Pendidikan

Pakar Ungkap Cara Cegah Kasus Riset Bodong Terulang

0
×

Pakar Ungkap Cara Cegah Kasus Riset Bodong Terulang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pakar Beberkan Cara Cegah Kasus Riset Bodong Terulang - Gaya Hidup

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Epidemiolog Dicky Budiman menilai dugaan riset bodong yang menyeret nama peneliti asal Indonesia harus menjadi momentum pembenahan budaya akademik nasional. Menurut dia, kasus seperti ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan sesaat, melainkan sebagai sinyal bahwa pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh agar praktik manipulasi penelitian tidak kembali terulang.

Dicky menekankan bahwa pembenahan itu tidak cukup dilakukan di hilir, saat seseorang sudah masuk ke dunia riset atau menempuh jenjang akademik yang lebih tinggi. Ia menilai pendidikan mengenai integritas ilmiah harus diberikan sejak dini, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, agar pemahaman dasar tentang etika penelitian tumbuh lebih kuat sejak awal.

Dalam pandangannya, pemahaman soal etika penelitian, integritas data, dan bahaya plagiarisme tidak bisa ditunda sampai seseorang benar-benar menyandang status peneliti. Karena itu, ia menilai dunia pendidikan perlu menanamkan kebiasaan akademik yang sehat sejak awal proses belajar. Dengan begitu, integritas tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi bagian dari cara berpikir dan bekerja di lingkungan ilmiah.

Pendidikan integritas sejak awal

Dicky menegaskan pentingnya pendidikan integritas ilmiah sejak awal. Ia menyebut, persoalan plagiarisme, etika penelitian, sampai penggunaan AI yang etis harus diajarkan dari awal, bukan baru dibahas ketika masalah sudah muncul atau ketika pelanggaran sudah terjadi. Menurut dia, pencegahan akan jauh lebih efektif bila fondasi etik dibangun lebih dini dan terus dipraktikkan dalam proses akademik.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia akademik. Bagi Dicky, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran peneliti dalam menghasilkan karya ilmiah. Pandangan ini menempatkan manusia tetap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas arah, mutu, dan keabsahan penelitian.

Karena itu, setiap penggunaan AI dalam penelitian, menurut dia, perlu disertai disclosure atau keterbukaan mengenai sejauh mana teknologi tersebut digunakan. Keterbukaan ini penting agar proses ilmiah tetap bisa ditelusuri dan dinilai secara jujur oleh pihak lain. Tanpa disclosure yang jelas, penggunaan teknologi berisiko menimbulkan kabut baru dalam proses akademik yang seharusnya transparan.

Dicky juga menegaskan bahwa hasil kerja AI tidak boleh diterima begitu saja. Semua keluaran teknologi itu tetap harus diverifikasi manusia untuk memastikan validitas data dan analisis. Dengan cara tersebut, AI bisa tetap memberi manfaat sebagai pendukung kerja ilmiah tanpa mengaburkan tanggung jawab peneliti atas isi dan kualitas penelitian yang dihasilkan.

Pesan yang disampaikan Dicky pada dasarnya menempatkan integritas akademik sebagai fondasi utama. Jika budaya akademik ingin lebih sehat, maka etika, keterbukaan, dan verifikasi manusia harus berjalan bersamaan. Ia memandang kasus dugaan riset bodong ini sebagai peringatan bahwa sistem pendidikan dan penelitian perlu lebih peka terhadap potensi penyimpangan sejak awal, sehingga kepercayaan terhadap dunia akademik tetap terjaga.

Ia menilai pembenahan budaya akademik tidak bisa dibebankan hanya kepada individu yang menulis riset. Kampus, sekolah, dan lingkungan ilmiah juga perlu membangun pengawasan yang konsisten agar standar etika tidak hanya muncul di atas kertas. Bila pembinaan semacam ini dilakukan secara berkelanjutan, ruang untuk praktik curang dapat dipersempit sejak awal, bukan setelah reputasi akademik terlanjur tercoreng.

Menurut Dicky, kasus dugaan riset bodong semestinya dibaca sebagai pengingat bahwa kualitas dunia akademik sangat bergantung pada disiplin menjaga kejujuran ilmiah. Karena itu, ia mendorong agar pembahasan soal etika penelitian tidak berhenti pada seruan moral, melainkan hadir sebagai kebiasaan kerja yang nyata dalam setiap tahapan belajar dan meneliti. Dengan cara tersebut, integritas tidak hanya menjadi ideal yang dikutip, tetapi benar-benar menjadi prinsip yang dijaga bersama.