Peristiwa

Widya, Peracik Bumbu Sate Idul Adha yang Tak Suka Daging karena Trauma Masa Kecil

0
×

Widya, Peracik Bumbu Sate Idul Adha yang Tak Suka Daging karena Trauma Masa Kecil

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Widya, Peracik Bumbu Sate Idul Adha yang Tak Makan Daging karena Trauma Masa Kecil

jurnalistik.co.id – Di banyak rumah, Idul Adha identik dengan aroma sate yang mengepul dari halaman atau dapur keluarga. Di rumah Widya (33), momen itu juga selalu hadir, tetapi ada satu hal yang membuat perannya berbeda dari kebanyakan orang: ia justru tidak ikut menyantap daging yang sedang ia racik sendiri. Meski begitu, namanya tetap menjadi andalan keluarga setiap kali bumbu sate harus disiapkan sebelum daging kambing atau sapi dibakar bersama.

Setiap Idul Adha, dapur rumah Widya dipastikan sibuk sejak pagi. Ia menangani satu per satu kebutuhan yang membuat sate keluarga terasa pas di lidah. Mulai dari menghaluskan bawang, mencampur kecap, meracik bumbu kacang, sampai memastikan seluruh racikan sesuai selera keluarga, semua itu dikerjakannya sendiri. Dalam keluarga, perannya sudah seperti tradisi yang berulang setiap tahun: begitu ada agenda bakar sate, Widya menjadi orang yang paling dulu dicari.

Widya bukan sekadar membantu di dapur. Keluarganya bahkan mengaku menunggu racikan buatannya sebelum mulai membakar sate. Bagi mereka, ada rasa yang dianggap berbeda jika bumbu itu tidak disiapkan oleh Widya. Salah satu racikan andalannya adalah tambahan sepotong kemiri dan minyak wijen. Komposisi sederhana itu menjadi bagian penting dari rasa yang membuat keluarganya terbiasa menanti hasil tangan Widya sebelum daging masuk ke pemanggangan.

“Kalau belum diracir sama saya, katanya rasanya beda,” kata Widya sambil tertawa, Rabu (27/5/2026).

Meski piawai meracik bumbu sate, Widya justru tidak pernah ikut menyantap sate yang ia buat. Ia mengaku sama sekali tidak suka daging, termasuk sate dan daging kurban. Aroma daging yang dibakar bukan menggugah selera, melainkan sebaliknya, membuatnya kehilangan nafsu makan. Di saat orang lain menunggu giliran menikmati sate hangat yang baru matang, Widya memilih tetap berada di balik prosesnya: menyiapkan bumbu, menjaga rasa, lalu berhenti di sana.

Ketidaksukaannya pada daging bukanlah hal baru. Widya mengatakan sikap itu sudah muncul sejak kecil. Menurut dia, pengalaman masa kecil saat menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha meninggalkan trauma yang tak mudah hilang. Sejak saat itu, ia merasa tidak kuat melihat darah dan tidak nyaman dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pemotongan hewan kurban.

“Dari kecil memang enggak suka daging. Soalnya sering lihat proses motong hewan pas Idul Adha, lihat darah juga jadi enggak kuat,” ujarnya.

Trauma itu membuat Widya menjaga jarak dari daging, meski ia tetap berada di tengah suasana keluarga yang meriah setiap Idul Adha. Ia bisa menjalankan tugas dapur dengan baik, mengatur bumbu, dan memastikan sate yang akan dibakar memiliki rasa sesuai harapan keluarga. Namun, untuk urusan mencicipi, ia memilih tidak ikut. Bagi Widya, mencium aroma daging saja sudah cukup untuk membuatnya menahan diri.

Ia juga mengaku tidak tahan dengan aroma khas daging, terutama kambing. Karena itu, ketika keluarga lain menyiapkan piring masing-masing untuk menikmati hasil bakaran, Widya tetap berada pada peran yang sama: orang yang memastikan racikan sate terasa pas, meski dirinya tidak pernah menjadi bagian dari orang-orang yang menyantapnya. Di rumahnya, Idul Adha bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga soal kebiasaan yang sudah terbentuk dari waktu ke waktu.

Kisah Widya memperlihatkan sisi lain dari tradisi Idul Adha di tengah keluarga. Ada yang menikmati daging kurban sebagai bagian dari perayaan, ada pula yang memilih tetap membantu di balik layar karena alasan yang sangat personal. Dalam kasus Widya, perannya justru menjadi sangat penting karena keahlian meracik bumbu membuat keluarganya merasa sate buatan rumah punya rasa yang khas. Meski ia sendiri tak suka daging, racikan tangannya tetap menjadi bagian yang dinantikan setiap kali Idul Adha tiba.