jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia bergerak tipis melemah setelah Amerika Serikat dan Iran disebut mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari ke depan. Kesepakatan itu dinilai bisa membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang sangat penting bagi distribusi energi global.
Di pasar berjangka, West Texas Intermediate (WTI) turun mendekati US$88 per barel setelah mengalami perdagangan yang berfluktuasi pada Kamis. Sementara itu, Brent ditutup di sekitar US$94 per barel.
Sentimen pasar masih rapuh
Pergerakan harga itu terjadi di tengah ekspektasi bahwa minyak mentah menuju kerugian bulanan yang tajam. Optimisme pasar meningkat bahwa suatu bentuk kesepakatan akan tercapai, meski pihak-pihak yang bertikai berulang kali mengklaim ada kemajuan, tetapi kebuntuan tetap berlanjut.
Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari juga masih menjadi perhatian besar pasar energi. Kondisi tersebut memicu guncangan energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan jutaan barel pasokan minyak harian terhenti.
Tekanan pada harga minyak tidak lepas dari kekhawatiran bahwa gangguan di jalur strategis itu dapat mengubah aliran pasokan dalam waktu singkat. Karena itu, setiap sinyal mereda atau memburuknya ketegangan langsung tercermin ke pergerakan harga di pasar.
Dalam konferensi pers pada Kamis, Menteri Keuangan Scott Bessent hanya mengatakan “tim-tim telah bolak-balik” ketika ditanya apakah kesepakatan sementara memang sudah tercapai. Pernyataan singkat itu membuat pasar tetap menunggu kejelasan lebih lanjut dari pembicaraan kedua negara.
Di sisi lain, arah harga minyak pada dasarnya masih ditentukan oleh bagaimana pasar membaca kemungkinan tercapainya kesepakatan yang bisa menahan eskalasi lebih jauh. Selama kejelasan belum muncul, harga minyak diperkirakan tetap bergerak sensitif mengikuti setiap perkembangan diplomatik antara Washington dan تهران.
Di tengah kondisi seperti itu, pelaku pasar cenderung memilih sikap menunggu. Perdagangan minyak menjadi sangat peka terhadap satu kalimat tambahan, satu sinyal politik, atau satu pernyataan resmi yang bisa mengubah persepsi dalam hitungan menit. Karena itu, meski pergerakan harga tampak kecil, arah sentimen sebenarnya masih jauh dari stabil.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons angka di layar, tetapi juga membaca apakah tensi antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar mereda atau justru sekadar tertunda. Selama kepastian belum hadir, setiap rumor mengenai kelanjutan gencatan senjata akan tetap memiliki dampak yang besar terhadap ekspektasi perdagangan energi.
Situasi ini juga membuat harga minyak bergerak dalam rentang yang sempit namun gelisah. Penurunan tipis tidak otomatis berarti tekanan jual yang kuat, sama seperti kenaikan kecil belum tentu menandakan pemulihan yang meyakinkan. Yang terlihat justru pasar yang berhitung hati-hati sambil menimbang risiko terganggunya pasokan dari jalur utama distribusi energi dunia.
Dalam kondisi semacam ini, fokus pasar akan tertuju pada kejelasan berikutnya dari jalannya pembicaraan. Jika nada diplomasi menguat, kekhawatiran terhadap gangguan suplai bisa mereda dan memberi ruang bagi harga untuk lebih tenang. Namun bila perundingan kembali buntu, volatilitas berpotensi muncul lagi karena pasar sudah terlanjur memasukkan faktor ketegangan geopolitik ke dalam harga.
Dengan latar itu, arah minyak mentah masih bergantung pada seberapa lama ketidakpastian ini bertahan. Selama belum ada kepastian penuh mengenai gencatan senjata dan akses pelayaran di Selat Hormuz, pasar energi kemungkinan tetap bergerak dalam pola yang mudah berubah, dengan reaksi yang cepat terhadap setiap perkembangan baru.












