jurnalistik.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kekeringan masih terjadi dan mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah. Rangkuman itu dihimpun pada periode Selasa (21/7/2026) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (22/7/2026) pukul 07.00 WIB.
Dalam keterangan yang disampaikan Rabu (22/7/2026), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut pemerintah tetap memberi perhatian pada penanganan kekeringan sekaligus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut juga tercermin dari dampak yang dirasakan warga, terutama melalui kebutuhan air bersih.
“Berdasarkan data yang dihimpun, kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi masih menjadi perhatian pemerintah melalui upaya penanganan darat dan udara,” kata Abdul Muhari.
Di Jawa Barat, salah satu wilayah yang terdampak adalah Kabupaten Bogor. Kekeringan yang terjadi sejak 1 Juli masih berdampak pada 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa.
Pemerintah daerah setempat melanjutkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. “BPBD Kabupaten Bogor terus mendistribusikan air bersih sebanyak 4.000 liter untuk Desa Hambalang di Kecamatan Citeureup, 2.500 liter untuk Desa Gadog di Kecamatan Megamendung, serta 5.000 liter untuk Desa Sukajaya di Kecamatan Sukajaya guna memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak,” ujar Abdul Muhari.
Distribusi air bersih dan dampak di Jawa Tengah
Di Jawa Tengah, BNPB mencatat kekeringan masih berlangsung di beberapa kabupaten. Salah satunya Kabupaten Banyumas yang terdampak pada 2.867 kepala keluarga atau 9.002 jiwa.
BPBD Banyumas telah menyalurkan tiga tangki atau 15.000 liter air bersih untuk membantu kebutuhan warga. Sementara itu, kekeringan di Kabupaten Cilacap memengaruhi 8.154 kepala keluarga atau 27.605 jiwa.
Hingga 21 Juli, distribusi air bersih di Cilacap mencapai 60 tangki atau sekitar 315.000 liter. Data penyaluran itu menunjukkan upaya pemenuhan kebutuhan air terus berjalan untuk mengurangi tekanan yang dialami warga terdampak.
Berita Terkait
Kabupaten Klaten juga masih mengalami dampak kekeringan. Dalam periode yang dihimpun, kekeringan berdampak pada 3.330 kepala keluarga atau 10.908 jiwa.
BPBD Klaten menyalurkan 321 tangki atau sekitar 1,6 juta liter air bersih sejak pertengahan Juni hingga 21 Juli. Distribusi tersebut terutama dilakukan untuk Kecamatan Kemalang.
BNPB juga mencatat dampak kekeringan di Kabupaten Sragen. Kekeringan yang terjadi sejak awal Juli 2026 berdampak pada 294 kepala keluarga atau 736 jiwa, sesuai pernyataan Abdul Muhari.
“Di Kabupaten Sragen, kekeringan yang terjadi sejak awal Juli 2026 berdampak pada 294 kepala keluarga atau 736 jiwa,” ujar Abdul Muhari. BPBD Sragen kemudian menyalurkan 10.000 liter air bersih ke Desa Galeh dan Desa Poleng.
Selain itu, Kabupaten Grobogan disebut masih terdampak kekeringan dengan jumlah 1.128 kepala keluarga. BNPB menempatkan informasi tersebut sebagai bagian dari pemantauan kejadian bencana dalam periode pelaporan yang sama.
Secara keseluruhan, laporan BNPB menggambarkan bahwa kekeringan berpotensi meluas dalam rentang waktu pengamatan. Di tengah kondisi tersebut, penyaluran air bersih oleh perangkat daerah menjadi respons utama untuk membantu warga terdampak agar kebutuhan dasar tetap dapat dipenuhi.
BNPB menegaskan, selama periode pengamatan yang dihimpun pada Selasa (21/7/2026) pukul 07.00 WIB sampai Rabu (22/7/2026) pukul 07.00 WIB, kekeringan tercatat masih menjadi kejadian yang paling menonjol dibanding jenis bencana lain. Pemerintah melalui perangkat terkait kemudian mengarahkan perhatian pada penanganan kekeringan sekaligus kebakaran hutan dan lahan, karena kedua kondisi itu dapat menimbulkan tekanan lanjutan bagi aktivitas warga. Dalam konteks kekeringan, kebutuhan air bersih menjadi kebutuhan yang paling cepat dirasakan dampaknya.
Di Jawa Barat, Kabupaten Bogor masuk dalam wilayah terdampak. Distribusi air bersih terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan bagi rumah tangga terdampak, dengan penyaluran yang diarahkan ke beberapa desa di Kecamatan Citeureup, Megamendung, serta Sukajaya. Langkah penyaluran tersebut disampaikan sebagai upaya berkelanjutan yang mengikuti perkembangan kondisi di lapangan sejak awal bulan Juli, sehingga bantuan dapat menjangkau masyarakat sesuai wilayah yang mengalami penurunan ketersediaan air.
Sementara itu, di Jawa Tengah, pemantauan BNPB menunjukkan kekeringan berdampak di beberapa kabupaten, termasuk Banyumas, Cilacap, Klaten, Sragen, dan Grobogan. Di Banyumas, penyaluran berupa tangki air dilakukan untuk membantu kebutuhan warga, sedangkan di Cilacap dan Klaten distribusi berlanjut hingga akumulasi jumlah tangki yang dicatat sampai sekitar 21 Juli. Untuk Sragen, penyaluran air bersih juga disebut diberikan kepada Desa Galeh dan Desa Poleng, lalu untuk Grobogan BNPB memasukkan data dampak pada pemantauan periode yang sama. Dengan begitu, respons daerah terlihat terarah pada pemenuhan air bersih secara bertahap di masing-masing titik terdampak.












