jurnalistik.co.id – Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan rancangan kesepakatan damai dengan Iran mencakup dua langkah utama terkait program nuklir Negeri Para Mullah tersebut: penghancuran uranium yang telah diperkaya di lokasi, serta pengangkutan material itu keluar dari Iran. Pernyataan ini disampaikan pejabat yang berbicara kepada wartawan melalui sambungan telepon pada Jumat (12/6/2026) dengan syarat anonim.
Menurut pejabat itu, isi kesepakatan sementara yang sedang dibahas sebenarnya bersifat sederhana. Ia menyebut ada beberapa poin yang menjadi fokus, mulai dari pembukaan kembali jalur pelayaran hingga mekanisme pembatasan dan pengawasan terkait aktivitas nuklir Iran.
Isi kesepakatan sementara
Poin pertama adalah membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mencabut blokade. Pejabat tersebut menegaskan, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam.
Ia juga menyebut gangguan transit di selat tersebut telah menekan pasokan energi global. Dampaknya, harga bahan bakar meningkat, sementara harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya ikut menjadi lebih mahal, bahkan jauh melampaui kawasan terdampak langsung.
Poin kedua, lanjut pejabat senior itu, kesepakatan akan mengarah pada pembongkaran program nuklir Iran. Dengan demikian, proses yang ditempuh tidak hanya menyentuh jalur logistik dan energi, tetapi juga berfokus pada elemen nuklir yang menjadi inti sengketa.
Poin ketiga menyangkut material nuklir hasil proses pengayaan yang dimiliki Iran. Pejabat itu mengatakan AS akan mendapatkan material nuklir yang telah diperkaya, lalu material tersebut “dihancurkan di lokasi dan kemudian dibawa keluar dari negara itu,” sebagaimana disampaikan dalam penjelasan kepada wartawan.
Selain tiga poin tersebut, pejabat senior itu menambahkan bahwa kesepakatan sementara juga diarahkan untuk menjamin perdamaian jangka panjang di kawasan. Ia menyampaikan bahwa dengan skema yang disepakati, Iran tidak lagi mendanai kekerasan.
Rezim inspeksi dan syarat agar manfaat bisa terwujud
Pejabat itu menekankan bahwa pada akhirnya kesepakatan memiliki rezim inspeksi yang memastikan komitmen dapat ditegakkan dalam jangka panjang. “Pada akhirnya, kesepakatan ini memiliki rezim inspeksi yang memastikan bahwa ini merupakan komitmen jangka panjang dan dapat ditegakkan dalam jangka panjang,” ujar pejabat tersebut.
Ia juga menyatakan, apabila Iran mematuhi kesepakatan, Teheran akan dibebaskan dari banyak tekanan ekonomi yang telah dikenakan selama bertahun-tahun. Dengan berkurangnya tekanan tersebut, Iran diharapkan dapat kembali terintegrasi ke dalam perekonomian dunia.
Meski demikian, pejabat itu menegaskan manfaat tersebut tidak otomatis berlaku dalam situasi apapun. Ia menyebut keuntungan yang diharapkan hanya bisa terwujud bila Iran benar-benar memenuhi kesepakatan.
Di sisi lain, pejabat senior tersebut mengatakan masih ada kelompok garis keras Iran yang ingin menggagalkan kesepakatan. Menurut penilaiannya, dinamika politik di dalam Iran tetap menjadi faktor yang menentukan apakah proses damai benar-benar berjalan sampai tujuan akhirnya.
Pejabat itu juga menilai banyak pemimpin Iran ingin mempertahankan kesepakatan tersebut. Ia menyatakan, “Saya merasa sangat baik dengan kesepakatan ini. Tetapi mari kita lihat. Kita belum benar-benar sampai di garis akhir,” ungkapnya, yang menunjukkan adanya sikap hati-hati meski melihat arah perundingan.
Dengan rangkaian poin yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade, serta pembongkaran program nuklir Iran melalui mekanisme penghancuran material dan inspeksi jangka panjang, pejabat senior AS memposisikan kesepakatan sementara ini sebagai langkah yang menargetkan perubahan nyata baik pada aspek energi maupun pada isu nuklir.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa keberhasilan pada akhirnya bergantung pada kepatuhan Iran terhadap kesepakatan. Selama masih ada pihak yang berupaya menghambat, tahapan menuju perjanjian final tetap menghadapi tantangan, dan proses negosiasi masih berada pada titik yang perlu diuji lebih jauh.












