Hukum & Kriminal

Dikira Sedang Tidur, Lansia di Serang Hidup Bersama Jasad Suaminya 3 Hari

×

Dikira Sedang Tidur, Lansia di Serang Hidup Bersama Jasad Suaminya 3 Hari

Sebarkan artikel ini
Dikira Sedang Tidur, Lansia di Serang Hidup Bersama Jasad Suaminya Selama 3 Hari Regional 17 Juni 2026
Ilustrasi: Dikira Sedang Tidur, Lansia di Serang Hidup Bersama Jasad Suaminya Selama 3 Hari

jurnalistik.co.id – Peristiwa memilukan terjadi di Perumahan Taman Banten Lestari, Kelurahan Unyur, Kota Serang, Banten. Seorang perempuan berinisial NA (61) diduga tidak menyadari bahwa suaminya, IY (68), telah meninggal dunia selama sekitar tiga hari.

Menurut polisi, kondisi psikologis NA dinilai menjadi salah satu faktor yang membuatnya tidak mengetahui kepergian sang suami. Kanit Reskrim Polsek Serang, Ipda Nuryanto, mengatakan IY diperkirakan telah meninggal dunia sekitar tiga hari sebelum ditemukan.

Ipda Nuryanto menyampaikan, “Diperkirakan meninggal dunia sudah tiga hari lalu. Istrinya mengira suaminya masih hidup, (hanya) sedang tidur,” saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (17/6/2026).

IY pertama kali ditemukan oleh adik iparnya bersama sejumlah tetangga pada Rabu pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat ditemukan, korban berada di dalam kamar rumah mereka.

Setelah menerima laporan, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi jenazah ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan keluarga dan riwayat kesehatan korban, IY diketahui memiliki penyakit diabetes.

Ipda Nuryanto menjelaskan proses pemeriksaan jenazah yang dilakukan. Ia mengatakan, “Jasad korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Polda Banten untuk keperluan autopsi dan hasilnya meninggal karena sakit,”.

Ia melanjutkan, “Saat ini, jenazah sudah dikembalikan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan,”. Setelah proses penanganan selesai, pihak keluarga kemudian mempersiapkan penyemadian sesuai kebutuhan pemakaman.

Peristiwa ini juga menyita perhatian warga sekitar karena hubungan pasangan tersebut sebelumnya dikenal hanya berdua. Menurut warga setempat, pasangan lansia tersebut selama ini tinggal sendirian di rumah.

Salah seorang warga, Melani, mengatakan kondisi keluarga berubah setelah putri tunggal mereka meninggal dunia karena sakit sekitar setahun lalu. Sejak saat itu, pasangan lansia tersebut dikenal semakin tertutup dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Melani menuturkan, “Mereka tinggal berdua saja. Dua hari lalu, saat ditanya warga, Bu NA menjawab suaminya ada di rumah dan sedang masuk angin. Tetangga tidak curiga,”. Keterangan tersebut menggambarkan bahwa warga tidak memiliki tanda yang cukup untuk menduga kejadian sebenarnya berlangsung di dalam rumah.

Dengan minimnya interaksi dan keterbatasan informasi yang diterima lingkungan, warga baru mengetahui kondisi yang terjadi setelah ada penemuan jenazah. Kehadiran adik ipar bersama tetangga pada pagi hari menjadi titik awal ditemukannya IY di dalam kamar.

Bagi warga sekitar, peristiwa ini menimbulkan keterkejutan sekaligus keprihatinan. Di satu sisi, NA telah lebih dahulu ditinggalkan oleh putri tunggalnya, dan di sisi lain, ia kemudian harus menghadapi kehilangan suaminya dalam kondisi yang baru terungkap setelah beberapa hari.

Hingga saat ini, polisi terus memproses kasus sesuai prosedur yang berlaku. Penilaian awal yang disampaikan petugas menekankan dugaan keterkaitan antara kondisi psikologis NA dan ketidaktahuan mengenai kondisi sang suami.

Peristiwa di Serang tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bagaimana masalah emosional dan keterasingan dalam lingkungan rumah tangga dapat berujung pada keterlambatan penemuan. Polisi mengingatkan agar keluarga dan lingkungan sekitar peka terhadap perubahan perilaku yang berulang, terutama pada lansia yang tinggal sendiri.

Dalam kasus ini, rangkaian kejadian berawal dari persepsi yang keliru di lingkungan rumah tangga. NA, menurut keterangan yang disampaikan, baru menyadari kondisi suaminya setelah jenazah ditemukan oleh adik ipar bersama tetangga pada Rabu pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah penemuan itu, petugas kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara, melakukan pemeriksaan jenazah, dan menangani proses autopsi sesuai kebutuhan medis.

Seiring berjalannya waktu, perhatian warga juga muncul karena perubahan yang sebelumnya sudah terlihat di kehidupan sehari-hari pasangan tersebut. Setelah putri tunggalnya meninggal dunia sekitar setahun lalu, mereka dikenal semakin tertutup dan jarang berinteraksi. Pola hubungan yang selama ini terbatas membuat informasi yang diterima lingkungan menjadi minim, sehingga ketika warga sempat menanyakan kondisi suami, tidak muncul kecurigaan yang mengarah pada situasi yang sebenarnya.

Peristiwa ini sekaligus menegaskan pentingnya kepedulian saat menghadapi lansia yang tinggal sendiri dan mengalami perubahan suasana hati atau perilaku. Keterangan awal polisi menyoroti dugaan bahwa kondisi psikologis NA turut memengaruhi ketidaktahuan atas kepergian suami. Ke depan, kewaspadaan di tingkat keluarga dan lingkungan diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan bila ada tanda yang tidak lazim, terutama pada kondisi kesehatan yang memiliki riwayat penyakit seperti diabetes.