Entertainment

Gambang Kromong Terus Bergema di Tangan Gen Z Jakarta

0
×

Gambang Kromong Terus Bergema di Tangan Gen Z Jakarta

Sebarkan artikel ini
Gambang Kromong Tetap Bergema di Tangan Gen Z News 8 Juni 2026
Ilustrasi: Gambang Kromong Tetap Bergema di Tangan Gen Z

jurnalistik.co.id – Denting suara alat musik tradisional gambang berpadu dengan gesekan sukong dan alunan kromong memecah suasana sore di Jalan Pengadegan Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan.

Di antara para pemain musik yang duduk berjejer, terlihat wajah-wajah muda yang menekuni beragam alat musik tradisional. Jari-jari mereka bergerak lincah saat menghidupkan kembali irama yang selama ratusan tahun akrab bagi warga Betawi.

Di tengah arus musik modern dan budaya digital, generasi Z yang terlibat di Sanggar Silibet Pengadegan memilih jalan yang berbeda: menjaga agar gambang kromong tetap terdengar dan terus dipelajari.

Ketua Divisi Gambang Kromong Sanggar Silibet Hastomo Cahyo (28) mengatakan, jumlah anggota saat ini sekitar 14 orang. Namun, tidak semua anggota tampil di setiap acara, karena permainan gambang kromong di Sanggar Silibet terbagi menjadi dua kategori.

Gambang kromong klasik dan modern

Jika yang dimainkan termasuk kategori klasik, alat musik yang tampil hanya tradisional. Instrumen yang disebut, antara lain gambang, kromong, gendang, taehyan, sukong, dan lainnya, dengan personel sekitar tujuh hingga delapan orang.

Sementara itu, bila formatnya modern, permainan akan mendapatkan tambahan alat musik seperti drum, keyboard, bass, dan gitar. Pada kondisi ini, jumlah personel yang tampil bisa mencapai 14 orang.

Pembagian kategori tersebut membuat pertunjukan dapat menyesuaikan kebutuhan acara tanpa meninggalkan unsur tradisional yang menjadi inti gambang kromong.

Hastomo menyampaikan bahwa ketertarikan para anggota muda tidak muncul secara instan. Prosesnya terlihat dari bagaimana mereka mulai mengenal instrumen, lalu berlatih hingga mampu memainkan rangkaian musik bersama alat-alat tradisional lainnya.

Di sanggar, salah satu personel yang akrab disapa Tomo mengaku sudah diperkenalkan gambang kromong oleh ayahnya sejak kecil. Ayah Tomo merupakan seorang seniman gambang kromong dan membuka sanggar bernama Dendang Jakarta di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Sejak usia kecil, Tomo diceritakan dipaksa untuk berlatih memainkan alat-alat tradisional yang ada dalam gambang kromong. Dari proses latihan itulah, ia kemudian menjatuhkan pilihan pada kromong dan mulai berlatih lebih serius.

Menurut Tomo, latihan dengan kesungguhan dimulai sejak ia duduk di kelas enam sekolah dasar (SD). Pada tahap itu, ia berupaya membangun kemampuan bermain sambil tetap mengikuti berbagai unsur musik yang menjadi bagian dari gambang kromong.

Tomo baru bisa memainkan kromong secara baik beriringan dengan alat musik tradisional lain ketika sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Ia menilai kematangan bermain tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kebiasaan memainkan bersama instrumen lain dari waktu ke waktu. Pola latihan yang ia jalani dari SD hingga SMP menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Selain Tomo, ada juga Nouval (19) yang memilih menekuni gambang kromong karena ingin mengikuti jejak sang ayah. Nouval menceritakan bahwa dirinya memang berperan sebagai penerus tradisi keluarga dalam permainan alat musik tersebut.

“Alhamdulillah, saya memang penerus. Orangtua saya adalah pemain alat musik, salah satunya Tehyan. Paman saya juga pemain Tehyan, dan sekarang saya yang meneruskannya,” ungkap Nouval ketika ditemui Kompas.com di Sanggar Silibet, Kamis (4/6/2026).

Dengan latar belakang seperti itu, Nouval memosisikan gambang kromong bukan sekadar kegiatan musik, melainkan kelanjutan dari keterlibatan keluarga pada alat musik tertentu, termasuk Tehyan yang disebutnya dalam kutipan.

Di Sanggar Silibet Pengadegan, irama yang dimainkan bergema dari generasi ke generasi melalui cara yang terstruktur: ada pembagian klasik dan modern, ada kesesuaian jumlah personel, dan ada proses latihan yang dialami para anggota sejak usia lebih muda.

Pada Jumat (4/6/2026), terlihat bagaimana kelompok pemain bergerak serempak saat mengisi waktu di sudut Jalan Pengadegan Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan. Gambang kromong hadir sebagai bagian dari aktivitas sanggar, sementara para Gen Z menjalankan peran mereka di atas berbagai instrumen yang disebutkan.

Melalui upaya tersebut, gambang kromong terus mendapatkan ruang untuk bertahan. Di tangan para anggota muda Sanggar Silibet Pengadegan, musik tradisional Betawi tetap berada dalam jangkauan generasi yang hidup berdampingan dengan budaya digital.