jurnalistik.co.id – BEIJING — Reli di pasar aluminium global berpotensi memicu arus keluar rekor dari China, di saat harga yang tinggi justru membatasi konsumsi di dalam negeri. Kondisi itu membuat logam industri tersebut semakin mengalir ke pasar luar negeri ketika permintaan internasional tengah menguat.
Di London Metal Exchange (LME), aluminium diperdagangkan pada premi paling tajam terhadap harga berjangka Shanghai sejak Maret 2022. Selisih harga itu menguat setelah perang di Timur Tengah mencekik pasokan dari wilayah penghasil utama dan menciptakan defisit di pasar internasional.
Pergerakan harga tersebut menjadi sinyal bahwa pasar global sedang memberi insentif lebih besar bagi pengiriman aluminium keluar dari China. Di sisi lain, harga yang tinggi di dalam negeri membuat konsumsi domestik tidak bergerak secepat kenaikan harga global, sehingga ruang untuk penyerapan di pasar lokal menjadi lebih terbatas.
Ekspor aluminium China sendiri tercatat naik 15% pada April menjadi 598.000 ton. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak November 2024, menandakan arus ekspor sudah bergerak lebih kuat bahkan sebelum proyeksi lonjakan berikutnya muncul.
Menurut Zhu Liangmin, analis dari perusahaan riset Beijing Aladdiny Zhongying Business Consulting Co, ekspor tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai rekor lebih dari 680.000 ton dalam beberapa bulan mendatang. Proyeksi itu menempatkan China pada jalur yang berpotensi mencatat pengiriman aluminium jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Lonjakan ekspor itu tidak lepas dari perbandingan harga antara pasar London dan Shanghai yang makin menguntungkan pengiriman ke luar negeri. Ketika premium di LME melebar, produsen dan eksportir cenderung memperoleh insentif yang lebih besar untuk mengarahkan pasokan ke pasar internasional.
Situasi ini juga menggambarkan bagaimana pasar aluminium global dan pasar domestik China bergerak dalam dua tekanan yang berbeda. Pasar internasional menghadapi keketatan pasokan, sementara pasar domestik justru dibatasi oleh harga yang tinggi, sehingga aliran barang cenderung mencari jalur yang menawarkan nilai lebih besar.
Di tengah kondisi tersebut, pasar aluminium menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif terhadap gangguan pasokan dari wilayah penghasil utama. Ketika pasokan di luar China terganggu, harga di bursa internasional bergerak lebih tinggi dan memperlebar jarak dengan Shanghai, lalu memperkuat prospek ekspor dari China.
Dengan ekspor yang sudah naik pada April dan proyeksi yang mengarah ke level lebih tinggi lagi, pasar kini menyoroti seberapa jauh lonjakan itu bisa berlanjut. Selama harga tinggi masih menahan konsumsi domestik dan pasar global tetap kekurangan pasokan, aluminium China berpeluang terus mendapat dorongan untuk mengalir keluar dalam volume yang lebih besar.
Dalam kondisi seperti ini, arus perdagangan aluminium tampak semakin dipandu oleh kalkulasi harga ketimbang pola konsumsi biasa. Selama pasar luar negeri masih menawarkan selisih yang lebih menarik dibandingkan Shanghai, eksportir memiliki alasan yang kuat untuk memindahkan lebih banyak pasokan ke jalur ekspor. Itu membuat pergerakan komoditas ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh produksi, melainkan juga oleh seberapa besar peluang margin yang muncul di pasar internasional.
Bagi pasar domestik China, situasi tersebut berarti tekanan harga tinggi bisa terus menjadi penghambat utama. Ketika konsumen dan pelaku industri menahan pembelian karena biaya yang mahal, stok yang tersedia di dalam negeri tidak terserap secepat biasanya. Akibatnya, pasokan yang tidak menemukan ruang cukup besar di pasar lokal cenderung mencari outlet lain, dan ekspor menjadi saluran yang paling logis untuk menjaga arus barang tetap bergerak.
Ke depan, arah pergerakan aluminium akan sangat bergantung pada apakah premi di LME tetap bertahan dan apakah kondisi pasokan global masih ketat. Jika kedua faktor itu tidak berubah, ekspor China berpotensi tetap kuat dan bahkan bisa melampaui pola normalnya. Dalam skenario seperti itu, pasar akan terus memantau apakah lonjakan pengiriman ini hanya respons jangka pendek terhadap selisih harga, atau menjadi tren yang lebih panjang selama ketidakseimbangan pasokan internasional belum mereda.












