jurnalistik.co.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menyampaikan masih ada bagian masyarakat yang belum tersambung internet. Menurutnya, kendala itu tercermin dari sebaran sekitar 3.000 desa di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) di Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026), Meutya menekankan bahwa “Jadi kita masih ada PR Bapak, Ibu, 19 persen penduduk belum terhubung internet , kurang lebih 3.000 desa,” ujar dia.
Ia menggarisbawahi bahwa angka 19 persen tersebut menunjukkan adanya kesenjangan konektivitas yang masih perlu ditangani. Meutya menyebut kelompok yang belum terhubung itu tersebar di sekitar 3.000 desa.
Meski demikian, Meutya menilai tantangan tersebut masih dapat diatasi melalui kerja sama berbagai pihak. Ia juga menyampaikan perlunya upaya yang bersifat kolaboratif untuk mencapai pemerataan layanan digital.
Pemerintah, kata Meutya, terus mendorong pengembangan jaringan telekomunikasi. Fokusnya termasuk percepatan implementasi teknologi 5G melalui berbagai terobosan, salah satunya melalui lelang frekuensi.
Dalam konteks tersebut, Meutya menyatakan harapannya agar program-program yang didorong dapat terlaksana dan menjangkau wilayah yang masih tertinggal. “Ini juga mudah-mudahan bisa kita penuhi bersama,” ujar dia.
Di sisi lain, Meutya menyebut jumlah masyarakat Indonesia yang sudah terhubung ke internet saat ini mencapai sekitar 230 juta orang. Angka itu setara dengan lebih dari 81 persen total populasi, sehingga konektivitas nasional berada pada level yang relatif tinggi.
Ia menjelaskan bahwa tingginya tingkat konektivitas tersebut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Dengan semakin luasnya akses internet, aktivitas ekonomi berbasis teknologi dinilai turut bergerak.
Meutya merujuk pada laporan e-Conomy SEA 2025 untuk menggambarkan proyeksi nilai ekonomi digital. Berdasarkan laporan tersebut, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 99 miliar dollar AS pada 2025.
Untuk memperjelas posisi Indonesia dalam lanskap ekonomi digital kawasan, Meutya menyampaikan keterkaitan kontribusi tersebut dengan skala ASEAN. “Ini artinya sepertiga dari total ASEAN. Ini artinya bahwa Indonesia membantu membentuk ASEAN dan kalau dunia mengatakan bahwa ASEAN ini juga akan membentuk dunia,” imbuh dia.
Ia kemudian menegaskan bahwa peran Indonesia dalam ekonomi digital dinilai bukan sekadar wacana, melainkan tercermin dalam kontribusi nyata. “Maka peran Indonesia dalam membentuk ekonomi digital dunia riil dan nyata ya karena kita sudah berkontribusi dari sepertiga ekonomi digital ASEAN,” pungkasnya.
Pernyataan Meutya sekaligus menempatkan dua hal yang berjalan beriringan: perluasan konektivitas untuk menjangkau desa-desa yang belum terhubung, dan penguatan ekosistem digital yang didukung oleh tingginya akses internet. Dengan demikian, arah kebijakan yang disebutnya mencakup pemerataan jaringan maupun percepatan implementasi teknologi.
Dalam kerangka itu, pengembangan jaringan telekomunikasi dan percepatan 5G yang disebutkan—termasuk melalui lelang frekuensi—diposisikan sebagai langkah untuk menutup kesenjangan konektivitas. Sementara itu, capaian akses internet yang sudah melibatkan sekitar 230 juta orang menjadi dasar bagi dorongan pertumbuhan ekonomi digital yang diproyeksikan hingga 2025.
Menurut penjelasan Meutya, kesenjangan itu menggambarkan bahwa pemerataan layanan digital belum sepenuhnya merata hingga ke seluruh wilayah. Dengan adanya sekitar 19 persen penduduk yang masih belum terhubung, perhatian kebijakan dinilai perlu diarahkan pada penyelesaian keterisolasian area tersebut, termasuk wilayah yang disebut berjumlah kurang lebih 3.000 desa.
Di saat yang sama, pemerintah juga menilai capaian akses yang sudah tinggi menjadi pijakan untuk memperkuat ekonomi digital. Meutya menyebut sekitar 230 juta orang telah terhubung internet atau setara lebih dari 81 persen populasi, yang kemudian turut mendukung perkembangan aktivitas ekonomi berbasis teknologi. Ia juga mengutip proyeksi e-Conomy SEA 2025, di mana nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 99 miliar dollar AS pada 2025.
Meutya memandang bahwa tantangan konektivitas dan penguatan ekosistem digital perlu berjalan beriringan agar target pemerataan sekaligus transformasi layanan dapat tercapai. Dalam kerangka itu, langkah percepatan jaringan—termasuk implementasi 5G melalui lelang frekuensi—diposisikan sebagai upaya untuk menjembatani wilayah yang tertinggal, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi digital yang sudah mulai terlihat.










