jurnalistik.co.id – Stimulus ekonomi yang disiapkan pemerintah pada semester II-2026 dinilai masih bisa membantu menjaga konsumsi dan aktivitas usaha, tetapi efeknya disebut hanya akan terasa dalam jangka pendek jika tekanan terhadap rupiah tidak mereda dan kondisi global justru memburuk.
Guru Besar Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai paket stimulus seperti diskon transportasi, insentif pajak, dan program vokasi memang memberi ruang bagi masyarakat dan dunia usaha untuk bernapas. Namun, menurut dia, kekuatannya tetap terbatas bila nilai tukar rupiah terus tertekan.
“Stimulus semester II-2026 seperti diskon transportasi, insentif pajak, dan program vokasi dapat membantu menjaga konsumsi, tetapi kekuatannya terbatas jika rupiah terus melemah dan tekanan global meningkat,” ujar Syafruddin kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, diskon transportasi bisa mendorong mobilitas dan pada akhirnya memicu belanja masyarakat dalam waktu dekat. Insentif pajak juga dapat memberi ruang napas bagi rumah tangga maupun pelaku usaha yang tengah menghadapi tekanan biaya. Sementara itu, program vokasi dinilai penting karena dapat memperbaiki kualitas tenaga kerja, meski manfaatnya tidak akan langsung terlihat dalam waktu singkat.
Ancaman utama dari rupiah yang terus melemah
Di sisi lain, Syafruddin mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tetap menjadi risiko terbesar. Tekanan pada mata uang nasional dapat mendorong kenaikan biaya impor, energi, bahan baku, hingga ekspektasi kenaikan harga di tengah masyarakat.
“Stimulus konsumsi tidak akan cukup jika biaya produksi naik dan investor menahan ekspansi,” kata dia.
Menurut Syafruddin, karena itu pemerintah perlu lebih banyak mengarahkan stimulus ke sektor produktif. Ia menyebut sektor pangan, energi, UMKM, dan kegiatan yang cepat menyerap tenaga kerja sebagai bidang yang seharusnya mendapat perhatian lebih besar. Dengan begitu, stimulus tidak hanya mendorong belanja sesaat, tetapi juga ikut memperkuat fondasi ekonomi.
Bansos dan insentif pajak hanya penahan sementara
Selain stimulus ekonomi, pemerintah juga menggulirkan bantuan sosial dan insentif pajak untuk menjaga daya beli masyarakat. Meski begitu, Syafruddin menilai efektivitas kebijakan tersebut akan menurun jika tekanan pada nilai tukar terus berlangsung.
“Bantuan sosial bekerja paling baik ketika tekanan harga bersifat sementara dan terkonsentrasi pada kelompok rentan,” ujar Syafruddin.
Ia menjelaskan, apabila rupiah terus melemah, dampaknya akan meluas ke harga barang impor, energi, obat-obatan, dan bahan baku. Dalam situasi seperti itu, bantuan sosial hanya menjadi penahan sementara, bukan solusi atas akar persoalan. “Daya beli tidak akan kuat tanpa rupiah yang kredibel,” ucap dia.
Optimisme pertumbuhan masih ada, tapi rapuh
Syafruddin menilai optimisme pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi melalui stimulus dan konsumsi domestik masih realistis. Namun, keyakinan itu hanya bertahan selama tekanan pada rupiah tidak semakin berat.
“Konsumsi rumah tangga memang menjadi bantalan utama ekonomi Indonesia. Bantuan sosial, diskon transportasi, dan insentif pajak dapat menjaga belanja masyarakat dalam jangka pendek,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan optimisme tersebut bisa rapuh jika rupiah terus melemah, inflasi meningkat, imbal hasil surat utang naik, dan dunia usaha mulai menahan investasi. Dalam keadaan seperti itu, stimulus yang semula diharapkan menjaga pergerakan ekonomi justru bisa kehilangan tenaga lebih cepat dari yang diperkirakan.
Dengan demikian, stimulus semester II-2026 lebih tepat dipahami sebagai penopang sementara untuk menjaga ritme konsumsi dan aktivitas usaha, bukan jawaban tunggal atas persoalan ekonomi yang lebih luas. Selama tekanan eksternal belum mereda, ruang gerak kebijakan itu akan tetap bergantung pada seberapa stabil rupiah bertahan di tengah gejolak yang ada.
Karena itu, arah kebijakan dinilai perlu dibuat lebih selektif agar setiap stimulus yang digelontorkan benar-benar memberi dampak yang terasa. Jika fokusnya hanya pada dorongan belanja jangka pendek, manfaatnya akan cepat habis. Sebaliknya, bila diarahkan ke sektor yang produktif dan menyerap tenaga kerja, efeknya berpeluang lebih kuat dalam menjaga ketahanan ekonomi.












