Olahraga

Pejabat Piala Dunia Bantah Favoritisme: Tidak Ada Pilih Kasih

×

Pejabat Piala Dunia Bantah Favoritisme: Tidak Ada Pilih Kasih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: I've been a World Cup official - I promise you there is no favouritism

jurnalistik.co.id – Darren Cann, yang pernah menjadi asisten wasit pada Piala Dunia 2010 dan 2014, menegaskan bahwa tuduhan favoritisme dalam Piala Dunia “tidak ada pilih kasih” dan menyebut teori konspirasi itu sebagai omong kosong.

Dalam wawancara dengan BBC Sport bersama Dale Johnson, Cann menanggapi anggapan bahwa FIFA menginginkan Argentina—termasuk Lionel Messi—untuk meraih gelar, sementara para ofisial disebut bekerja “di balik layar”.

“I’ve been a World Cup official – I promise you there is no favouritism,” kata Cann, menekankan bahwa keputusan wasit tidak diarahkan untuk menghasilkan hasil yang sudah ditentukan.

Cann menjelaskan struktur kerja tim ofisial: ia berpengalaman di Piala Dunia 2010 dan 2014 sebagai asisten wasit, tergabung dalam tim yang melibatkan wasit utama Howard Webb, sementara pada sisi lainnya ada Michael Mullarkey yang memimpin garis.

Menurutnya, para petugas pertandingan menjalankan tugas secara independen. Para wasit berasal dari berbagai negara dan asosiasi sepak bola, dari konfederasi yang terpisah, lalu FIFA “meminjam” layanan mereka selama enam minggu, dengan pelatihan yang berlangsung di kamp terpisah dari institusi FIFA.

Ia juga membantah skenario pertemuan rahasia eksekutif FIFA dengan para wasit. Cann menuturkan aktivitas harian wasit bukanlah rapat tertutup, melainkan rutinitas penuh: latihan fisik, menonton klip, serta sesi evaluasi pertandingan hari sebelumnya.

“Kami pada dasarnya bekerja setiap hari,” ujar Cann dengan nada tegas. Setelah satu penugasan selesai, persiapan langsung berlanjut untuk tugas berikutnya, sehingga ia menolak gagasan adanya “masterplan” yang membimbing setiap keputusan di lapangan.

Terkait rumor bahwa FIFA ingin partai final Argentina vs Spanyol untuk menjadi simbol “estafet” Messi dan Lamine Yamal, Cann menyatakan ia sendiri tidak mengetahui bahkan ada foto Messi dengan Lamine Yamal ketika keduanya masih kecil. Ia menilai, besar kemungkinan banyak wasit lain di Piala Dunia ini juga tidak memiliki informasi semacam itu.

Cann mengakui bahwa kesalahan bisa terjadi karena sepak bola dimainkan oleh manusia dan ritmenya sangat cepat. Namun, ia menegaskan bahwa wasit tidak digerakkan untuk menekan tim tertentu, dan keputusan tidak dibuat berdasarkan nama yang tertera di punggung pemain.

Ia memberi contoh pengalamannya memimpin pertandingan di Liga Champions beberapa tahun lalu: saat Barcelona menjamu Bayern Munich, Messi jatuh di kotak penalti tetapi tidak diberikan penalti. Setelah kembali ke Inggris, ia dan tim meninjau pertandingan beserta rekaman sebagaimana dilakukan setiap kali usai pertandingan; dari perspektif kemudian, mungkin penalti itu seharusnya diberikan, tetapi keputusan pada saat itu tetap dipandang jujur dan dibuat sesuai penilaian yang tersedia.

Cann menekankan inti tugas wasit adalah menilai pelanggaran: apakah pemain benar-benar dilanggar. Ia juga mengatakan kerap tidak ada waktu untuk memeriksa siapa pemain yang terlibat, karena yang terlihat hanya konteks umum—misalnya pertemuan baju merah dan baju biru—ketimbang detail identitas individu.

