jurnalistik.co.id – Di Purwakarta, Siti Marlinah (51) menunjukkan bahwa limbah bisa menjadi nilai tambah yang nyata.
Warga Kampung Cihideung, Desa Mulyamekar, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta ini mengolah kemasan plastik bekas menjadi tas dengan tampilan rapi dan menarik.
Ia menuturkan, ide itu berawal dari kepedulian terhadap banyaknya sampah plastik yang selama ini berakhir di tempat pembuangan.
Siti memanfaatkan waktu luang di sela kesibukannya sebagai pemilik usaha laundry dan penjahit. Dari aktivitas tersebut, ia kemudian merangkai kemasan plastik bekas menjadi tas dengan berbagai ukuran dan model.
Kerajinan yang kini ia tekuni sekitar satu tahun terakhir ini tidak datang sekaligus, melainkan tumbuh dari kebiasaan mengumpulkan bahan dan membentuknya menjadi produk yang siap digunakan.
Setiap hari, Siti mengumpulkan kemasan plastik bekas yang berasal dari tetangga. Kemasan tersebut dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipotong, lalu disusun dan dijahit menjadi satu kesatuan tas.
Untuk memperkuat bagian yang berfungsi sebagai pegangan, ia menambahkan webbing sebagai tali. Selain itu, resleting dipasang sebagai pelengkap agar tas lebih praktis digunakan sehari-hari.
Menurut Siti, bahan yang ia pakai sebagian besar datang dari lingkungan sekitar. Tetangga sudah mengetahui bahwa ia membuat tas dari plastik bekas, sehingga jika ada kemasan yang masih bagus, biasanya diberikan langsung kepadanya.
Proses pembuatan, lanjutnya, tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Siti memilih mengerjakan dengan ritme yang sesuai ukuran dan tingkat kesulitan tiap model.
Untuk satu tas berukuran besar, ia membutuhkan waktu sekitar satu hari agar hasilnya rapi. Sementara itu, untuk tas berukuran kecil, ia bisa menyelesaikan dua hingga tiga tas dalam sehari.
Meski berbahan limbah, Siti menekankan bahwa hasil karyanya tetap dipersiapkan dengan ketelitian. Ia ingin setiap tas terlihat layak untuk dipakai dan memiliki bentuk yang sesuai kebutuhan pembeli.
Keunikan tas yang ia buat juga datang dari corak warna asli kemasan plastik. Warna dan pola yang terbentuk dari bahan awal justru memberi kesan tersendiri, sehingga tiap tas memiliki motif yang berbeda satu sama lain.
Bagian hasil yang beragam itu membuat pilihan pembeli tidak monoton. Siti menyesuaikan produk yang dibuat berdasarkan ukuran serta karakter bahan yang tersedia dari kemasan plastik bekas.
Dari sisi penjualan, Siti menyebutkan bahwa harga tas berbeda-beda, mengikuti ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya.
Ia mengatakan, untuk ukuran kecil harga tas dimulai dari Rp 10.000. Sedangkan untuk ukuran besar, harganya bisa sampai Rp 70.000, tergantung model dan bahannya.
Siti juga memperhatikan bahwa ukuran kecil dan besar membutuhkan cara pengerjaan yang tidak sama. Karena itu, waktu produksi dan detail prosesnya ikut menentukan nilai jual yang ia tetapkan.
Selama ini, kerajinannya dipasarkan kepada warga sekitar. Selain penjualan langsung, ia juga memanfaatkan media sosial sebagai saluran untuk memperkenalkan dan menawarkan tas yang ia buat.
Lewat cara tersebut, tas berbahan plastik bekas yang diciptakannya mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Ia berharap usaha rumahan yang ia jalankan dapat terus berkembang, sambil mengurangi jumlah sampah plastik yang selama ini tidak dimanfaatkan.
Bagi Siti, tiap tas yang selesai dibuat bukan hanya produk bernilai jual, melainkan juga bukti bahwa kreativitas bisa mengubah kebiasaan membuang menjadi kebiasaan mengolah.
Sebelum tas dipakai atau ditawarkan, Siti melakukan penataan ulang hasil potongan dan memastikan setiap bagian tersusun rapi. Ia juga menekankan pengecekan pada sambungan jahitan, terutama pada area pegangan agar tas nyaman saat dibawa.
Dalam memasarkan produknya, ia tidak hanya mengandalkan komunikasi dari lingkungan sekitar. Melalui media sosial, Siti memperkenalkan tas dengan berbagai ukuran dan motif yang terbentuk dari kemasan plastik, sehingga orang dapat menyesuaikan pilihan sesuai kebutuhan.












