jurnalistik.co.id – Blok M pernah lama dikenal sebagai pusat belanja, hiburan, kuliner, sekaligus ruang pertemuan berbagai komunitas. Namun dalam beberapa tahun terakhir, denyut kawasan itu melemah seiring perubahan cara orang bergerak di kota dan meningkatnya kemacetan.
Dalam pandangan kolom ini, kemunduran Blok M tidak terutama soal menurunnya potensi ekonomi. Masalah utamanya justru melemahnya aksesibilitas menuju kawasan tersebut.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga awal 2000-an, nama Blok M pernah menjadi simbol gaya hidup Jakarta Selatan. Kawasan ini terkenal dengan aktivitas yang padat hampir sepanjang hari, sebelum kemudian mengalami pergeseran daya tarik.
Menurut uraian penulis, perubahan terjadi seiring hadirnya pusat-pusat komersial baru dan semakin parahnya kemacetan. Akibatnya, banyak toko tutup dan beberapa pusat perbelanjaan kehilangan penyewa, sehingga ruang yang dulu hidup berubah menjadi tempat yang lebih sering dikenang melalui nostalgia.
Selama bertahun-tahun, banyak orang memandang kemunduran itu sebagai hal yang wajar karena kawasan dinilai kalah bersaing dengan pusat pertumbuhan lain di Jakarta maupun kota penyangga. Tetapi kenyataannya, ketika perjalanan menuju suatu kawasan menjadi sulit, mahal, dan tidak nyaman, aktivitas ekonomi akan perlahan pindah ke lokasi yang lebih mudah dijangkau.
Delapan menit sebagai titik balik
Di sinilah hadirnya MRT Jakarta diposisikan sebagai titik balik yang mengubah arah sejarah kawasan. Perubahan itu diringkas dalam satu angka: delapan menit.
Waktu tempuh MRT dari kawasan pusat kegiatan Jakarta menuju Blok M disebut hanya sekitar delapan menit. Angka sederhana tersebut dianggap memiliki dampak besar, karena menunjukkan bagaimana sistem transportasi yang efisien mampu menghidupkan kembali area perkotaan yang sempat kehilangan denyut.
Lebih dari sekadar sarana memindahkan orang, transportasi publik yang baik dipandang sebagai instrumen pembangunan ekonomi, penggerak aktivitas sosial, sekaligus fondasi pembentukan peradaban kota yang lebih modern. Kebangkitan Blok M menjadi contoh bahwa manfaat mobilitas dapat melampaui sektor transportasi itu sendiri.
Sebelum MRT beroperasi, perjalanan menuju Blok M sering digambarkan sebagai pengalaman yang melelahkan. Kemacetan di koridor Jakarta Selatan membuat jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Bagi warga yang menggunakan kendaraan pribadi, tantangan tidak berhenti setelah sampai di tujuan. Mencari parkir disebut menjadi persoalan tersendiri, sementara biaya perjalanan juga terus meningkat.
Situasi tersebut berujung pada penurunan frekuensi kunjungan. Dampaknya terasa langsung pada aktivitas ekonomi kawasan: ketika jumlah pengunjung turun, omzet usaha ikut menurun.
Penurunan omzet kemudian memengaruhi keputusan penyewa. Saat ruang usaha makin kosong, citra kawasan ikut merosot, dan lingkaran penurunan itu berlangsung bertahun-tahun.
Fenomena semacam ini juga disebut mengikuti pola yang kerap ditemukan dalam studi perkotaan. Banyak kawasan komersial tidak mengalami kemunduran karena bangunannya tua atau konsepnya usang, melainkan karena akses menuju kawasan menjadi semakin sulit.
Ketika aksesibilitas memburuk, daya tarik ekonomi ikut melemah. Sebaliknya, ketika aksesibilitas meningkat, peluang kebangkitan dinilai terbuka kembali.
Operasional MRT Jakarta pada tahun 2019 disebut mengubah kondisi tersebut secara fundamental. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Blok M kembali terhubung secara cepat, nyaman, dan dapat diprediksi dengan berbagai pusat aktivitas utama Jakarta.
Penulis menutup uraian dengan menegaskan bahwa perubahan akses melalui transportasi publik dapat menghidupkan kembali ruang-ruang kota. Dalam narasi ini, delapan menit menjadi simbol bagaimana efisiensi mobilitas berperan besar dalam mengembalikan dinamika sebuah kawasan.
Kolom ini ditulis oleh Bram Hertasning, MTM, yang disebut menjabat sebagai Kepala Bidang Lalu Lintas & Angkutan Pelayaran dan Penerbangan, Badan Kebijakan Transportasi. Ia juga disebut merupakan Doktor Kebijakan Publik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, serta Pengurus Intelligent Transport System (ITS) Indonesia dan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).












