jurnalistik.co.id – Hampir tujuh bulan setelah banjir bandang menerjang Kota Padang, ratusan keluarga di Kecamatan Kuranji, Sumatera Barat, masih menghadapi krisis air bersih.
Hingga Senin (22/6/2026), warga di sejumlah kelurahan tetap bergantung pada pasokan air bersih dari armada tangki darurat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini merupakan dampak lanjutan kerusakan saluran irigasi yang terjadi saat banjir bandang pada November 2025.
Kerusakan infrastruktur tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas pertanian, tetapi juga berdampak pada sumber air yang selama ini menjadi andalan warga.
Selama ini, sumur-sumur galian masyarakat mengandalkan resapan dari saluran irigasi yang melintasi Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Nanggalo.
Ketika aliran irigasi terputus, sumber air tanah warga ikut mengering.
Masalah tersebut kemudian diperparah oleh musim kemarau yang membuat pasokan air semakin terbatas.
Dalam keadaan itu, warga tidak memiliki alternatif sumber air untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Ketergantungan pada bantuan air tangki
Di Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Nova mengungkapkan bahwa bantuan air bersih dari pemerintah menjadi penopang penting agar kebutuhan harian tetap terpenuhi.
Menurut Nova, bantuan tersebut memberikan bantuan langsung kepada keluarga-keluarga yang kesulitan mendapatkan air.
“Alhamdulillah, semenjak ada bantuan air ini sangat membantu keluarga di sekitar Korong Gadang Kuranji. Sangat meringankan kebutuhan air kami,” ujar Nova.
Meski bantuan air tangki dinilai sangat membantu, warga berharap perbaikan saluran irigasi segera dilakukan.
Harapan itu muncul karena persoalan kekeringan dinilai bukan semata faktor cuaca, melainkan akibat terganggunya aliran irigasi yang sebelumnya menjadi sumber resapan air tanah.
“Kekeringan ini akibat galado. Ke depan, kami sangat berharap air irigasi yang biasa kami pakai bisa kembali pulih dan normal. Warga sangat berharap pemerintah segera memperbaiki irigasi tersebut,” katanya.
Bagi warga, ketergantungan pada air tangki bukan lagi pilihan sementara yang mudah dilepaskan, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi berulang setiap hari.
Semakin panjang waktu gangguan di saluran irigasi, semakin sulit bagi warga untuk kembali mengandalkan sumur sebagai sumber air utama untuk MCK.
Karena itu, upaya perbaikan infrastruktur menjadi bagian yang dinantikan agar sumber resapan kembali bekerja dan air tanah perlahan pulih.
Distribusi harian oleh BPBD dan Damkar
Untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, Pemerintah Kota Padang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) terus mendistribusikan bantuan air bersih setiap hari.
Dalam pelaksanaan di lapangan, petugas dilaporkan perlu bekerja hingga larut malam karena tingginya kebutuhan air di sejumlah wilayah terdampak.
Hendri Zulviton selaku Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang mengatakan bahwa penyaluran dilakukan dengan pergerakan armada yang terus berjalan menyesuaikan kebutuhan warga.
“Setiap hari sampai larut malam, petugas terus bergerak memasok air bersih untuk warga,” ujar Hendri.
Berdasarkan data per Juni 2026, armada gabungan BPBD dan Damkar mampu menyalurkan hingga 93.000 liter air bersih per hari menggunakan lima unit mobil tangki.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bantuan air masih menjadi tumpuan utama warga, terutama ketika saluran irigasi yang rusak belum pulih dan musim kemarau terus membatasi ketersediaan air.
Dengan pola distribusi harian dan dukungan armada, proses pemenuhan kebutuhan warga tetap berjalan, meski akar masalah berupa kerusakan irigasi masih menjadi tantangan.
Di tengah situasi itu, warga berharap perbaikan saluran irigasi dapat segera diwujudkan agar sumber air yang selama ini bergantung pada resapan kembali aktif.
Perbaikan tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada bantuan darurat, sehingga pemenuhan air bersih dapat kembali mengandalkan kondisi sumber yang normal seperti sebelum banjir bandang pada November 2025.












