Peristiwa

BNPB Gempur Api dari Udara Usai 29,1 Hektare Lahan Terbakar di Aceh Barat

0
×

BNPB Gempur Api dari Udara Usai 29,1 Hektare Lahan Terbakar di Aceh Barat

Sebarkan artikel ini
BNPB Gempur Api dari Udara Usai 29,1 Hektare Lahan Terbakar di Aceh Barat Regional 9 Juni 2026
Ilustrasi: BNPB Gempur Api dari Udara Usai 29,1 Hektare Lahan Terbakar di Aceh Barat

jurnalistik.co.id – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat terus diperkuat melalui kombinasi strategi darat dan udara.

BNPB mengerahkan helikopter pengebom air sebagai langkah cepat untuk menekan meluasnya titik api yang sulit dijangkau tim di lapangan.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, menjelaskan operasi pengeboman air dilakukan secara intensif dalam dua sesi setiap harinya.

“Hari ini, Senin (8/6/2026), helikopter pengebom air melakukan dua tahap pengeboman air dari udara, yaitu sesi pagi hingga siang, dan dilanjutkan siang hingga sore hari,” kata Teuku Ronal kepada wartawan pada Senin (8/6/2026) malam dikutip dari Antara.

Ia menegaskan, metode pengeboman air dipilih untuk menjangkau wilayah yang tidak mudah diakses oleh upaya darat.

Pengebom air telah dikerahkan sejak Minggu (7/6/2026) untuk mempercepat proses pemadaman dan menekan potensi penyebaran api.

BNPB juga memastikan penanganan tidak berhenti pada satu titik, melainkan diarahkan pada area yang memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk didatangi petugas di lapangan, seperti wilayah berbukit, lahan gambut, hingga lokasi terpencil.

Peta sebaran titik api dan luasan kebakaran

Berdasarkan data BPBD Aceh Barat, kebakaran tersebar di empat kecamatan dengan total luasan sebesar 29,1 hektare.

Rinciannya meliputi Kecamatan Bubon, dengan Desa Berawang seluas 15 hektare serta Desa Kuta Padang Layung 10 hektare.

Di Kecamatan Johan Pahlawan, api tercatat berada di Desa Lapang seluas 1 hektare dan Desa Seuneubok seluas 0,5 hektare.

Sementara itu, di Kecamatan Arongan Lambalek, kebakaran terjadi di Desa Gunung Pulo seluas 1 hektare.

Adapun Kecamatan Meureubo mencatat kebakaran di Desa Ujong Tanoh Darat seluas 1,6 hektare.

Operasi Modifikasi Cuaca untuk mempercepat pembasahan

Selain pengeboman air, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai intervensi teknologi agar proses pembasahan lahan dapat berlangsung lebih cepat dan menjangkau area yang lebih luas.

Teuku Ronal menyebut, “Mengingat sulitnya akses darat, BPBD Aceh Barat bersinergi dengan BNPB untuk memaksimalkan penanganan pemadaman dari udara.”

Ia menjelaskan OMC telah dilaksanakan pada Kamis (4/6/2026) dan Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, peningkatan curah hujan diperlukan untuk memadamkan bara api di lapisan dalam tanah gambut yang tidak bisa dijangkau dengan penyemprotan manual.

Karena itu, pembasahan lahan secara masif atau rewetting dinilai penting untuk memastikan api padam hingga ke bagian terdalam.

Hingga saat ini, kondisi karhutla di Aceh Barat dilaporkan telah tertangani sekitar 70 persen.

Meski demikian, sejumlah kendala masih ditemui di lapangan, terutama keterbatasan sumber air serta jarak lokasi kebakaran yang jauh dari jalur transportasi.

Kondisi tersebut membuat distribusi peralatan pemadaman belum optimal dan dapat memengaruhi kecepatan penanganan pada beberapa titik.

Dampak asap dan kebutuhan intervensi lanjutan

Kebakaran yang berlangsung hampir sepekan mulai menimbulkan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya di Meulaboh sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Barat.

Kabut asap pekat dilaporkan mengganggu aktivitas warga dan berpotensi memicu gangguan kesehatan.

Teuku Ronal menilai situasi saat ini memerlukan intervensi teknologi melalui operasi modifikasi cuaca agar kebakaran lahan tidak meluas dan tidak berkembang menjadi bencana kabut di lingkungan masyarakat.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, penanganan karhutla diarahkan agar upaya dari udara dan langkah teknologi pembentukan hujan dapat terus berjalan untuk mempercepat pemadaman serta mengurangi dampak yang dirasakan warga.