Bisnis & Ekonomi

Analis: Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama Rupiah Tembus Rp 17.900

1
×

Analis: Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama Rupiah Tembus Rp 17.900

Sebarkan artikel ini
Rupiah Kian Terpuruk, Analis Sebut Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama Money 3 Juni 2026
Ilustrasi: Rupiah Kian Terpuruk, Analis Sebut Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan sempat menembus level Rp 17.900 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Menurut analis, pelemahan itu terutama dipicu oleh kondisi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari konflik yang masih berlangsung antara AS dan Iran. Situasi yang belum jelas arahnya itu membuat investor global tetap memburu dollar AS sebagai aset aman atau safe haven, sehingga mata uang Negeri Paman Sam menguat.

“Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Ariston menjelaskan, penguatan dollar AS tidak berdiri sendiri. Konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya turut memberi tekanan tambahan ke rupiah. Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen negatif karena kebutuhan impor energi masih harus dibayar menggunakan dollar AS.

Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dollar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga minyak tersebut, menurut Ariston, tidak hanya menambah beban impor, tetapi juga berpotensi mendorong harga barang-barang konsumsi. Dalam pandangannya, efek berantai itu ikut membebani perekonomian Indonesia ketika rupiah sedang berada dalam tekanan.

“Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia,” ucapnya.

Ariston menilai, prospek penguatan rupiah sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global, khususnya peluang tercapainya perdamaian antara AS dan Iran. Selama konflik di Timur Tengah masih bergejolak, ia melihat rupiah masih berpotensi bergerak melemah dan bahkan bisa menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS pada perdagangan pekan ini.

“Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres,” kata Ariston.

Ia menegaskan, rupiah baru punya ruang untuk menguat jika konflik di Timur Tengah benar-benar selesai. Setelah itu, barulah pemerintah dapat lebih leluasa menangani sentimen negatif dari kebijakan ekonomi domestik yang juga memengaruhi pasar. Dengan begitu, dorongan penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada faktor internal, tetapi juga pada meredanya tekanan eksternal.

“Kuncinya di perdamaian AS Iran untuk memicu pelemahan dollar AS,” tukasnya.

Di pasar, pelemahan rupiah terhadap dollar AS pada Rabu (3/6/2026) menjadi sorotan karena level Rp 17.900 sudah tergolong sangat sensitif bagi pelaku pasar dan dunia usaha. Di tengah penguatan dollar AS, kenaikan harga minyak, serta belum redanya ketegangan geopolitik, rupiah disebut masih akan bergerak dalam tekanan sampai ada kepastian yang lebih jelas dari konflik di Timur Tengah.

Menurut Ariston, kondisi itu membuat pergerakan rupiah sangat mudah terseret perubahan sentimen global, terutama ketika pasar masih melihat dollar AS sebagai pilihan utama untuk berlindung. Dalam situasi seperti ini, ruang gerak mata uang domestik cenderung terbatas.

Ia menilai, selama ketidakpastian di Timur Tengah belum mereda, pelaku pasar akan tetap berhati-hati dan memilih menunggu perkembangan terbaru. Akibatnya, tekanan pada rupiah berpeluang bertahan lebih lama sebelum ada sinyal yang benar-benar menenangkan pasar.