Bisnis & Ekonomi

Rupiah Nyaris Rp17.850 per US$ di Awal Perdagangan

5
×

Rupiah Nyaris Rp17.850 per US$ di Awal Perdagangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Masih Pagi, Rupiah Sudah Nyaris Rp17.850/US$ - Market

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Rupiah membuka perdagangan pasar spot pada Jumat (29/5/2026) dengan pelemahan tipis 0,02% ke posisi Rp17.793 per dolar AS. Tekanan itu muncul setelah pasar domestik libur perdagangan selama dua hari dalam rangka peringatan Idul Adha.

Namun, pelemahan rupiah tidak berhenti di pembukaan. Tak lama berselang, mata uang domestik itu kembali turun 0,3% dan bergerak ke Rp17.843 per dolar AS pada pukul 09:04 WIB. Posisi tersebut membuat rupiah kembali menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.

Pergerakan rupiah pada awal sesi hari ini menunjukkan pasar masih sensitif terhadap kombinasi faktor eksternal dan domestik. Di saat rupiah tertekan, indeks dolar Amerika Serikat belum banyak berubah dan berada di level 98,98. Sementara itu, harga minyak mentah Brent justru terus jinak dengan pelemahan 0,29% ke US$93,44 per barel.

Di kawasan Asia, sentimen pasar bergerak beragam. Kabar adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran disebut membawa angin segar bagi beberapa mata uang kawasan. Baht Thailand, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, dan yuan offshore tercatat menguat.

Sebaliknya, beberapa mata uang lain justru berada di zona merah. Won Korea Selatan, rupiah, dolar Singapura, dan yen Jepang bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Kondisi itu memperlihatkan bahwa tekanan di pasar валютa kawasan belum merata, tetapi rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan pada pembukaan perdagangan.

Tekanan yang tidak hanya dari luar

Bagi rupiah, tekanan yang muncul hari ini bukan semata-mata datang dari fundamental ekonomi yang buruk. Sentimen pasar juga melihat adanya kombinasi tekanan global, arah kebijakan domestik, dan ketidakjelasan proses penyesuaian ekonomi. Tiga faktor itu membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam membaca arah pergerakan rupiah.

Dalam situasi seperti ini, pergerakan rupiah cenderung mudah terpukul ketika pasar global menampilkan sinyal yang belum sepenuhnya stabil. Meski indeks dolar AS belum bergerak jauh dan harga Brent justru melemah, rupiah tetap berada di bawah tekanan. Hal itu menunjukkan bahwa faktor internal dan persepsi pasar terhadap penyesuaian ekonomi masih punya pengaruh besar terhadap sentimen terhadap mata uang Indonesia.

Jika dilihat dari awal perdagangan, rupiah sebenarnya sempat memulai sesi dengan pelemahan yang relatif kecil. Akan tetapi, perubahan menjadi lebih tajam sesaat setelah pembukaan. Pergeseran dari Rp17.793 ke Rp17.843 per dolar AS dalam waktu singkat menegaskan bahwa pasar masih mencari titik keseimbangan baru bagi rupiah.

Pada saat yang sama, status rupiah yang kembali menyentuh rekor terlemah sejarah menjadi perhatian tersendiri bagi pasar. Angka itu bukan hanya menandai tekanan harian, tetapi juga menambah daftar sinyal bahwa pelaku pasar masih menunggu kepastian lebih besar mengenai arah kebijakan dan respons ekonomi ke depan.

Pasar menunggu arah berikutnya

Dengan pergerakan yang masih rapuh di awal perdagangan, rupiah berpotensi tetap bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Situasi ini juga tidak berdiri sendiri, karena pasar kawasan tengah dipengaruhi sejumlah faktor global yang saling berkelindan, mulai dari dinamika geopolitik hingga arah harga komoditas.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar tampaknya masih akan mencermati apakah pelemahan rupiah kali ini hanya cerminan reaksi sesaat setelah libur panjang, atau justru bagian dari tekanan yang lebih panjang. Yang jelas, pembukaan perdagangan hari ini kembali menempatkan rupiah pada sorotan utama pasar valuta asing.

Rupiah pun menambah daftar aset yang bergerak di bawah tekanan pada perdagangan pagi ini. Sementara beberapa mata uang Asia mendapat dorongan dari sentimen eksternal tertentu, rupiah masih berjuang keluar dari zona yang membuatnya kembali berada dekat dengan level terlemah dalam sejarah.