Hukum & Kriminal

Kronologi Ricuh Sidang Bupati Pati Nonaktif Sudewo: Mobil Tahanan Dikepung Massa, Brimob Turun Tangan

×

Kronologi Ricuh Sidang Bupati Pati Nonaktif Sudewo: Mobil Tahanan Dikepung Massa, Brimob Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kronologi Sidang Bupati Pati Nonaktif Sudewo Ricuh: Mobil Tahanan Dikepung, Brimob Turun Tangan

jurnalistik.co.id – Kericuhan mewarnai jalannya sidang dugaan korupsi Bupati Pati nonaktif, Sudewo, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin, 29 Juni 2026. Suasana di sekitar ruang sidang berubah menjadi tegang setelah putusan sela dibacakan dan berlanjut ke tahap berikutnya.

Sidang tersebut berlangsung dalam konteks perkara dugaan korupsi yang menjerat Sudewo. Setelah majelis hakim menolak eksepsi Sudewo, perkara tetap berjalan ke tahap pembuktian, dengan agenda pemeriksaan saksi.

Dalam putusan sela yang dibacakan lebih dulu, hakim menyatakan eksepsi atau nota keberatan Sudewo tidak dapat diterima. Keputusan ini menjadi pemicu perubahan situasi di luar pengadilan karena sejumlah pendukung kemudian menunggu momen setelah sidang selesai.

Usai agenda persidangan berakhir, Sudewo yang mengenakan rompi tahanan digiring petugas menuju mobil tahanan Kejaksaan yang telah menunggu di halaman Pengadilan Tipikor Semarang. Proses pemindahan terdakwa yang seharusnya berjalan tertib justru segera mendapat gangguan dari massa di luar.

Di luar gedung pengadilan, ratusan pendukung sudah berkumpul sejak sebelum sidang berakhir. Ketika gerbang dibuka agar kendaraan bisa keluar, massa langsung masuk ke halaman dan mengepung mobil tahanan yang berada di area tersebut.

Upaya evakuasi sempat terhambat. Kendaraan akhirnya terhenti karena diadang massa sekitar pukul 10.00 WIB, membuat jarak antara petugas dan massa semakin rapat.

Kerumunan memusat pada mobil tahanan. Sejumlah pendukung terlihat menggedor kaca dan bodi kendaraan sambil menyuarakan tuntutan agar Sudewo dibebaskan.

Situasi makin tidak terkendali saat sebagian massa nekat naik ke kap hingga atap mobil sambil mengibarkan bendera Merah Putih. Pergerakan massa yang terus bertambah membuat petugas sulit membuka jalur yang aman bagi kendaraan.

Melihat keadaan kian memanas, polisi bersama personel Brimob bersenjata lengkap membentuk barikade untuk membuka jalur. Kendaraan taktis juga disiagakan sebagai langkah antisipasi, menyesuaikan pengamanan dengan kondisi di lapangan yang cepat berubah.

Meski sempat ada upaya mobil tahanan bergerak menuju gerbang, kepungan justru semakin rapat. Akibatnya, kendaraan mundur kembali ke area parkir, karena desakan massa tidak memberi ruang yang cukup untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah mundur, kericuhan bergeser ke area parkir dan pintu masuk gedung pengadilan. Petugas kemudian membentuk pagar betis untuk menghalau desakan, menjaga agar jarak operasional antara terdakwa dan massa tetap dapat dikendalikan.

Dalam proses tersebut, kepungan yang berlangsung membuat polisi mengubah skema pengamanan. Terdakwa kemudian dipindahkan ke kendaraan taktis Brimob, sebuah langkah yang dilakukan untuk mengevakuasi Sudewo dengan lebih cepat dan lebih aman di tengah situasi yang terus menekan.

Rangkaian kejadian sejak putusan sela dibacakan hingga perubahan pengamanan itu menunjukkan bagaimana dinamika sidang di dalam ruang persidangan berpengaruh langsung pada situasi di luar gedung. Bagi petugas, tantangan utamanya adalah menjaga alur pemindahan terdakwa tanpa membuka risiko lebih besar di tengah massa yang terus berupaya mendekat.

Kericuhan akhirnya terkonsentrasi di titik-titik yang menjadi akses pergerakan kendaraan. Dengan massa yang berusaha mempertahankan kepungan dan petugas yang berupaya membatasi ruang gerak, suasana di sekitar gedung Tipikor Semarang tetap berlangsung tegang selama proses pemindahan berlangsung.

Ketika kepadatan massa terus meningkat, petugas berulang kali melakukan penataan ulang posisi agar kendaraan tetap punya ruang untuk bergerak. Setiap upaya membuka jalur menghadapi hambatan yang datang dari desakan di sekitar gerbang, sehingga proses pemindahan berjalan dengan jarak dan waktu yang semakin terbatas.

Suasana di halaman pengadilan juga membuat komunikasi pengamanan harus menyesuaikan kondisi cepat berubah. Barikade yang dibentuk polisi dan personel Brimob, termasuk penyiagaan kendaraan taktis, menjadi bagian dari upaya menjaga jarak antara terdakwa dan kerumunan agar eskalasi tidak melebar.

Setelah terdakwa akhirnya diupayakan keluar dari titik pengepungan, pergantian skema evakuasi ke kendaraan taktis Brimob dilakukan untuk mempercepat perpindahan sekaligus mengurangi risiko. Tegangnya situasi tetap terasa di area sekitar gedung hingga proses pemindahan selesai, dengan fokus utama pada pengendalian akses pergerakan kendaraan.