Bisnis & Ekonomi

Pengolahan Limbah Kepala Ikan Tongkol Turunkan Sampah Organik hingga Jutaan Ton

0
×

Pengolahan Limbah Kepala Ikan Tongkol Turunkan Sampah Organik hingga Jutaan Ton

Sebarkan artikel ini
Pengolahan Limbah Kepala Ikan Tongkol Bisa Kurangi Sampah Organik hingga Jutaan Ton News 16 Juni 2026
Ilustrasi: Pengolahan Limbah Kepala Ikan Tongkol Bisa Kurangi Sampah Organik hingga Jutaan Ton

jurnalistik.co.id – Limbah kepala ikan tongkol yang sebelumnya hanya disukai kucing kini diolah menjadi bahan bernilai ekonomi oleh sejumlah warga di Jakarta Utara. Praktik tersebut disebut berpotensi mengurangi sampah organik hingga jutaan ton sekaligus menekan beban pencemaran dari limbah yang mudah membusuk.

Di Jalan Pengasinan, Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Kohir (45) memilih mengolah limbah kepala ikan tongkol menjadi bahan baku pakan ternak. Olahan itu kemudian dikirim ke Pabrik di Jawa Timur.

Limbah kepala ikan tongkol didapatkan dari para pedagang di sejumlah pasar tradisional. Kohir menyebut sumbernya berasal dari pasar Tanjung Priok, Cilincing, Kramat Jati, dan Ciracas.

Dari limbah pasar menjadi input produksi

Pemilihan bahan baku dari limpahan pasar membuat proses pengolahan berjalan bertumpu pada ketersediaan limbah harian. Kepala ikan tongkol yang umumnya tidak lagi dimanfaatkan, justru diubah menjadi bahan baku pakan ternak yang memiliki nilai guna dan potensi pendapatan bagi warga pengolah.

Dalam praktiknya, warga mengumpulkan kepala ikan tongkol, lalu mengolahnya hingga menjadi bahan yang siap dikirim. Kohir menjelaskan bahwa hasil olahan tersebut akan dikirim ke pabrik di Jawa Timur, sehingga rantai pemanfaatannya tidak berhenti pada tahap pengumpulan.

Dampak lingkungan jika tidak diolah

Menurut pakar lingkungan dari Universitas Sebelas Maret, Profesor Prabang Setyono, Indonesia termasuk salah satu produsen perikanan terbesar di dunia. Produksi perikanan tangkap dan budidaya nasional Indonesia disebut mencapai puluhan juta ton per tahun.

Dalam industri pengolahan ikan, Profesor Prabang menilai ada porsi limbah padat yang dapat menjadi masalah lingkungan bila tidak ditangani. Ia mengatakan, “Pada industri pengolahan ikan, sekitar 30 hingga 60 persen berat ikan dapat menjadi limbah padat, tergantung jenis produk yang dihasilkan,”

Pada industri fillet, pengalengan, serta pengolahan tongkol cakalang dan tuna, limbah yang dihasilkan meliputi kepala ikan, tulang, kulit, sirip, jeroan, dan darah. Khusus untuk kepala ikan tongkol, proporsinya dapat mencapai 15 hingga 25 persen dari berat total ikan.

Dari perhitungan tersebut, Profesor Prabang menyebut bahwa satu ton tongkol yang diolah dapat menghasilkan sekitar 150 hingga 250 kilogram limbah kepala ikan. Jika limbah tersebut tidak dimanfaatkan, ia akan menjadi beban lingkungan yang besar karena bersifat mudah membusuk.

Secara lingkungan, limbah kepala ikan termasuk kategori biodegradable organic waste dengan kandungan protein dan lemak tinggi yang berpotensi mencemari lingkungan apabila dibuang tanpa pengolahan. Profesor Prabang menyebut limbah kepala ikan memiliki kandungan protein sekitar 40 hingga 60 persen, lemak lima hingga 20 persen, serta nitrogen organik dan fosfor yang tinggi.

Ia menambahkan, pembuangan tanpa pengolahan yang baik dapat memicu dekomposisi biologis dan menghasilkan dampak terhadap lingkungan. Profesor Prabang menjelaskan, “Mulai dari pencemaran air, karena dapat meningkatkan BOD ( Biochemical Oxygen Demand ), COD ( Chemical Oxygen Demand ) akibatnya oksigen terlarut ( DO ) turun, yang dapat menyebabkan kematian biota air dan eutrofikasi,”

Dengan demikian, pengolahan kepala ikan tongkol yang dilakukan warga tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga menjadi langkah mengurangi potensi dampak pencemaran yang muncul dari limbah organik yang mudah terurai.

Di Kalibaru, Kohir menyesuaikan pengolahan dengan ketersediaan limbah dari pedagang yang datang dari beberapa titik pasar. Kepala ikan tongkol dikumpulkan dari pasar Tanjung Priok, Cilincing, Kramat Jati, dan Ciracas, lalu diproses menjadi bahan baku yang siap diteruskan. Dengan pola seperti itu, pemanfaatan tidak hanya berhenti pada aktivitas mengumpulkan, tetapi berlanjut sampai ke tahap pengiriman ke pabrik di Jawa Timur.

Dalam penilaian Profesor Prabang Setyono, industri pengolahan ikan pada umumnya menyisakan porsi limbah padat dalam jumlah besar, yakni sekitar 30 hingga 60 persen dari berat ikan. Limbah tersebut mencakup kepala ikan, tulang, kulit, sirip, jeroan, serta darah. Untuk jenis tongkol, proporsi limbah kepala ikan dapat mencapai 15 hingga 25 persen dari berat total, sehingga jumlahnya berpotensi menjadi beban bila tidak dikelola.

Profesor Prabang juga menekankan bahwa limbah kepala ikan termasuk biodegradable organic waste dengan kandungan protein dan lemak tinggi. Bila dibuang tanpa penanganan, dekomposisi biologis dapat memicu pencemaran air karena peningkatan BOD dan COD, yang berujung pada penurunan oksigen terlarut (DO). Kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian biota air serta memicu eutrofikasi, sehingga pengolahan oleh warga membantu menekan risiko dampak pencemaran dari limbah organik yang mudah membusuk.