Internasional

Trump Murka pada Oman yang Dinilai Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

5
×

Trump Murka pada Oman yang Dinilai Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Trump Murka Oman Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

jurnalistik.co.id – Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap Oman, salah satu sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah, agar menjauh dari Iran. Setelah berbulan-bulan mempertahankan posisi netral dalam konflik AS-Iran, Muscat kini menghadapi tuntutan untuk memilih pihak. Washington bahkan disebut mendesak Oman memutus hubungan diplomatik dengan Iran.

Menurut pejabat AS dan Arab yang dikutip The Wall Street Journal, Senin (1/6/2026), Washington kian memandang pendekatan Oman terhadap Teheran sebagai sikap yang bertentangan dengan kepentingan Amerika. Dalam pandangan sejumlah pihak di Washington, kebijakan Oman yang selama ini berusaha menjaga jarak dari blok mana pun mulai dianggap terlalu dekat dengan Iran.

Pada awal perang AS-Iran, Oman berupaya membuka jalur komunikasi dengan Teheran. Para pejabat Arab menyebut langkah itu membantu negara-negara Teluk membuka kembali koridor penerbangan dan menjadi keberhasilan diplomatik yang dimungkinkan oleh posisi netral Muscat. Namun, hanya tiga bulan kemudian, sikap yang sama justru memicu kecurigaan Washington.

Menurut dua pejabat Arab, selama perang berlangsung Oman berusaha menjaga keseimbangan antara AS sebagai sekutu lamanya dan Iran sebagai tetangga kuat di seberang Selat Hormuz. Strategi itu dimaksudkan untuk meningkatkan peluang terciptanya perdamaian jangka panjang. Akan tetapi, posisi Oman sebagai negara Arab yang masih dapat diterima kedua belah pihak kini semakin terancam.

“Oman telah membuka pintu bagi kritik dan sorotan yang tidak diinginkan terhadap negara yang selama ini bangga dengan kebijakan luar negerinya yang tidak memihak,” kata Sanam Vakil, Direktur Timur Tengah di lembaga kajian Chatham House. Menurut dia, ancaman dari pemerintahan Trump “menyoroti persepsi di sebagian kalangan Amerika bahwa Oman bersimpati kepada Iran.”

Tekanan itu disebut tidak berhenti pada peringatan diplomatik. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump dilaporkan mengancam Oman dengan sanksi bahkan serangan militer setelah penilaian intelijen baru menyimpulkan Muscat berencana bergabung dengan Iran dalam mengenakan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ancaman tersebut membuat hubungan yang selama ini dijaga dengan hati-hati itu kembali berada di bawah sorotan tajam.

Menanggapi tekanan tersebut, Menteri Informasi Oman Abdulla Al-Harrasi menolak mengomentari secara langsung desakan AS agar negaranya memutus hubungan dengan Iran. Namun ia menegaskan, “Oman siap bekerja sama dengan Amerika Serikat dan seluruh mitra yang bertanggung jawab untuk mempromosikan stabilitas, mencegah gangguan, dan melindungi kepentingan strategis bersama kita.” Pernyataan itu menunjukkan Muscat masih berupaya menjaga ruang dialog tanpa sepenuhnya melepaskan posisinya yang selama ini netral.

Gedung Putih, ketika dimintai komentar mengenai posisi AS terhadap Oman, merujuk pada pernyataan Trump dalam rapat kabinet pekan lalu. Dalam kesempatan itu, Trump mengatakan ia mungkin memerintahkan serangan udara terhadap Oman jika negara tersebut mendukung rencana Iran memungut biaya dari kapal yang melintasi Selat Hormuz, meski Muscat terus membantah memiliki rencana demikian. Di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, Oman kini berada dalam posisi yang makin sulit: mempertahankan kebijakan luar negeri yang tidak memihak, atau menghadapi risiko kemarahan sekutu lamanya sendiri.

Situasi ini menempatkan Oman pada dilema diplomatik yang tidak ringan. Di satu sisi, Muscat ingin mempertahankan reputasinya sebagai pihak yang mampu berbicara dengan semua kubu. Di sisi lain, tekanan dari Washington membuat ruang manuver itu makin sempit, terutama ketika setiap langkah yang diambil untuk menjaga stabilitas justru dibaca sebagai sinyal keberpihakan. Bagi Oman, menjaga keseimbangan seperti sebelumnya kini terasa jauh lebih rumit dibandingkan pada awal perang, ketika netralitas masih dianggap sebagai aset diplomatik.

Di tengah kondisi tersebut, ancaman dan kecurigaan yang muncul dari Amerika Serikat berpotensi mengubah cara Oman dipandang di kawasan. Kebijakan luar negeri yang selama ini diandalkan untuk meredakan ketegangan kini justru menjadi sumber sorotan baru. Karena itu, keputusan Muscat ke depan akan sangat menentukan apakah negara itu masih bisa diposisikan sebagai jembatan komunikasi, atau justru terseret lebih jauh ke dalam pertarungan pengaruh antara Washington dan Teheran.