jurnalistik.co.id – Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Cinta Laura di car free day (CFD) Jalan HR Rasuna Said, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, menjadi perhatian warga pada Minggu, 7 Juni 2026.
Keduanya terlihat hadir sejak pagi dan berjalan menyusuri kawasan yang dipadati masyarakat. Warga yang memanfaatkan momen untuk berolahraga dan berekreasi langsung tertarik melihat Pramono serta Cinta berbaur di tengah keramaian.
Di lokasi kegiatan, Pramono dan Cinta menyapa warga, melayani permintaan swafoto, serta menyampaikan pesan kampanye pilah sampah yang tengah digencarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam kegiatan itu, Cinta hadir sebagai duta atau brand ambassador program pilah sampah Pemprov DKI.
CFD sebagai pengingat menjaga lingkungan
Cinta menyampaikan bahwa ruang publik seperti CFD tidak hanya soal aktivitas fisik. Ia melihat kegiatan di area publik bisa menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Kesan jalan pagi bersama Bapak Gubernur dan Bapak-Ibu sekalian seru. Tapi sebenarnya yang membuat saya bahagia bukan hanya jalan paginya, tapi masalah lingkungan yang sebenarnya adalah masalah kemanusiaan,” ujar Cinta kepada awak media.
Menurut Cinta, ruang publik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain mendorong gaya hidup sehat, ruang publik juga memberi ruang bagi warga untuk berinteraksi secara langsung di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi.
Ia berharap semangat tersebut bisa berpengaruh lebih luas. “Dengan semakin banyak public space atau tempat publik di mana warga Jakarta dan warga Indonesia bisa berolahraga, bisa berkomunikasi, saya harap ini juga bisa membantu isu tersebut,” kata dia.
Cinta juga menilai masyarakat saat ini cenderung terlalu dekat dengan gawai. Akibatnya, perlahan muncul kecenderungan untuk melupakan pentingnya bergerak aktif serta menjalin interaksi dengan lingkungan sekitar.
“Karena itu, saya berharap keberadaan CFD dapat menginspirasi daerah lain untuk menghadirkan lebih banyak ruang publik yang mendukung gaya hidup sehat sekaligus memperkuat interaksi sosial,” tuturnya.
Perubahan kebiasaan mengelola sampah
Selain mengampanyekan gaya hidup sehat, Cinta mengajak masyarakat untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah, khususnya generasi muda. Ia menilai persoalan jalanan yang kotor, polusi udara, hingga kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) yang semakin terbatas menjadi keluhan yang kerap muncul.
Namun, Cinta menegaskan perubahan tidak akan terjadi apabila masyarakat tidak memulainya dari diri sendiri. “Tapi yang seharusnya kita lakukan bukanlah menyalahkan, tapi merubah kebiasaan kita,” ujar Cinta.
Dalam konteks kampanye pilah sampah yang disampaikan di CFD, pesan tersebut sekaligus mengarahkan perhatian pada tindakan yang bisa dilakukan dalam keseharian. Kehadiran Pramono Anung bersama Cinta Laura di ruang publik itu pun menjadi penguat ajakan agar warga mulai membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
CFD Rasuna Said pada Minggu pagi tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan yang berpusat pada olahraga dan rekreasi dapat menjadi saluran edukasi. Di saat yang sama, suasana ramah warga di lapangan ikut menegaskan bahwa pesan lingkungan dapat disampaikan melalui interaksi langsung, bukan hanya melalui imbauan.
Di sepanjang rute car free day, perhatian warga muncul tidak hanya karena aktivitas berjalan bersama, tetapi juga karena kesempatan untuk berinteraksi langsung. Saat Pramono Anung dan Cinta Laura menyapa, meladeni permintaan swafoto, dan berbicara mengenai kampanye pilah sampah, suasana keramaian menjadi lebih terarah. Warga yang awalnya sekadar ingin menikmati CFD turut mendengar pesan lingkungan secara langsung, sehingga ajakan tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cinta menekankan bahwa ketika ruang publik dibuka untuk aktivitas fisik, pesan yang dibawa juga dapat menyentuh sisi yang lebih luas. Ia melihat isu lingkungan bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan terkait kualitas hidup dan kemanusiaan. Dengan semakin banyaknya waktu yang dihabiskan di balik gawai, ia menilai kegiatan seperti CFD memberi jeda sekaligus mengajak masyarakat kembali bergerak, memperhatikan lingkungan, dan membangun kembali interaksi sosial yang selama ini berkurang.
Dalam kampanye pilah sampah yang disampaikan di lokasi, Cinta juga menggarisbawahi perlunya perubahan kebiasaan dari diri sendiri, terutama bagi generasi muda. Ia mengaitkan pesan tersebut dengan keluhan yang kerap muncul, seperti jalanan yang kotor, polusi udara, serta kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) yang semakin terbatas. Lewat contoh di ruang publik, ia berharap semangat di CFD dapat menular dan mendorong daerah lain menghadirkan lebih banyak public space yang mendukung gaya hidup sehat sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.












