Internasional

Wapres AS Menyalahkan Netanyahu, Sempat Bikin Trump Kesal

0
×

Wapres AS Menyalahkan Netanyahu, Sempat Bikin Trump Kesal

Sebarkan artikel ini
Wapres AS Salahkan Netanyahu, Sempat Bikin Kesal Trump Global 12 Juni 2026
Ilustrasi: Wapres AS Salahkan Netanyahu, Sempat Bikin Kesal Trump

jurnalistik.co.id – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengakui bahwa hubungan Washington dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang berada dalam tekanan, terutama di tengah perang yang juga melibatkan Iran.

Dalam wawancara dengan CBS News, Vance menyampaikan bahwa meskipun Amerika Serikat dan Netanyahu adalah mitra dekat, kepentingan keduanya tidak selalu sejalan.

Vance mengatakan, “Perdana Menteri Netanyahu, dia memimpin sebuah negara yang jelas telah menjadi mitra yang sangat dekat dengan Amerika Serikat . Namun, bahkan ketika kami menjadi mitra dekat, kepentingan kami bisa selaras dan tidak selaras.”

Ia menambahkan, “Apa yang saya lihat dari perdana menteri adalah bahwa dia secara agresif memperjuangkan kepentingan negaranya — terkadang itu berarti kami berada di halaman yang sama, terkadang berarti kami tidak.”

Pernyataan Vance tersebut menjadi pengakuan publik terbaru terkait kondisi hubungan dua sekutu yang dinilai sedang berada di bawah tekanan.

Perselisihan Washington dan Israel dilaporkan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump dan Netanyahu berbeda pendapat mengenai operasi militer Israel di Lebanon.

Trump bahkan mengatakan kepada seorang jurnalis Axios bahwa ia menyebut Netanyahu “gila” dalam percakapan telepon.

Trump juga mengakui bahwa dirinya “sedikit kesal karena Netanyahu terus berperang dengan Lebanon”, karena operasi militer tersebut memicu serangan baru dan mengancam pembicaraan damai dengan Iran.

Dalam situasi ini, AS dan Iran kemudian saling melancarkan serangan untuk hari kedua berturut-turut.

Kondisi tersebut turut memperlemah gencatan senjata antara kedua negara yang telah berlangsung sejak April.

Vance menegaskan bahwa pemerintahan Trump memiliki tugas untuk memastikan kepentingan Amerika menjadi prioritas, bahkan apabila hal itu berbeda dengan kepentingan Israel.

Ia menyatakan, “Adalah tugas pemerintahan Trump untuk fokus pada apa yang menjadi kepentingan terbaik Amerika, dan ketika hal itu berbeda, kami — sayangnya bagi pihak Israel — harus memilih rakyat Amerika.”

Ketika ditanya mengenai contoh kesalahan yang dilakukan Netanyahu, Vance tidak memberikan rincian dan memilih untuk tidak membahas detail secara terbuka.

Vance mengatakan, “Percakapan-percakapan seperti itu terkadang lebih baik dibi bırak tetap pribadi,” yang menunjukkan kehati-hatian untuk tidak mengungkap materi spesifik terkait perbedaan pandangan kedua pihak.

Trump selama ini dikenal sebagai pendukung kuat Israel pada masa jabatannya di Gedung Putih, namun ia juga berupaya untuk keluar dari konflik Timur Tengah yang berpotensi berlangsung lama.

Meski demikian, upaya tersebut masih terganggu oleh operasi Israel di Lebanon, sebagaimana tercermin dari ketegangan yang kemudian berdampak pada dinamika serangan AS dan Iran, serta melemahnya gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April.

Dalam penjelasannya, Vance menggambarkan bahwa hubungan yang selama ini dijalin AS dan Israel tidak selalu berjalan dengan cara yang sama pada setiap isu. Ia menekankan bahwa Netanyahu dinilai terus mengutamakan agenda negaranya, sehingga pada momen tertentu posisi kedua pihak bisa saling berhimpit, tetapi pada saat lain bisa berbeda. Dengan kata lain, perbedaan kepentingan tersebut muncul sebagai bagian dari tekanan yang sedang berlangsung, bukan sekadar persoalan komunikasi sesaat.

Vance juga menyinggung bagaimana pemerintahan Trump memandang prioritas kebijakan luar negeri, yakni mendahulukan kepentingan Amerika bahkan bila konsekuensinya tidak sejalan dengan kepentingan Israel. Saat diminta contoh kesalahan Netanyahu, ia memilih untuk tidak merinci secara terbuka, sehingga tetap ada batas pada detail yang dibahas ke publik. Di tengah dinamika itu, operasi Israel di Lebanon disebut menjadi faktor yang terus mengganggu upaya AS untuk meredakan konflik di kawasan, sementara serangan AS dan Iran berlanjut hingga hari kedua dan ikut menekan keberlangsungan gencatan senjata sejak April.