Bisnis & Ekonomi

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

0
×

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

Sebarkan artikel ini
Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah Money 4 Juni 2026
Ilustrasi: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan sempat menembus level Rp 18.000 per dollar AS. Kondisi ini membuat rupiah mencatat titik terendah sepanjang sejarah.

Pada perdagangan hari ini, rupiah bergerak di tengah tekanan pasar yang membuat nilai tukar terus berada dalam area pelemahan. Sejumlah data menunjukkan, mata uang Garuda sempat menyentuh angka yang lebih dalam dibanding penutupan sebelumnya.

Kurs sempat tembus rekor baru

Berdasarkan data Investing, rupiah pada pukul 06.45 WIB sempat mencapai level terendah Rp 18.015 per dollar AS. Posisi tersebut tercatat melemah sekitar 90 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.925.

Sementara itu, berdasarkan data Google Finance, rupiah juga sempat tembus hingga Rp 18.022 per dollar AS pada malam sebelumnya. Pelemahan ini kemudian dikategorikan sebagai level terendah rupiah sepanjang sejarah.

Meski sempat berada di level tertinggi pelemahan, rupiah tidak langsung bertahan pada angka tersebut. Seiring berjalannya waktu, rupiah kemudian perlahan turun ke kisaran Rp 17.900 per dollar AS.

Untuk gambaran pergerakan harian, pada perdagangan sebelumnya, Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.966,5 per dollar AS. Pada hari tersebut, rupiah melemah hingga 127,5 poin atau 0,71 persen dibanding perdagangan hari sebelumnya.

Geopolitik disebut jadi pemicu utama

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, sebelumnya memperkirakan rupiah berpeluang menembus Rp 18.000 per dollar AS pada perdagangan pekan ini. Menurutnya, pergerakan rupiah sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global.

Ariston menilai, selama kondisi di Timur Tengah masih bergejolak, rupiah tetap berpotensi bergerak melemah. Ia juga menekankan bahwa dinamika eksternal dapat memengaruhi arah nilai tukar dalam rentang yang lebih jauh.

“Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres,” kata Ariston kepada Kompas.com, Rabu.

Dalam penjelasannya, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari belum meredanya konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran. Situasi ini, menurut Ariston, membuat investor global tetap memburu dollar AS sebagai aset aman (safe haven).

“Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven ,” ungkapnya.

Selain memperkuat dollar AS, konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Ariston menyebut kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena Indonesia masih membutuhkan impor energi yang dibayar menggunakan dollar AS.

Dengan kombinasi faktor tersebut, pelemahan rupiah terlihat berjalan mengikuti dinamika pasar global. Pergerakan nilai tukar pun kemudian menjadi perhatian karena berhubungan langsung dengan kebutuhan pembayaran energi serta penguatan dollar sebagai aset aman.

Meski sempat menyentuh titik terendah baru, pergerakan rupiah berikutnya menunjukkan pola yang tidak langsung membalikkan arah. Setelah berada di area sekitar Rp 18.000 per dollar AS, rupiah justru bergeser turun perlahan dan kembali merapat ke kisaran Rp 17.900 per dollar AS. Pergantian fase dari penekanan menuju pelemahan yang lebih moderat ini memperlihatkan bahwa sentimen pasar tetap dominan, bukan sekadar reaksi sesaat.

Dalam konteks pemicunya, argumen utama yang disoroti adalah meningkatnya permintaan dollar AS sejalan dengan ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Investor global, menurut penjelasan Ariston, cenderung memilih aset safe haven ketika kondisi belum mereda dan arah perdamaian masih belum jelas. Pada saat yang sama, konflik juga menekan harga minyak mentah dunia sehingga memperkuat hubungan antara penguatan dollar dan kebutuhan Indonesia terhadap impor energi yang pembayarannya masih bergantung pada mata uang AS.