jurnalistik.co.id – Kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mencatat, kasus flu Singapura atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) terus meningkat sepanjang 2026. Hingga pekan ke-23, jumlahnya mencapai 523 kasus yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, dengan mayoritas pasien anak-anak.
Dalam pemetaan Dinkes Sumsel, Kota Palembang menjadi wilayah dengan angka tertinggi, yakni 102 kasus. Ira Primadesa Ogatiyah menyebut peningkatan ini bergerak seiring perubahan musim dan pola aktivitas anak.
“HFMD memang penyakit musiman. Kasus di Sumsel biasanya meningkat saat pancaroba maupun musim kemarau ketika anak-anak lebih banyak berkumpul di ruangan ber-AC atau taman bermain indoor,” ujar Ira, Senin (29/6/2026).
Ira menjelaskan, lonjakan mulai terlihat sejak April 2026. Pada pekan pertama sampai pekan ke-15, jumlah penderita masih berkisar antara satu hingga 19 orang per pekan, sebelum kemudian bertambah menjadi puluhan kasus setiap minggunya.
Selain Palembang, beberapa daerah lain juga mencatat temuan yang cukup tinggi. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melaporkan 75 kasus, Musi Banyuasin 61 kasus, dan Prabumulih 58 kasus.
Daerah lainnya adalah Lahat 54 kasus serta Muara Enim 54 kasus. Sementara itu, Lubuk Linggau mencatat 49 kasus selama periode yang sama hingga pekan ke-23.
Dinkes Sumsel menegaskan, HFMD merupakan infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak berusia di bawah lima hingga tujuh tahun. Meski demikian, infeksi juga dapat terjadi pada orang dewasa apabila tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
“Flu Singapura atau HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 5-7 tahun. Penyakit ini juga dapat menyerang orang dewasa apabila PHBS tidak diterapkan dengan baik,” jelas Ira.
Secara klinis, gejala yang kerap dialami penderita dimulai dari demam. Setelah itu, dapat muncul sariawan pada lidah, gusi, atau bagian dalam pipi, disertai ruam serta bintil kecil di sekitar mulut, telapak tangan, dan telapak kaki.
Mengenai waktu mulai timbul gejala setelah paparan, Ira menyebut masa inkubasi virus berkisar tiga sampai enam hari. Ia mengingatkan, kondisi tertentu pada anak perlu menjadi perhatian khusus karena bisa berhubungan dengan komplikasi.
“Masa inkubasi virus sekitar tiga hingga enam hari. Yang perlu diwaspadai apabila anak terlihat sangat lemas, mengalami kejang, sesak napas, atau tangan dan kaki terasa dingin karena bisa menjadi tanda komplikasi ensefalitis. Segera bawa ke IGD rumah sakit,” katanya.
Penularan HFMD terjadi melalui kontak langsung. Virus dapat menyebar lewat cairan hidung dan tenggorokan, air liur, cairan dari lepuhan, maupun feses penderita. Karena itu, penyakit ini mudah menular di lingkungan yang banyak melibatkan anak-anak, termasuk sekolah dan tempat penitipan anak.
Untuk mengendalikan penyebaran, Dinkes Sumsel mengimbau agar anak yang terinfeksi diistirahatkan di rumah selama 7–10 hari. Masa isolasi tersebut disarankan berlangsung sampai demam hilang dan bintil mengering, agar risiko penularan menurun.
Selain istirahat, orang tua juga diminta menerapkan langkah pencegahan harian di rumah. “Masyarakat juga diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun, membersihkan mainan dan benda yang sering disentuh, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala HFMD agar mendapat penanganan sedini mungkin,” ujarnya.
Dalam praktiknya, pembersihan tidak hanya ditujukan pada tubuh anak, tetapi juga pada benda-benda yang digunakan bersama atau sering disentuh. Langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dinilai penting untuk memutus rantai penularan, terutama pada anak yang sedang aktif berinteraksi.
Dengan peningkatan yang terus terjadi hingga pekan ke-23, Dinkes Sumsel mengingatkan keluarga untuk lebih waspada terhadap tanda awal HFMD. Bila gejala muncul, pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin dinilai membantu mencegah keadaan memburuk sekaligus mengurangi penularan ke lingkungan sekitar.
Sejumlah laporan daerah dengan angka kasus tinggi—mulai dari Palembang hingga PALI, Musi Banyuasin, Prabumulih, Lahat, Muara Enim, dan Lubuk Linggau—menjadi penanda bahwa kewaspadaan perlu dijaga secara konsisten. Upaya pencegahan melalui PHBS, kebersihan lingkungan anak, dan kesiapsiagaan membawa pasien ke fasilitas kesehatan merupakan kunci untuk menekan penyebaran.












