Bisnis & Ekonomi

Rupiah Terus Melemah, Level Rp18.000/US$ Makin Dekat

0
×

Rupiah Terus Melemah, Level Rp18.000/US$ Makin Dekat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menakar Seberapa Parah Kejatuhan Rupiah, Bisa ke Rp18.000/US$? - Market

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Menutup Mei, rupiah belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti melemah. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), mata uang Indonesia terdepresiasi 0,48% ke posisi Rp17.874/US$, yang sekaligus menjadi level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Sepanjang bulan ini, tekanan terhadap rupiah berjalan konsisten. Dalam hitungan Mei saja, rupiah membukukan depresiasi 2,91%, sehingga pelemahannya nyaris menyentuh 3% hanya dalam satu bulan. Dengan hasil itu, rupiah juga sah melemah tiga bulan beruntun.

Rangkaian pelemahan tersebut membuat rupiah kian dekat ke level psikologis baru di Rp18.000/US$. Jarak antara posisi rupiah dan ambang itu kini makin tipis, apalagi pada hari terakhir Mei kondisi pasar terlihat sangat sensitif terhadap pergerakan mata uang.

Level Rp18.000/US$ sebenarnya bukan angka yang asing dalam skenario terburuk yang kerap dihitung para ekonom. Ambang tersebut masuk ke dalam perhitungan jika harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama, sementara pemerintah tidak melakukan intervensi kebijakan yang ekstrem untuk menjaga volatilitas rupiah.

Dalam konteks itu, melemahnya rupiah pada akhir Mei bukan hanya soal angka harian di pasar, melainkan juga soal semakin dekatnya rupiah dengan batas yang selama ini dipandang sebagai skenario buruk. Ketika posisi kurs bergerak ke area baru, perhatian pasar pun cenderung tertuju pada seberapa kuat tekanan yang masih bisa berlanjut.

Posisi Rp17.874/US$ pada penutupan Jumat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum reda. Dengan depresiasi yang terjadi sepanjang Mei, rupiah kini berada di fase yang membuat level Rp18.000/US$ terlihat semakin mungkin tersentuh, meski ambang itu selama ini masih berada di wilayah skenario terburuk.

Kondisi yang terjadi pada hari terakhir Mei juga menunjukkan bahwa selisih menuju level psikologis tersebut semakin menyempit. Di tengah pasar yang sensitif, pergerakan rupiah pada akhirnya menegaskan bahwa pelemahan mata uang Nusantara belum menemukan titik jeda, setidaknya hingga penutupan bulan ini.

Jika tren yang sama berlanjut, perhatian pasar akan terus tertuju pada apakah rupiah mampu bertahan di bawah batas psikologis baru itu, atau justru bergerak lebih jauh mendekatinya. Untuk saat ini, yang jelas rupiah telah menutup Mei dengan catatan terburuknya, setelah melemah terus selama tiga bulan berturut-turut.

Di sisi lain, pelemahan yang berlangsung bertahap dari hari ke hari memberi gambaran bahwa tekanan terhadap rupiah bukan muncul sesaat, melainkan terakumulasi selama sebulan penuh. Karena itu, penutupan di level Rp17.874/US$ tidak berdiri sebagai angka tunggal, melainkan menjadi penanda bahwa ruang gerak rupiah semakin sempit ketika pasar terus merespons arah yang sama.

Situasi seperti ini biasanya membuat pelaku pasar lebih berhati-hati membaca tiap perubahan kurs, sebab pergerakan kecil sekalipun bisa memperkuat persepsi bahwa batas-batas penting sedang diuji. Dalam kondisi rupiah yang sudah menembus titik terlemah sepanjang sejarah, perhatian pasar wajar tertuju pada apakah tekanan akan mereda lebih dulu atau justru berlanjut dan membawa kurs makin dekat ke Rp18.000/US$.

Dengan kata lain, akhir Mei menjadi penutup bulan yang berat bagi rupiah. Depresiasi yang berulang, jarak yang makin tipis menuju ambang psikologis baru, dan sensitifnya pasar pada hari-hari terakhir bulan ini sama-sama menunjukkan bahwa posisi rupiah masih rentan. Selama belum ada perubahan arah yang lebih meyakinkan, bayang-bayang pelemahan akan tetap mengikuti pergerakan mata uang Indonesia.

Karena posisi yang sudah berada di titik terendah sepanjang sejarah, setiap pergerakan rupiah ke depan berpotensi mendapat sorotan lebih besar dari biasanya. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung menilai bukan hanya arah kurs, tetapi juga ketahanan rupiah untuk tetap berada di bawah ambang yang mulai dianggap krusial. Semakin lama tekanan itu bertahan, semakin kuat pula kesan bahwa ruang aman rupiah makin terbatas.

Itulah sebabnya penutupan Mei ini tidak sekadar menjadi catatan akhir bulan, melainkan juga penanda bahwa tekanan pada rupiah masih jauh dari selesai. Selama arah pergerakan belum berubah secara meyakinkan, kekhawatiran terhadap level Rp18.000/US$ akan tetap membayangi, karena pasar sudah melihat bahwa jaraknya kini tinggal sedikit dan sentimen terhadap rupiah masih rapuh.