Peristiwa

Strategi AKBP (Purn) Soerito di Timor Timur: dari lawan menyerah hingga beralih membantu

×

Strategi AKBP (Purn) Soerito di Timor Timur: dari lawan menyerah hingga beralih membantu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Strategi Perang Soerito di Timor Timur Buat Pasukan Lawan Menyerah lalu Berbalik Membantu

jurnalistik.co.id – AKBP (Purn) Soerito, eks anggota Kompi D/Yon 32 Para Pelopor, mengingat Operasi Seroja di Timor Timur pada 1975 dengan detail yang masih terasa hidup. Di tengah intensitas pertempuran, ia tidak hanya menghadapi serangan bertubi-tubi, tetapi juga menyaksikan sebagian pasukan lawan menyerah lalu berbalik membantu pasukannya.

Kisah itu disampaikan Soerito dalam program Brigade Podcast di kanal YouTube Kompas.com, seperti dikutip pada Rabu (1/7/2026). Saat peristiwa berlangsung, ia masih berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) dan diberi kepercayaan memimpin sekitar 30 personel.

Soerito menyebut perannya sebagai komandan peleton, atau danton. Menurutnya, situasi di lapangan nyaris tidak memberi ruang untuk beradaptasi sebelum kontak senjata terjadi.

“Ya pertemuannya (di Timor Timur) pasukan kita langsung bertempur, gitu aja,” ujar Soerito. Ia dan anak buahnya segera berhadapan dengan pasukan Fretilin setelah tiba di wilayah operasi.

Dalam rangkaian pertarungan yang ia hadapi, Soerito kemudian mulai membaca pola perlawanan lawan. Ia memperhatikan bahwa Fretilin kerap melancarkan serangan menjelang fajar.

Berangkat dari pengamatan itu, ia mengubah cara siaga pasukannya. Ia menjelaskan bahwa pengaturan waktu dan posisi menjadi kunci untuk menghadapi serangan yang datang tiba-tiba.

Soerito menceritakan, “Saya bilang (ke pasukan), Fretilin kalau bertempur serangan fajar. Jadi kita jam 4 itu harus sudah bangun, kemudian senjata isi, lalu duduki pos. Itu posisinya di ketinggian, jadi kalau diserang saya sudah di atas,”

Lewat arahan tersebut, pasukan diarahkan untuk berada lebih dulu pada titik pengamatan dan posisi tempur. Dengan demikian, saat serangan masuk, mereka tidak lagi bereaksi dari kondisi yang masih “terbangun”, melainkan sudah siap.

Strategi tempurnya, menurut Soerito, membantu beberapa kali menghindarkan pasukan dari serbuan mendadak. Saat pasukan lawan datang menyerbu, personelnya justru sudah berada dalam keadaan yang lebih menguntungkan.

Dalam penuturannya, ia menekankan bahwa keunggulan itu berasal dari persiapan yang dilakukan sebelum serangan benar-benar terjadi. “Betul, tiba-tiba diserang. Tapi saya kan sudah ada di atas. Sudah, komando saya,” katanya.

Setelah kontak senjata mereda, Soerito mengatur langkah berikutnya. Pada saat itu, ia baru memerintahkan anak buahnya turun menuju pos, menyesuaikan kondisi setelah serangan mereda.

Ia juga menceritakan kebiasaan yang diterapkan pada malam harinya. Pasukan kembali memilih bertahan di lokasi yang lebih tinggi agar tidak menjadi sasaran serangan berikutnya ketika fajar mendekat.

Langkah-langkah itu, pada akhirnya, membantu menentukan arah pertempuran di beberapa momen. Dalam kisah yang ia sampaikan, Soerito menyatakan bahwa ada situasi ketika pihak lawan menyerah, kemudian berbalik membantu pasukannya—sebuah kelanjutan yang tidak pernah ia bayangkan terjadi di tengah suasana tempur.

Bagi Soerito, inti pembelajaran dari Operasi Seroja adalah disiplin waktu dan penempatan yang tepat. Di lapangan yang serba cepat, ia memilih menyiapkan pasukan jauh sebelum serangan muncul, sehingga setiap perintah bisa dijalankan dengan komando yang jelas.

Dengan pendekatan itu, cerita veteran ini menggambarkan bagaimana pengalaman bertempur, pengamatan terhadap pola musuh, dan pengaturan siaga dapat mengubah dinamika kontak senjata. Operasi yang keras pada masanya tetap menyisakan satu gambaran yang paling membekas baginya: ketika pertempuran dapat berujung pada penyerahan, lalu berubah menjadi bantuan.

Dari rangkaian pengalaman itu, Soerito menegaskan pentingnya “mengunci” rutinitas sebelum kontak senjata benar-benar terjadi. Ia tidak menunggu situasi berubah menjadi pertempuran, melainkan membangun kesiapan terlebih dahulu—mulai dari kesiagaan waktu, sampai penentuan titik yang paling memungkinkan pasukan memulai respons dengan cepat.

Setelah serangan fajar berlangsung, komandonya juga tidak berhenti pada saat musuh masuk. Ketika suasana mulai mereda, ia baru mengarahkan langkah berikutnya: menyesuaikan posisi pasukan sesuai kondisi lapangan yang baru, termasuk perintah untuk turun dari ketinggian agar pergerakan setelah pertempuran tetap terarah dan terkendali. Sikap bertahan di lokasi tinggi pada malam hari pun kembali menjadi kebiasaan agar pasukan tidak mudah menjadi sasaran menjelang waktu serangan berikutnya.