jurnalistik.co.id – Tradisi toron atau mudik ke Pulau Madura menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah masih menjadi momen penting bagi masyarakat Madura yang merantau di Surabaya dan sekitarnya. Meski harus menghadapi kemacetan panjang di akses Jembatan Suramadu, banyak warga tetap memilih pulang kampung demi berkumpul bersama keluarga besar saat Idul Adha.
Arus kendaraan menuju Madura mulai padat sejak sore hari. Antrean kendaraan bahkan mengular dari kawasan Jalan Kedung Cowek menuju pintu masuk Jembatan Suramadu, memperlihatkan padatnya mobilitas warga yang hendak menyeberang ke pulau asal mereka.
Menabung jauh-jauh hari untuk bisa toron
Bagi sebagian warga Madura, toron bukan sekadar perjalanan mudik biasa. Perjalanan itu menjadi cara untuk kembali ke kampung halaman, bertemu keluarga, dan menjalani hari raya bersama orang-orang terdekat yang selama ini ditinggalkan karena merantau.
Dian Utami (32), warga Desa Banjar, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, mengaku sudah menyiapkan biaya mudik sejak jauh hari agar bisa pulang saat Idul Adha. Perempuan yang kini tinggal di kawasan Simo, Surabaya, itu mengatakan persiapan mudik dilakukan jauh-jauh hari, termasuk menyisihkan uang untuk kebutuhan selama perayaan Idul Adha di kampung halaman.
“Persiapan mudik telah dilakukan jauh-jauh hari, termasuk menyisihkan uang untuk kebutuhan selama perayaan Idul Adha di kampung halaman,” ujar Dian, dikutip dari Surya.co.id, Selasa (26/5/2026).
Menurut Dian, kondisi ekonomi menjadi salah satu pertimbangan utama untuk mengikuti tradisi toron setiap tahun. Karena itu, uang yang dikumpulkan tidak hanya dipakai untuk perjalanan pulang, tetapi juga untuk kebutuhan selama berkumpul bersama keluarga di kampung.
“Uang yang dikumpulkan nanti biasanya ada bancaan atau kumpul keluarga,” katanya.
Bagi Dian, menabung lebih dulu membuat dirinya tetap bisa pulang tanpa mengganggu kebutuhan lain. Di tengah rutinitas hidup di Surabaya, toron menjadi agenda yang dipersiapkan dengan cermat agar momen Idul Adha tetap bisa dijalani bersama keluarga besar di Bangkalan.
Idul Adha jadi waktu terbaik untuk pulang bersama keluarga
Hal serupa disampaikan Susi (37), warga Burneh, Bangkalan, yang menyebut Idul Adha sebagai salah satu momen penting untuk pulang ke Madura. Meski jarak Surabaya dan Madura relatif dekat, ia mengaku tidak selalu mudik setiap waktu. Namun saat Idul Adha, dirinya memilih pulang bersama keluarga.
“Kebetulan sekarang Idul Adha jadi pulang full bersama keluarga,” ujar Susi.
Susi berangkat dari Surabaya sekitar pukul 15.00 WIB bersama suami dan dua anaknya menuju Bangkalan. Pada awal perjalanan, kondisi lalu lintas menurut dia masih relatif lengang. Namun sekitar 30 menit kemudian, arus kendaraan mulai padat menuju Suramadu.
Situasi itu menjadi bagian dari pengalaman banyak pemudik yang memilih tetap toron meski harus menempuh perjalanan lebih lama dari biasanya. Kepadatan di jalur menuju Suramadu tidak menyurutkan niat mereka untuk merayakan Idul Adha di kampung halaman bersama keluarga besar.
Di tengah antrean kendaraan dan padatnya akses menuju jembatan, toron tetap menjadi tradisi yang dijaga. Bagi warga Madura yang merantau di Surabaya dan sekitarnya, momentum Idul Adha tidak hanya soal hari raya, tetapi juga soal pulang, berkumpul, dan menjaga ikatan keluarga di kampung halaman.
Kisah Dian dan Susi memperlihatkan bagaimana tradisi toron masih memiliki tempat penting dalam kehidupan perantau Madura. Meski harus menyisihkan uang sejak jauh hari dan bersiap menghadapi macet panjang di Suramadu, keduanya tetap memilih pulang demi keluarga.
Bagi mereka, perjalanan itu bukan beban yang menghalangi, melainkan bagian dari upaya menjaga kebiasaan yang sudah berlangsung turun-temurun. Selama keluarga masih menunggu di kampung halaman, toron tetap menjadi pilihan yang layak ditempuh, apa pun kondisi jalan yang harus dihadapi.












