Hukum & Kriminal

Terungkap, Alasan Ekonomi Mantan Artis Fabiola Elizabeth Agnes Gabung Sindikat Pig Butchering Rp 41,1 Miliar

0
×

Terungkap, Alasan Ekonomi Mantan Artis Fabiola Elizabeth Agnes Gabung Sindikat Pig Butchering Rp 41,1 Miliar

Sebarkan artikel ini
Terungkap, Alasan Mantan Artis Fabiola Gabung Sindikat Pig Butchering Rp 41,1 Miliar Regional 4 Juni 2026
Ilustrasi: Terungkap, Alasan Mantan Artis Fabiola Gabung Sindikat Pig Butchering Rp 41,1 Miliar

jurnalistik.co.id – Alasan ekonomi disebut menjadi salah satu pertimbangan mantan artis Fabiola Elizabeth Agnes bergabung dalam jaringan penipuan internasional pig butchering.

Kapabilitas itu diungkapkan Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, terkait dugaan keterlibatan Fabiola dalam sindikat di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Artanto mengatakan penyidik masih melakukan pendalaman mengenai alasan Fabiola bergabung ke dalam sindikat penipuan internasional tersebut. Ia menyebutkan, “Alasan ekonomi menjadi salah satu faktor yang bersangkutan bergabung,” kata Artanto kepada awak media, Kamis (4/6/2026).

Menurut Artanto, selama bekerja di perusahaan yang terkait penipuan itu, Fabiola menerima bayaran dengan nilai yang cukup besar. “Gajinya berkisar antara Rp 7 juta sampai Rp 30 juta jika dikonversikan ke rupiah. Pembayarannya dalam bentuk dollar dan nominalnya bervariasi, tergantung hasil yang diperoleh dari korban,” tuturnya.

Artanto juga menyampaikan bahwa penghasilan Fabiola tidak bersifat tetap. Besaran pendapatan yang diterima disebut bergantung pada keberhasilan jaringan dalam membujuk korban untuk menyetorkan dana investasi.

Dalam jaringan tersebut, Fabiola tidak bertugas mencari korban secara langsung. Ia berperan sebagai model yang digunakan untuk memperkuat tipu daya pelaku kepada target yang mayoritas merupakan warga negara Amerika Serikat.

Di sisi lain, penyidik menemukan bahwa foto dan video Fabiola digunakan untuk membangun hubungan emosional dengan korban melalui media sosial dan aplikasi kencan daring. Proses pendekatan itu, menurut temuan, dijalankan untuk meyakinkan korban agar percaya pada jejaring yang dibangun pelaku.

Selain melalui materi di media sosial dan aplikasi kencan, Fabiola juga melakukan panggilan video secara langsung. Panggilan video tersebut disebut dilakukan untuk meyakinkan korban agar bersedia menanamkan dana pada platform investasi yang dikendalikan sindikat.

Artanto menjelaskan bahwa kasus ini terungkap setelah Ditressiber Polda Jawa Tengah melakukan patroli siber. Aktivitas yang dicurigai kemudian mengarah pada praktik penipuan lintas negara, hingga akhirnya mengerucut dalam penyelidikan.

Penyelidikan kemudian mengarah pada PT Digi Global Konsultan yang berlokasi di kawasan Solo Baru, Sukoharjo. Perusahaan tersebut diduga digunakan sebagai tempat perekrutan pekerja sekaligus pusat operasional utama jaringan penipuan.

Dengan demikian, gambaran keterlibatan Fabiola dalam jaringan pig butchering dipaparkan melalui aspek peran, mekanisme persuasi terhadap korban, serta pembagian keterkaitan pendapatan yang disebut bergantung pada keberhasilan memasukkan dana investasi.

Artanto juga menekankan bahwa pembahasan keterlibatan Fabiola masih dalam tahap pendalaman. Dalam penjelasannya, ia mengaitkan pilihan bergabung ke jaringan tersebut dengan pertimbangan ekonomi, sekaligus menggambarkan pola kompensasi yang disebut tidak selalu sama setiap periode. Artinya, besaran yang diterima Fabiola disebut mengikuti hasil yang diperoleh dari para korban.

Lebih lanjut, posisi Fabiola dalam jaringan disebut bukan sebagai pihak yang langsung menarget atau mencari korban. Perannya dijelaskan berfokus pada penguatan tipu daya melalui figur yang ditampilkan kepada target. Foto dan video digunakan untuk mempererat kedekatan secara emosional, khususnya dengan sasaran yang mayoritas berasal dari warga negara Amerika Serikat.

Pola pendekatan itu disebut dijalankan lewat media sosial dan aplikasi kencan daring, lalu diperkuat melalui interaksi yang lebih personal. Selain konten digital, penyidik juga menemukan adanya panggilan video langsung yang digunakan untuk meningkatkan kepercayaan korban agar bersedia menempatkan dana pada platform investasi yang berada dalam kendali sindikat.

Dalam perkembangan penyelidikan, Artanto menyebut kasus ini berawal dari patroli siber yang dilakukan Ditressiber Polda Jawa Tengah. Dari aktivitas yang dicurigai, penyidikan kemudian mengarah pada dugaan praktik penipuan lintas negara hingga akhirnya mengerucut pada PT Digi Global Konsultan di Solo Baru, Sukoharjo. Perusahaan tersebut diduga dimanfaatkan sebagai tempat perekrutan sekaligus pusat operasional utama jaringan.