Bisnis & Ekonomi

Danantara Masih Kaji Produk Turunan Nikel untuk Ekspor SDA Satu Pintu

0
×

Danantara Masih Kaji Produk Turunan Nikel untuk Ekspor SDA Satu Pintu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Danantara Masih Kaji Produk Turunan Nikel Ikut Ekspor SDA 1 Pintu - Energi

jurnalistik.co.id – Danantara masih menimbang apakah produk turunan nikel akan ikut masuk dalam skema ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kajian itu belum mengerucut, karena perusahaan masih melihat sejauh mana proses hilirisasi nikel sudah berjalan sebelum komoditas tersebut dilepas ke pasar luar negeri.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa nikel tidak bisa diperlakukan sama seperti komoditas mentah yang langsung diperdagangkan begitu saja. Menurut dia, tahap pengolahan menjadi penentu utama karena nikel harus sudah melalui proses hingga ke hilir terlebih dahulu.

“Soal nikel itu kita harus proses, harus sudah diproses hingga ke hilir. Dan apabila nanti downstream -nya dipakai hingga akhir sampai pembuatan mobil atau sebagainya, ya kita enggak bisa ekspor apa-apa, ya enggak perlu diekspor karena itu kegunaannya,” ungkap Pandu dalam agenda Investor Daily Round Table di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Danantara belum memutuskan secara final posisi produk turunan nikel dalam skema ekspor SDA satu pintu. Bagi Danantara, yang menjadi pertanyaan bukan sekadar apakah produk itu bisa dijual ke luar negeri, melainkan apakah nilai tambah dari proses pengolahannya masih relevan untuk diekspor atau justru lebih tepat dipakai di dalam negeri.

Posisi tawar jadi pertimbangan utama

Pandu menambahkan, Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia harus bisa memanfaatkan posisi tawar yang dimiliki. Dengan status itu, menurut dia, Indonesia tidak semestinya hanya berhenti pada volume ekspor, melainkan juga harus memperhitungkan nilai yang bisa diperoleh dari setiap tahap pengolahan.

“Kami ingin memiliki daya tawar yang lebih baik antara pembeli dan penjual. Kalau nikel memang prosesnya sudah sampai hilir, sehingga kita bisa mendapatkan nilai yang lebih baik untuk aset itu. Jadi, kurang lebih adalah bagaimana kami bisa memiliki nilai lebih untuk diberikan ke Indonesia,” ungkap Pandu.

Dalam pandangan Danantara, hilirisasi bukan hanya urusan teknis pemrosesan bahan tambang. Lebih jauh, hilirisasi juga menjadi bagian dari strategi untuk memastikan bahwa nilai ekonomi dari nikel tidak habis di tahap awal, melainkan memberi manfaat lebih besar bagi Indonesia.

Karena itu, pembahasan soal produk turunan nikel masih berlangsung. Danantara belum menyimpulkan apakah komoditas tersebut akan ikut dibawa ke dalam jalur ekspor PT DSI, sebab keputusan itu sangat bergantung pada hasil proses pengolahan dan pada tahap mana produk nikel tersebut berhenti digunakan.

Sikap hati-hati itu juga sejalan dengan cara Danantara memandang tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Perusahaan pelat merah tersebut menempatkan nikel sebagai salah satu komoditas strategis yang tidak bisa diputuskan hanya berdasarkan kebutuhan perdagangan sesaat, tetapi juga berdasarkan manfaat jangka panjang untuk negara.

Di sisi lain, Pandu menegaskan bahwa PT DSI sebagai anak usaha Danantara yang disiapkan untuk mengatur tata kelola ekspor komoditas SDA akan menjalankan ekspor penuh untuk tiga komoditas mulai 1 Januari 2027. Tiga komoditas itu adalah batu bara, minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), dan paduan besi atau ferro alloy.

Dengan begitu, peta awal ekspor satu pintu yang disiapkan Danantara sudah memiliki kerangka yang lebih jelas untuk tiga komoditas tersebut. Namun, khusus nikel, perusahaan masih berhitung dan belum memasukkan produk turunannya ke dalam daftar yang dipastikan ikut diekspor.

Perbedaan perlakuan itu memperlihatkan bahwa setiap komoditas akan diperlakukan sesuai karakter pengolahannya masing-masing. Pada nikel, pertanyaannya bukan hanya siapa yang mengekspor, tetapi juga sampai sejauh mana nilai tambah dari hilirisasi masih perlu dijaga agar tidak hilang di tengah rantai produksi.

Karena itu, kajian Danantara atas produk turunan nikel masih terbuka. Selama proses hilirisasi belum benar-benar jelas hingga titik akhirnya, perusahaan memilih menahan keputusan dan memastikan bahwa setiap langkah tetap sejalan dengan tujuan utama: memberi nilai yang lebih baik untuk aset itu dan menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi Indonesia.