani perawatan juga perlu diusut sampai tuntas. Fikri menyatakan ia tidak ingin ada korban lain dalam rangkaian kejadian tersebut, terutama apabila proses pertanggungjawaban tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Saya harap proses pengungkapannya transparan dan pelaku bisa diadili dengan hukum semestinya,” tegas Fikri.
Dalam pandangan Nurul, transparansi pengungkapan menjadi bagian penting agar publik memahami bagaimana insiden terjadi dan apa hasil evaluasi atas pelaksanaan latihan tembak maupun pengamanan di sekitar kampus. Ia berharap proses hukum dapat berjalan sesuai ketentuan agar kejadian tidak terus berulang tanpa kejelasan.
Para mahasiswa, dengan dasar pengalaman atas kejadian sebelumnya, menempatkan permintaan kepada kampus pada dua fokus utama: ketegasan dalam menata ulang faktor penyebab dan transparansi dalam proses penanganan kasus. Dengan cara itu, mereka berharap keselamatan warga kampus dapat lebih terjamin.
Lebih jauh, mereka menginginkan agar kampus tidak hanya merespons setelah korban berjatuhan, melainkan mengambil keputusan pencegahan yang efektif. Dengan penekanan pada tindakan tegas dan pengungkapan yang transparan, mahasiswa berharap insiden peluru nyasar di lingkungan UNP dapat dihentikan secara nyata.
Sejumlah pernyataan para mahasiswa tersebut pada akhirnya bermuara pada harapan yang sama: kampus mengambil sikap yang tegas, sementara proses pengungkapan dilakukan secara terbuka dan pelaku dapat menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Para mahasiswa juga menekankan bahwa kekhawatiran mereka berangkat dari pola kejadian yang dinilai tidak berhenti hanya pada satu insiden. Karena itu, mereka berharap kampus dapat menilai ulang secara menyeluruh faktor yang membuat area kampus berisiko, bukan hanya menunggu bila keadaan kembali terjadi.
Dalam permintaan itu, mereka meminta adanya tindak lanjut yang dapat mengurangi kemungkinan peluru mengenai lingkungan kampus. Mahasiswa menilai solusi dapat berupa pembatasan latihan, penataan ulang lokasi, maupun pengaturan sudut menembak agar arah tembakan tidak melewati area yang berdekatan dengan fasilitas kampus.
Selain langkah pencegahan, mahasiswa juga mendorong agar proses penanganan perkara berjalan terbuka. Mereka ingin publik memperoleh informasi mengenai bagaimana insiden berlangsung, bagaimana evaluasi dilakukan setelah latihan tembak, serta tindak lanjut atas penyelidikan yang berujung pada pertanggungjawaban hukum bagi pihak yang terkait.












