jurnalistik.co.id – Iran menegaskan tidak akan menyerahkan kendali atas Selat Hormuz dalam rancangan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyebut kesepakatan tersebut mungkin segera ditandatangani.
Media pemerintah Iran, IRNA, pada Jumat (12/6/2026) melaporkan bahwa dalam rancangan kesepakatan itu, Teheran tidak berkomitmen untuk menyerahkan pengelolaan selat maupun mengembalikan kondisi yang ada sebelum agresi militer AS dan Israel.
Menurut laporan tersebut, posisi Iran menekankan bahwa isu pengendalian Selat Hormuz tetap menjadi bagian yang tidak berubah dalam pembahasan. Hal itu juga berbeda dengan nada yang belakangan disampaikan Trump terkait peluang penandatanganan perjanjian dengan Teheran.
Trump kembali menyebut kesepakatan dengan Iran kemungkinan segera ditandatangani. Ia mengatakan prosesnya masih menunggu penyelesaian dokumen, dan kemungkinan akan ada upacara penandatanganan di Eropa.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah laporan mengenai kesepakatan yang disebut telah mendekati tahap akhir. Baghaei menegaskan bahwa kabar tersebut masih bersifat spekulatif.
“Tidak ada yang telah difinalisasi,” kata Baghaei, sebagaimana dikutip AFP. Ia menyebut sebagian besar isi rancangan nota kesepahaman telah “difinalisasi”, namun Amerika Serikat mengajukan “tuntutan berlebihan” serta menambahkan “permintaan baru”.
Baghaei juga menyatakan Iran tidak akan “meninggalkan garis merahnya”. Pernyataan tersebut ditempatkan sebagai respons terhadap sinyal AS yang mengarah pada kemungkinan kesepakatan segera terjadi.
Kendali Selat Hormuz jadi pusat pembahasan
Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran. Jalur sempit di Teluk tersebut menjadi rute utama bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Dalam konteks hubungan yang memanas, kedua pihak sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata pada April. Kesepakatan itu muncul setelah perang berlangsung sejak 28 Februari.
Meski gencatan senjata telah disepakati pada periode tersebut, bentrokan kembali terjadi. Dalam pekan ini, AS dan Iran terlibat dua putaran serangan balasan.
Trump menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka “segera setelah kami menandatanganinya”. Pernyataan itu sekaligus mengaitkan pembahasan mengenai selat dengan kelanjutan proses kesepakatan dengan Iran.
Trump juga menegaskan tujuan utama perjanjian tersebut terkait program nuklir. Ia mengatakan kesepakatan itu bertujuan memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
“Kami memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, yang merupakan seluruh tujuan dari apa yang harus kami lalui untuk mendapatkan ini,” ujar Trump.
Meski demikian, Iran memilih menjaga konsistensi pada posisi terkait pengelolaan Selat Hormuz. Laporan IRNA menegaskan Teheran tidak berkomitmen menyerahkan kendali atau mengembalikan kondisi sebelum agresi militer AS dan Israel.
Perbedaan penekanan antara AS dan Iran juga terlihat dari dinamika pernyataan Trump sebelum kabar kesepakatan. Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS akan menyerang Iran “sangat keras” pada Kamis (1/6/2026), sebelum kemudian menyatakan pembatalan serangan.
Pembatalan itu, menurut Trump, terjadi setelah para negosiator mengklaim telah “mencapai penyelesaian besar” dengan Iran. Namun, ketika pembahasan bergerak ke tahap yang lebih formal, Baghaei menilai laporan tentang kesepakatan masih belum dapat dipastikan.
Baghaei menjelaskan sebagian substansi rancangan telah “difinalisasi”, tetapi AS masih membawa “tuntutan berlebihan” dan menambahkan “permintaan baru”. Dengan demikian, isu pengendalian Selat Hormuz tetap berada pada posisi yang dipertahankan Teheran.
Di tengah ketegangan yang berulang, Selat Hormuz terus menjadi simbol sekaligus titik penting yang menentukan bagaimana kesepakatan damai akan dirumuskan. Untuk saat ini, Iran menempatkan kontrol atas selat sebagai batas yang tidak akan diserahkan, sementara AS menyampaikan bahwa proses penandatanganan bisa segera memasuki fase berikutnya.












