jurnalistik.co.id – Rusia menunjukkan kecenderungan yang makin kuat untuk beralih ke uang tunai. Langkah itu muncul di tengah gangguan internet seluler yang ikut mengacaukan pembayaran kartu, sementara sejumlah pelaku usaha berupaya mengurangi tekanan pajak yang kian terasa.
Sejak awal tahun, peredaran uang tunai di Rusia bertambah 1,56 triliun rubel. Angka tersebut merupakan lonjakan terbesar untuk periode yang setara di tahun mana pun di luar masa pandemi Covid-19, menurut data Bank Sentral yang dianalisis BBC.
Perubahan ini terjadi ketika penarikan uang tunai meningkat berulang kali. Pada saat yang sama, banyak warga merasa perlu menyiapkan “cadangan” agar tetap bisa berbelanja meski akses layanan terganggu.
Lonjakan terbaru itu terkait dengan gelombang serangan drone dari Ukraina. Serangan tersebut berulang kali membuat Kremlin menutup internet seluler di wilayah yang luas, sehingga sejumlah warga kesulitan membayar menggunakan kartu.
Pemerintah menyatakan penutupan dilakukan untuk menghadang serangan drone. Dengan kondisi itu, pembayaran non-tunai menjadi tidak selalu dapat diandalkan, dan uang tunai dipilih sebagai jalan yang lebih pasti.
Salah satu perempuan di Moskow, yang berbicara kepada BBC dengan syarat anonim, mengatakan, “Having cash on hand gives you some sense of control and security.” Ia menambahkan, “If there’s an emergency in the city, I know I’ll still be able to buy basic necessities, even if the mobile network goes down.”
Langkah warga tersebut bukan tanpa preseden. BBC mencatat, selama masa perang, penarikan tunai juga sempat meningkat pada beberapa waktu sebelumnya.
Uang tunai sempat naik setelah Presiden Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial pada September 2022. Kenaikan serupa juga terlihat selama pemberontakan singkat kelompok milisi Wagner pada Juni 2023.
Kini, pergeseran ke uang tunai justru menimbulkan persoalan baru bagi negara. Pemerintah menghadapi tantangan yang makin besar untuk mengumpulkan pajak, tepat ketika defisit anggaran melebar dan Kremlin membutuhkan setiap rubel untuk membiayai perang di Ukraina.
Sektor minyak dan gas Rusia memang mendapat keuntungan dari kenaikan harga minyak yang dipicu perang Iran. Meski demikian, perlambatan ekonomi tetap meluas dan menguatkan kekhawatiran akan prospek pertumbuhan.
Pada Mei, kementerian ekonomi Rusia menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB 2026 menjadi 0,4%. Dengan revisi itu, Rusia diarahkan menuju pertumbuhan ekonomi terlemah sejak 2022.
Untuk meningkatkan pendapatan, Kremlin menaikkan tarif PPN dari 20% menjadi 22% pada Januari. Pemerintah juga menurunkan ambang batas yang membuat usaha kecil dan menengah harus membayar, sehingga banyak perusahaan yang sebelumnya sudah kesulitan makin terdorong.
Ketika margin usaha terjepit oleh pajak yang lebih tinggi dan ekonomi yang melambat, sejumlah sektor terlihat mengarahkan pelanggan untuk membayar tunai. Apotek, restoran, salon kecantikan, dan toko-toko kecil di sudut jalan disebut makin sering memilih skema ini agar pendapatan lebih sulit dilacak.
Berita Terkait
Seorang perempuan yang menjalankan toko pakaian kecil di pasar kota Pskov mengatakan, “Stalls at our market have been closing one after another because it’s no longer profitable to stay open.” Ia melanjutkan, “Most of those still trading ask customers to pay in cash whenever they can, so less money goes through the till.”
Di sisi lain, pengamat perbankan juga memperingatkan perubahan perilaku usaha. Taras Skvortsov, chief financial officer bank terbesar Rusia, Sberbank, mengatakan pekan lalu bahwa ada “very serious signs” bahwa lebih banyak bisnis membayar upah “in envelopes” di bawah meja.
Dalam komentar yang dikutip oleh kantor berita negara Interfax, Skvortsov menyatakan, “This is a very worrying moment… We are not seeing cash return to the banking system through cash collection, ATMs or self-service terminals.” Ia menambahkan, “It is staying in people’s hands”.
BBC juga merujuk survei dari asosiasi UMKM terbesar Rusia, Opora Russia. Dalam survei yang dilakukan pada Mei, sekitar 6% pengusaha mengatakan telah beralih ke “grey schemes” untuk menghadapi beban pajak baru.
Skema itu mencakup upaya menghindari bukti penjualan dari kasir (cash-register receipts). Pembayaran tunai membantu bisnis menekan angka omzet agar tetap berada di bawah ambang PPN, sementara pembayaran upah tunai disebut memudahkan penghindaran pajak penggajian.
Pengetatan terhadap ekonomi bayangan menjadi target penting Kremlin. Menjelang penerapan kenaikan PPN, Putin memperingatkan aturan baru jangan sampai mendorong perusahaan masuk ke “shadows”, dan menyerukan “a radical reduction in illegal employment”.
Alexander Kolyandr, non-resident senior fellow di Center for European Policy Analysis, menyampaikan pandangan kepada BBC. Ia mengatakan, “One arm of the government is trying to squeeze as much money as possible out of people through higher taxes, fines and other charges.”
Ia menambahkan, “But another, in trying to counter so-called terrorist threats, is undermining that strategy by making it harder to collect tax,” dengan merujuk pada penutupan internet seluler.
Kecenderungan warisan era Soviet untuk menyimpan uang “under the mattress” tampak kembali menguat. Hal ini terjadi meski imbal hasil simpanan bank bertahan pada level dua digit karena Bank Sentral berupaya menahan inflasi yang didorong situasi perang.
Sebagai contoh, deposito berjangka satu tahun senilai 100.000 rubel di Sberbank membayar bunga 10%. Namun, data Bank Sentral menunjukkan pada Mei warga menarik 550 miliar rubel dari rekening bank, termasuk 200 miliar rubel dari deposito berjangka.
Anton, seorang penulis naskah (copywriter) yang tinggal di Moskow, mengatakan ada pedagang di toko vinil yang menawarkan diskon bila ia membayar tunai. Ia menceritakan kepada BBC bahwa alasan tersebut terang-terangan terkait “higher taxes”.
Menurut Anton, ketika penutupan internet seluler semakin sering pada periode keamanan yang ditingkatkan menjelang perayaan Victory Day pada Mei, ia melihat orang-orang kesulitan menarik uang untuk berbelanja di pasar bunga di pusat Moskow.
Ia menggambarkan situasinya dengan mengatakan, “There was a woman going from one ATM to another, looking for one that still had banknotes.” Dalam gambaran itu, kebutuhan tunai menjadi kebutuhan praktis ketika perangkat pembayaran non-tunai tidak selalu bisa berfungsi.