Tantangan ancaman dan pentingnya integritas

Di bagian lain, Cann menyinggung bagaimana teori konspirasi dan tuduhan bias tidak hanya menimbulkan tekanan, tetapi juga bisa memicu kerusakan nyata, termasuk pelecehan. Ia menunjuk contoh Pierluigi Collina—yang mengawasi seluruh wasit di Piala Dunia—ketika Collina harus membela integritas wasit setelah kemenangan Argentina atas Mesir 3-2 pada babak 16 besar.

Collina menanggapi kritik terhadap wasit Prancis Francois Letexier. Mesir menuduh Letexier dan timnya sengaja memihak Argentina, seolah ada instruksi untuk melawan insting mereka sendiri, dan Cann menilai narasi seperti itu berpotensi mendorong ancaman terhadap keluarga wasit.

Cann mengaku ia beruntung tidak mengalami ancaman secara langsung, dan ia menduga ini juga karena posisinya sebagai asisten wasit—bukan wasit utama. Namun ia menyatakan pernah melihat dampak yang sama di lingkungan sepak bola.

Ia lalu mengingat Piala Dunia 2010, ketika ia menjadi bagian dari tim ofisial pada final Spanyol vs Belanda yang berakhir 1-0 untuk Spanyol. Pertandingan tersebut dinilai sangat menantang, dengan 14 kartu kuning, pengusiran terhadap bek Belanda Johnny Heitinga, serta kemungkinan kartu merah juga bagi Nigel de Jong; Cann menyebut pelatih Belanda Bert van Marwijk sempat menuai kritik setelah pertandingan.

Cann juga menyinggung bahwa di Piala Dunia ini, wasit Inggris Michael Oliver dan Anthony Taylor pernah menerima ancaman pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menegaskan situasi itu sama sekali tidak dapat diterima, dan bahwa bisikan yang tak berdasar dapat memperbesar tekanan pada ofisial.

Dalam konteks pendukung tim, Cann menyatakan ia mendukung Inggris dan menyukai Inggris, meski timnya tersingkir oleh Argentina. Ia menilai wasit pada laga tersebut sedikit terlalu longgar pada 25 menit awal, tetapi menurutnya tidak masuk akal menyimpulkan hasil turnamen ditentukan oleh satu keputusan wasit saja.

Ia menggarisbawahi bahwa kekeliruan di lapangan memang ada, namun tidak berarti semuanya menyatu menjadi konspirasi. Ia menyebut beberapa contoh fase grup: gol Jerman vs Ekuador yang semestinya dianulir karena pelanggaran tinggi (high foot), kemungkinan pemberian penalti untuk Ghana terhadap Inggris akibat tekel yang terlambat oleh Ezri Konsa, serta gol Brasil melawan Skotlandia yang seharusnya tetap berdiri tetapi akhirnya dianulir.

Cann menilai total 103 pertandingan yang sudah berlangsung menjelaskan kenapa error bisa muncul—sebanding dengan sekitar 10 putaran Liga Primer. Dari situ, ia menegaskan peluang satu pun hasil tanpa kesalahan nyaris mustahil ketika banyak laga berlangsung dalam waktu cepat.

Akhirnya, Cann menyebut wasit Slovenia Slavko Vincic akan memimpin final pada Minggu. Ia mengatakan reaksi emosional Vincic terlihat ketika nama itu dibacakan Collina pada briefing wasit beberapa waktu lalu, dan ia yakin Vincic tidak memedulikan siapa yang menang—yang ia cari hanyalah keputusan yang benar agar pertandingan selesai tanpa keputusan keliru yang memengaruhi hasil.

Dengan tegas Cann menyimpulkan bahwa teori konspirasi itu keliru, dan fokus yang tersisa bagi wasit hanyalah memastikan setiap keputusan tepat. Cann menutup dengan keterangan bahwa ia menyampaikan penjelasan tersebut dalam percakapannya dengan BBC Sport melalui Dale Johnson.