jurnalistik.co.id – Natalie Fleet mengumumkan bahwa ia mundur dari jabatan menteri safeguarding setelah menyatakan peran tersebut membuatnya merasa “overwhelmingly triggering”. Ia mengatakan keputusan itu diambil karena kondisi pekerjaannya berimbas langsung pada kesehatannya.
Politikus Partai Buruh (Labour) itu menyampaikan kepada BBC bahwa ia tidak lagi sanggup bertahan di posisi tersebut. Menurutnya, jabatan safeguarding membuat dirinya “making her ill”.
Fleet mengatakan ia telah menyampaikan kabar tersebut kepada tim perdana menteri baru, Andy Burnham, sambil menyatakan “sadly couldn’t stay” dalam pekerjaan itu. Dalam penuturannya, ia menggambarkan mundur dari peran tersebut sebagai langkah yang paling berani yang pernah ia ambil, dengan mengatakan itu “bravest thing I’ve ever done”.
Dalam unggahannya di platform media sosial X, Fleet menyebut pengunduran dirinya dengan nada reflektif. Ia menulis: “Honour of lifetime to be minister for safeguarding. Quickly found contents overwhelmingly triggering.” Ia juga menambahkan, “Victims deserve someone at their best.”
“Mendengar sisi paling gelap” membuatnya jatuh sakit
Fleet menjelaskan karakter pekerjaan menteri safeguarding berarti ia harus mendengarkan cerita-cerita yang mengandung unsur kekerasan dan penderitaan. Ia mengatakan, dalam perannya ia “you hear the worst of humanity”.
Menurut Fleet, pengalaman masa lalunya membuat proses mendengar kesaksian itu menjadi sangat berat. Ia mengatakan, “I understand what it is like not to be seen and not to be heard.”
Ia menyatakan ia memahami pentingnya pekerjaan tersebut sekaligus kebutuhan akan figur menteri yang kompeten. Ia mengatakan: “I know how important this job is and I know how much it needs a good and competent minister. It quickly became apparent how ill it was making me.”
Di tengah tugasnya, Fleet mengaku menerima dukungan dari Home Office. Namun ia tetap menilai sifat pekerjaan ini membuatnya tidak bisa beradaptasi dengan dampak emosionalnya.
Fleet mengatakan, “But even with that [support] the nature of the job means that you hear the worst of humanity.” Ia menambahkan, “Anybody would struggle hearing that but not everyone would react in the same way as someone who has gone through what I have.”
Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa jabatan ini semestinya dijalankan dengan kondisi mental yang benar-benar siap. “For me it is one of the most important jobs in government. It was the honour of my life to be able to do it.”
Dalam bagian lain, Fleet menilai tidak ada yang bisa menandingi rasa kehormatan ketika diminta memberi perubahan nyata bagi perempuan dan anak perempuan. Ia berkata, “Nothing can compare to being asked to make a difference to the lives of women and girls. It was incredible.”
Berita Terkait
Riwayat sebagai korban pelecehan dan pemerkosaan
Fleet, anggota parlemen yang terpilih di Bolsover, pernah berbicara terbuka mengenai pengalamannya sebagai remaja. Ia mengatakan ia adalah korban grooming dan pemerkosaan saat masih remaja.
Ia juga menyebut bahwa ia menjadi hamil pada usia 15 tahun setelah didekati dan diperkosa oleh seorang pria yang lebih tua. Dalam penuturannya, ia memiliki “weekly nightmares” terkait apa yang ia alami.
Fleet menyampaikan kepada penyiar, “I didn’t know we were having unprotected sex,” sebelum menambahkan, “I was a child and (it) is statutory rape.”
Ia mengatakan ia melahirkan putrinya dan menyebut anak tersebut sebagai “absolute love of my life”. Bagi Fleet, kisah itu menjadi latar mengapa ia menilai pekerjaan safeguarding tidak sekadar jabatan, melainkan misi yang harus dijalankan dengan serius.
Dalam pidato perdananya di Dewan Rakyat (House of Commons) pada Oktober 2024, Fleet menyatakan itu adalah “duty” untuk menyuarakan perempuan di konstituensinya di Derbyshire yang “whose stories are not being told”.
Jalur jabatan dan rencana setelah mundur
Fleet dipilih sebagai anggota parlemen Bolsover pada Juli 2024, menggantikan Dennis Skinner yang lebih senior di Partai Buruh. Ia kemudian ditunjuk sebagai menteri safeguarding pada 12 Mei tahun ini.
Penunjukannya terjadi setelah pengunduran diri Jess Phillips. Phillips sebelumnya menyatakan bahwa kesempatan untuk kemajuan telah “stalled and delayed” di bawah kepemimpinan perdana menteri saat itu, Sir Keir Starmer.
Menjelang perubahan susunan kabinet, Burnham diketahui belum mengumumkan seluruh penunjukan menteri. Saat ditanya apakah Fleet ingin mendapatkan jabatan pemerintahan lain, ia menjawab dengan nada tetap mengutamakan pelayanan.
Fleet berkata, “Of course it is always an honour to serve and I would love to [be given another government job].” Namun ia menambahkan, “But not everyone can and I will do anything I can to support the government.”
Ia juga menyatakan bahwa bila tidak ditunjuk menjadi menteri dalam pemerintahan Burnham, ia akan kembali ke bangku backbenches Partai Buruh. Menurut Fleet, jalur itu akan membantunya tetap aktif berkampanye dan memberi suara kepada para penyintas.
Fleet menjelaskan pilihannya dengan kalimat, “That way I can continue to campaign and give a voice to survivors and continue to make a difference with them.” Ia menutup dengan pernyataan yang menekankan batas kemampuannya sendiri: “But I can’t be the one who leads that, which is really sad but I have to practice what I preach and look after myself.”












