Bisnis & Ekonomi

DPR: RI Selalu Punya Jalan Keluar Baru untuk Hadapi Krisis Ekonomi

0
×

DPR: RI Selalu Punya Jalan Keluar Baru untuk Hadapi Krisis Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: DPR: RI Selalu Punya Jalan Keluar Baru Hadapi Krisis Ekonomi - Market

jurnalistik.co.id – Ketua Komisi XI DPR Muhammad Misbakhun menilai stabilitas ekonomi Indonesia hingga saat ini masih terjaga, meski belakangan pasar sempat diguncang isu pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut dia, kondisi itu tidak lepas dari cara Indonesia merespons setiap krisis dengan menghadirkan jalan keluar baru.

“Salah satu yang membuat kita mempunyai stabilitas seperti saat ini karena apa? Karena respons Indonesia pada saat menghadapi krisis itu kita selalu memberikan jalan keluar baru,” ujarnya dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Pandangan Misbakhun itu menempatkan ketahanan ekonomi Indonesia sebagai hasil dari kemampuan negara membaca situasi dan menyesuaikan kebijakan saat menghadapi tekanan. Dalam penjelasannya, pola semacam itu disebutnya sudah terlihat sejak Indonesia melewati berbagai guncangan besar yang meninggalkan jejak penting bagi sistem ekonomi nasional.

Ia mencontohkan krisis moneter 1998 yang kala itu dipicu oleh krisis kepercayaan terhadap bank. Dari peristiwa itu, pemerintah kemudian merespons dengan menghadirkan solusi baru melalui lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Bagi Misbakhun, kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk jawaban institusional atas krisis yang pernah mengguncang ekonomi nasional.

Ia juga menyebut pengalaman lain pada saat ekonomi global ikut berdampak ke Indonesia melalui Global Financial Crisis (GFC) 2008. Dalam periode itu, menurut dia, lahir pula struktur aturan baru berupa pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011. Dua contoh tersebut dipakai Misbakhun untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga membangun perangkat baru saat menghadapi tekanan.

Di tengah isu-isu yang belakangan ramai, mulai dari pelemahan rupiah hingga koreksi IHSG, Misbakhun menekankan bahwa stabilitas yang ada sekarang harus dibaca sebagai hasil dari pengalaman panjang menghadapi krisis. Dengan kata lain, menurut dia, tantangan yang muncul di pasar bukan hal yang asing bagi Indonesia karena negeri ini pernah melewati situasi yang jauh lebih berat dan tetap mampu menyesuaikan diri.

Ia tidak menjelaskan secara rinci keterkaitan langsung antara kondisi pasar terbaru dan kebijakan yang disebutnya. Namun, dari pernyataannya di KNPED, terlihat bahwa ia ingin menegaskan pentingnya kemampuan negara menyiapkan jawaban baru setiap kali tekanan ekonomi muncul. Sikap itu, menurut dia, menjadi alasan mengapa stabilitas masih dapat dipertahankan sampai sekarang.

Dalam forum yang berlangsung di Jakarta itu, pernyataan Misbakhun juga menegaskan bahwa pengalaman krisis tidak berdiri sebagai catatan masa lalu semata. Bagi dia, krisis 1998 dan GFC 2008 merupakan titik-titik penting yang kemudian membentuk kerangka baru dalam pengelolaan sektor keuangan dan ekonomi Indonesia. Dari sana, negara dinilai belajar dan membangun mekanisme yang lebih siap menghadapi gejolak.

Karena itu, stabilitas ekonomi Indonesia yang menurutnya masih terjaga bukan dilihat sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya. Misbakhun justru menggambarkannya sebagai hasil dari respons yang terus berkembang ketika krisis datang. Dalam pandangannya, setiap tekanan besar selalu diikuti oleh lahirnya jalan keluar baru, dan itulah yang menjaga ekonomi tetap berdiri meski sempat diterpa sentimen negatif di pasar.

Dengan dasar pandangan itu, Misbakhun seolah ingin mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar sesaat, tetapi juga oleh kesiapan negara dalam memperbarui instrumen kebijakan ketika situasi berubah. Bagi dia, pengalaman menghadapi tekanan besar justru membentuk fondasi yang membuat Indonesia lebih tahan menghadapi guncangan berikutnya.

Karena itu, stabilitas yang masih terlihat hari ini diposisikan bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai buah dari proses panjang penyesuaian dan pembelajaran. Cara pandang seperti ini menempatkan krisis bukan semata ancaman, melainkan juga momentum yang mendorong lahirnya kebijakan baru untuk menjaga perekonomian tetap bergerak.