Daerah

Sapi Kurban 350 Kg Kabur Saat Akan Dipotong, Terjebak di Gorong-gorong 2 Meter di Jaktim

1
×

Sapi Kurban 350 Kg Kabur Saat Akan Dipotong, Terjebak di Gorong-gorong 2 Meter di Jaktim

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mau Dipotong, Sapi Kurban 350 Kg Kabur dan Terjebak di Gorong-gorong Sedalam 2 Meter di Jaktim

jurnalistik.co.id – Seekor sapi kurban berbobot 350 kilogram mengamuk saat hendak dipotong di kawasan Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (27/5/2026). Hewan itu lalu kabur dan justru terjebak di dalam gorong-gorong sedalam dua meter, sehingga menyulitkan proses penanganan di lokasi.

Peristiwa itu kemudian membuat warga meminta bantuan Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Timur. Informasi awal yang diterima petugas menyebutkan bahwa sapi tersebut masuk ke gorong-gorong selebar satu meter setelah panik ketika akan disembelih.

Petugas dikerahkan ke lokasi

Kepala Seksi Operasi Gulkarmat Jakarta Timur Abdul Wahid mengatakan, laporan kejadian itu diterima pada pukul 09.10 WIB. Setelah laporan masuk, tim rescue langsung diberangkatkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi terhadap sapi kurban yang terjebak.

“Sapi kaget saat ingin dipotong lalu melarikan diri dan ternyata terjeblos ke gorong-gorong selebar satu meter dan sedalam dua meter,” ujar Abdul Wahid saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Rabu.

Menurut Wahid, pihaknya mengerahkan dua unit rescue dengan total 13 personel untuk menangani kejadian tersebut. Petugas kemudian menyiapkan langkah evakuasi dengan memperhitungkan kondisi sapi yang berada di dalam gorong-gorong dan posisi tubuhnya yang membuat proses pengangkatan tidak bisa dilakukan secara langsung.

Dalam prosesnya, tim rescue menggunakan tali untuk mengikat tubuh sapi sebelum diangkat keluar dari gorong-gorong. Cara ini dipilih agar sapi dapat ditarik dengan lebih aman dari posisi terjebak di bawah permukaan jalan.

“Tim rescue berhasil mengangkat pada pukul 10.11 WIB, sapi tersebut berhasil dievakuasi dari gorong-gorong,” kata Wahid.

Kejadian ini menambah panjang daftar insiden hewan kurban yang lepas kendali saat proses penyembelihan menjelang Idul Adha. Dalam kasus di Kayu Putih, sapi yang semula hendak dipotong itu justru berakhir terjebak di saluran gorong-gorong sebelum akhirnya berhasil diamankan petugas.

Situasi tersebut sempat membuat aktivitas di sekitar lokasi ikut tertahan karena warga dan petugas harus memberi ruang agar proses penanganan bisa dilakukan dengan aman. Di tengah kepanikan sesaat, fokus utama adalah memastikan sapi tidak makin bergerak liar dan tidak menimbulkan risiko tambahan bagi orang-orang yang berada di sekitar gorong-gorong.

Dengan posisi sapi yang berada di dalam saluran sedalam dua meter, proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Petugas harus menyesuaikan langkah dengan kondisi lapangan, termasuk memperhitungkan ruang gerak hewan, titik penarikan, dan cara mengangkat tubuh sapi agar tetap terkendali selama proses berlangsung. Pendekatan seperti ini menjadi penting karena kesalahan kecil bisa membuat situasi semakin sulit diatasi.

Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa penanganan hewan kurban memerlukan kesiapan yang lebih matang, terutama ketika hewan tiba-tiba panik saat proses penyembelihan dimulai. Dalam kondisi seperti itu, reaksi spontan hewan dapat berubah cepat dan membuatnya sulit diarahkan. Karena itu, koordinasi antara warga dan petugas menjadi faktor penting agar kejadian serupa bisa segera ditangani tanpa menambah risiko di lokasi.

Setelah sapi berhasil diangkat, penanganan pun berakhir dengan baik dan situasi kembali terkendali. Meski demikian, insiden ini menjadi pengingat bahwa proses kurban tidak selalu berjalan mulus di lapangan. Ketika hewan lepas dari kendali, apalagi sampai masuk ke area yang sempit seperti gorong-gorong, dibutuhkan respons cepat, tenaga yang cukup, serta kehati-hatian dalam setiap tahap evakuasi agar semuanya bisa diselesaikan dengan aman.

Di lapangan, penanganan seperti ini menuntut kerja yang rapi karena sapi berada di ruang sempit dan tidak bisa dikeluarkan dengan cara biasa. Situasi tersebut membuat petugas harus bergerak dengan langkah yang terukur, mulai dari menyiapkan pengikatan sampai memastikan tarikan dilakukan pada titik yang aman. Dalam kondisi darurat seperti itu, ketenangan menjadi bagian penting agar proses evakuasi tidak memicu gerakan sapi yang justru bisa menyulitkan pekerjaan tim.

Insiden ini sekaligus menegaskan bahwa proses penyembelihan hewan kurban perlu dilakukan dengan pengawasan yang lebih cermat sejak awal. Ketika hewan sudah menunjukkan tanda-tanda panik, potensi kabur dan masuk ke area yang tidak semestinya bisa muncul dalam hitungan detik. Karena itu, kesiapan peralatan, jumlah personel, serta respons cepat warga dan petugas menjadi kunci agar kejadian serupa dapat ditangani tanpa berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.