jurnalistik.co.id – Kebijakan Indonesia menerapkan ekspor komoditas sumber daya alam satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai bukan hanya berdampak pada tata kelola ekspor di dalam negeri, tetapi juga berpotensi mengerek harga batu bara global. Dalam pandangan analis komoditas dan founder Traderindo, Wahyu Laksono, kenaikan itu bisa mencapai 25% jika pasar membaca kebijakan baru tersebut sebagai pemicu gangguan pasokan yang berat.
Wahyu menjelaskan, skenario kenaikan harga tersebut sangat mungkin terjadi karena Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Rerata pengapalan batu bara Indonesia berada di kisaran 350—400 juta ton per tahun, sehingga setiap perubahan struktural dalam mekanisme ekspor berpotensi langsung terasa di pasar internasional.
“Jadi setiap kebijakan struktural yang diambil Indonesia pasti memiliki gaung di pasar global. Harga batu bara global justru berpotensi merangkak naik akibat kekhawatiran kelangkaan pasokan [ supply shock ],” ujarnya saat dihubungi, Senin (25/5/2026).
Menurut Wahyu, kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan menjadi faktor paling penting dalam membaca dampak kebijakan ekspor satu pintu tersebut. Selama transisi berlangsung, perhatian utama pasar bukan hanya pada aturan baru yang diterapkan, tetapi juga pada seberapa mulus arus barang keluar dari pelabuhan Indonesia.
Ia menambahkan bahwa apabila PT DSI berhasil mengonsolidasikan atau bahkan “memonopoli” volume ekspor komoditas dengan baik, badan tersebut justru bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Dalam kondisi itu, pengendalian harga menjadi lebih mungkin dilakukan agar harga batu bara tidak jatuh terlalu dalam di pasar global.
“Jadi, pengaruhnya sangat bergantung pada seberapa lancar arus barang keluar dari pelabuhan kita selama masa transisi ini,” tambahnya.
Di sisi lain, kebijakan ekspor komoditas SDA satu pintu ini tetap memunculkan pembacaan berbeda dari pasar. Bagi sebagian pelaku, sentralisasi ekspor bisa dipandang sebagai langkah yang memberi kepastian koordinasi. Namun bagi pasar global, perubahan besar dalam struktur ekspor dari negara pemasok utama seperti Indonesia cenderung dibaca sebagai faktor yang bisa memengaruhi keseimbangan permintaan dan pasokan.
Dalam konteks itu, kekhawatiran supply shock menjadi penjelasan utama mengapa harga batu bara justru berpeluang naik. Pasar biasanya merespons cepat terhadap potensi hambatan distribusi, terlebih bila hambatan tersebut datang dari negara yang perannya besar dalam rantai pasok batu bara termal dunia.
Karena itu, menurut Wahyu, dampak terbesar dari kebijakan ini tidak semata-mata ada pada perubahan administrasi ekspor, melainkan pada persepsi pasar atas stabilitas pasokan. Selama persepsi tersebut belum meyakinkan, harga batu bara global masih berpotensi bergerak naik karena pelaku pasar cenderung mengantisipasi risiko sejak awal.
Meski demikian, jika mekanisme baru ini berjalan lancar dan volume ekspor dapat dikonsolidasikan dengan baik, PT DSI disebut bisa memainkan peran yang lebih strategis. Dalam skenario tersebut, Indonesia bukan hanya menjadi pemasok besar batu bara termal, tetapi juga memiliki ruang tawar yang lebih kuat dalam menjaga harga agar tidak anjlok terlalu dalam di pasar global.
Pada akhirnya, arah pengaruh kebijakan ekspor satu pintu ini akan sangat ditentukan oleh fase transisi yang sedang berlangsung. Selama arus barang dari pelabuhan tetap lancar, pasar cenderung melihat kebijakan ini sebagai penguatan tata kelola. Namun jika muncul hambatan, sentimen supply shock bisa dominan dan memicu kenaikan harga hingga 25% seperti yang disampaikan Wahyu.
Di titik ini, pasar tampaknya lebih sensitif pada sinyal ketimbang pada detail teknis kebijakan. Begitu ada indikasi bahwa alur ekspor tidak berjalan mulus, kekhawatiran akan pasokan bisa lebih cepat menguat dibanding penilaian atas manfaat koordinasi yang dijanjikan.
Karena itu, fase awal penerapan kebijakan menjadi penentu penting bagi sentimen global. Jika proses transisi mampu menjaga kelancaran pengiriman, tekanan ke pasar bisa mereda; sebaliknya, bila muncul friksi, harga batu bara berpeluang semakin responsif terhadap risiko yang dipersepsikan pelaku pasar.












