jurnalistik.co.id – Di tengah berbagai indikator makroekonomi yang masih tampak stabil, ada satu sinyal yang semakin sulit diabaikan: daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, sedang melemah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, bahkan pada triwulan I 2026 sempat mencapai 5,61 persen, sementara inflasi relatif terkendali dan stimulus pemerintah terus digulirkan.
Namun, di balik angka-angka yang terlihat positif itu, banyak keluarga kelas menengah merasakan hal yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Pendapatan mereka tidak lagi bertumbuh secepat biaya hidup, sehingga ruang untuk belanja, menabung, dan berinvestasi menjadi semakin sempit.
Gejala itu terlihat dari semakin banyak rumah tangga yang menunda pembelian barang tahan lama, mengurangi pengeluaran untuk rekreasi, hingga beralih ke produk yang lebih murah. Di sejumlah kota besar, perlambatan juga mulai terasa di restoran, pusat perbelanjaan, dan sektor properti.
Tekanan yang dirasakan bukan sekadar statistik
Karena itu, persoalan daya beli tidak bisa dipandang hanya sebagai isu angka dalam laporan ekonomi. Bagi jutaan masyarakat, kondisi ini sudah menjadi kenyataan harian yang langsung memengaruhi cara mereka mengatur pengeluaran keluarga.
Yang membuat situasi ini lebih mengkhawatirkan adalah pelemahan justru terjadi pada kelompok yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi nasional, yakni kelas menengah. Ketika kelompok ini tertekan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga itu sendiri, tetapi juga oleh ekonomi secara keseluruhan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2024, kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup sekitar 66 persen populasi Indonesia. Kontribusinya terhadap total konsumsi nasional juga sangat besar, yakni lebih dari 81 persen.
Artinya, kekuatan konsumsi rumah tangga Indonesia sangat bergantung pada kondisi ekonomi kelompok ini. Jika daya beli kelas menengah melemah, maka tantangannya bukan lagi urusan individu, melainkan persoalan strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Jumlah kelas menengah justru menyusut
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penduduk yang masuk kategori kelas menengah juga mengalami penurunan. Data yang diolah dari BPS menunjukkan, kelompok ini turun dari sekitar 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.
Pada saat yang sama, kelompok aspiring middle class atau masyarakat yang berada tepat di bawah kelas menengah justru meningkat secara signifikan. Perubahan ini memberi pesan penting bahwa sebagian masyarakat yang sebelumnya sudah berhasil naik ke kelas menengah ternyata tidak mampu mempertahankan posisinya.
Mereka mengalami tekanan ekonomi yang membuat statusnya turun ke kelompok yang lebih rentan. Jika dilihat dalam rentang yang lebih panjang, tren ini disebut sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19.
Sejumlah kajian bahkan menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan jutaan penduduk kelas menengah dalam satu dekade terakhir. Penyusutan itu menjadi sinyal bahwa mobilitas ekonomi yang sebelumnya berjalan cukup baik kini menghadapi hambatan serius.
Paradoks di tengah pertumbuhan
Fenomena ini menciptakan paradoks tersendiri. Di satu sisi, Indonesia berhasil menurunkan angka kemiskinan dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif.
Di sisi lain, kelompok kelas menengah yang semestinya semakin membesar justru mengalami tekanan. Padahal, dalam teori pembangunan, kelas menengah yang kuat merupakan salah satu ciri negara yang sedang bergerak menuju status negara maju.
Kelas menengah biasanya menjadi motor konsumsi, sumber penerimaan pajak, pendorong investasi pendidikan, sekaligus fondasi stabilitas sosial dan politik. Karena itu, ketika kelompok ini melemah, proses transformasi menuju negara maju berpotensi ikut melambat.
Salah satu penyebab utama tekanan itu adalah pertumbuhan pendapatan yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Secara nominal, sebagian pekerja memang mengalami kenaikan pendapatan, tetapi kenaikan itu sering kali tidak cukup untuk mengejar kebutuhan yang terus naik.
Biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, perumahan, hingga kebutuhan digital mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Akibatnya, ruang fiskal rumah tangga menyempit dan sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan rutin.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan menabung dan berinvestasi ikut berkurang. Keluarga kelas menengah akhirnya lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, meski di sisi lain kebutuhan sehari-hari terus berjalan dan tidak bisa ditunda sepenuhnya.
Dengan tekanan seperti ini, masa depan kelas menengah menjadi sorotan penting dalam pembahasan ekonomi Indonesia. Jika kelompok ini terus menyusut dan daya belinya terus tergerus, maka perekonomian nasional berisiko kehilangan salah satu penopang terpentingnya.












