jurnalistik.co.id – JAKARTA — Nilai tukar rupiah terus mencatatkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada sesi perdagangan siang ini, Selasa (26/5/2026) pukul 12:56 WIB, mata uang Ibu Pertiwi terdepresiasi 0,27% ke Rp17.791/US$.
Tekanan terhadap rupiah itu terjadi di tengah berbagai upaya bank sentral yang sudah melakukan intervensi, termasuk menaikkan suku bunga BI hingga 50 basis poin menjadi 5,25%. Namun, menurut Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, inti permasalahan rupiah saat ini tidak hanya ditentukan oleh suku bunga.
Josua menilai, suku bunga memang menjadi salah satu instrumen untuk menahan jatuhnya mata uang garuda. Tetapi, pelemahan rupiah kali ini datang dari banyak arah dalam waktu bersamaan.
“Tekanan rupiah lebih kuat karena sumber tekanannya datang bersamaan dari harga minyak tinggi, dolar AS yang masih kuat, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, kebutuhan dolar domestik, arus modal yang mudah keluar, serta kekhawatiran pasar terhadap fiskal dan arah kebijakan,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Rabu, 27 Mei 2026.
Menurut Josua, faktor pertama yang paling mendasar adalah tekanan global, khususnya konflik Timur Tengah dan harga energi. Situasi itu membuat pasar tetap memperhitungkan risiko yang datang dari luar negeri sebagai salah satu pemberat utama bagi rupiah.
Ia menyebut penutupan Selat Hormuz masih membuat distribusi energi global belum sepenuhnya normal. Kondisi ini ikut menjaga harga minyak tetap tinggi dan volatil, sehingga tekanan di pasar keuangan global belum mereda.
Di saat yang sama, dolar AS masih kuat. Imbal hasil obligasi AS juga masih tinggi, sehingga tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tetap terasa.
Josua juga menyoroti kebutuhan dolar domestik yang masih besar. Selain itu, arus modal disebut mudah keluar, sehingga ruang pergerakan rupiah menjadi makin sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
Faktor lain yang ikut menambah tekanan adalah kekhawatiran pasar terhadap fiskal dan arah kebijakan. Menurut Josua, dua hal ini membuat pasar tidak hanya melihat suku bunga, tetapi juga membaca keseluruhan kombinasi risiko yang sedang membayangi rupiah.
Karena itu, pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dibaca hanya dari kebijakan suku bunga semata. Meski BI telah menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi, tekanan yang datang bersamaan dari pasar global, energi, dolar AS, obligasi AS, kebutuhan dolar domestik, arus modal, serta kekhawatiran fiskal dan kebijakan membuat pemulihan rupiah tetap menghadapi tantangan yang berlapis.
Dengan kondisi seperti ini, rupiah masih bergerak dalam tekanan yang kompleks. Bagi pasar, arah mata uang garuda dalam waktu dekat tetap akan sangat dipengaruhi oleh seberapa cepat tekanan eksternal dan domestik itu mereda secara bersamaan.
Dalam situasi seperti ini, ruang penguatan rupiah tampak masih terbatas selama tekanan dari luar negeri belum benar-benar turun. Pasar cenderung tetap berhati-hati karena kombinasi faktor eksternal dan domestik datang hampir bersamaan, sehingga satu kebijakan saja belum cukup untuk mengubah sentimen secara cepat. Itulah sebabnya, walaupun ada respons dari bank sentral, pasar masih menimbang apakah dorongan itu mampu meredam tekanan yang muncul dari banyak sisi sekaligus.
Josua pada dasarnya menilai pasar sedang membaca risiko secara menyeluruh, bukan hanya melihat level suku bunga terbaru. Selama harga energi, kekuatan dolar AS, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan kebutuhan dolar di dalam negeri masih tinggi, rupiah akan tetap mudah bergerak dalam tekanan. Karena itu, pemulihan mata uang garuda kemungkinan membutuhkan perbaikan yang lebih merata, baik dari sisi global maupun dari kejelasan kebijakan di dalam negeri.
Dengan demikian, pelemahan rupiah bukan semata-mata soal kurangnya respons moneter, melainkan karena tekanan yang datang secara serempak dan saling menguatkan. Selama kondisi tersebut belum mereda, pelaku pasar kemungkinan masih akan bersikap defensif, sementara rupiah terus sensitif terhadap setiap perubahan sentimen yang muncul di pasar global maupun domestik.












