jurnalistik.co.id – Dua warga negara Indonesia asal Sumatera Barat dan Kepulauan Riau diduga menjadi korban perdagangan orang (TPPO) di Myanmar setelah tergiur tawaran pekerjaan dari media sosial. Dugaan penyiksaan dan penyekapan terhadap keduanya muncul dari rekaman video yang beredar di media sosial.
Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat, Jupriyadi, menyebut dua warga tersebut berasal dari Agam dan Tanjung Pinang. Menurut dia, warga dari Agam bernama Ayu berangkat lebih dulu ke Sulawesi sebelum akhirnya bertemu dengan warga Tanjung Pinang.
Jupriyadi menjelaskan jalur awal yang ditempuh Ayu maupun rekannya. Ia mengatakan, “Izin awalnya (Ayu) pada keluarga merantau untuk bekerja. Di sana Ayu ini bertemu dengan warga Tanjung Pinang tersebut,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (16/7/2026).
Setelah berinteraksi di Sulawesi, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Jupriyadi menyebut mereka berangkat hingga menuju Batam, lalu menyeberang ke Malaysia, sebelum akhirnya sampai ke Myanmar.
Ia menilai pola perjalanan yang berlapis tersebut tidak sejalan dengan keberangkatan yang sepenuhnya legal. “Kalau seandainya berangkat secara legal, tidak ada Pekerja Migran Indonesia (PMI) bepergian melompat-lompat seperti itu,” tuturnya.
Berdasarkan penelusuran BP3MI, langkah serupa itu diduga diambil karena adanya iming-iming pekerjaan. Jupriyadi mengatakan tawaran tersebut datang melalui media sosial, dengan janji penghasilan serta fasilitas, sementara pekerjaan diperkirakan sangat mudah dilakukan.
Ia menambahkan, “Kemungkinan besar jenis pekerjaannya, scamming (penipuan daring). Tapi, kami masih telusuri,” ujar Jupriyadi. Ia menegaskan pihaknya tetap melakukan pendalaman terkait indikasi penipuan yang diduga menjadi pintu masuk perekrutan.
Koordinasi dan upaya pemulangan
Berita Terkait
Jupriyadi menyatakan sejak memperoleh informasi mengenai kejadian tersebut, BP3MI langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Agam dan pihak kepolisian. Selain itu, BP3MI juga telah melayangkan surat ke kementerian untuk ditindaklanjuti agar diteruskan ke KBRI di Myanmar.
Dalam perkembangan terakhir, Jupriyadi menyebut BP3MI belum dapat memastikan kondisi maupun lokasi kedua korban. Ia menjelaskan, “Sampai saat ini kami belum bisa memastikan kondisi dan lokasinya. Tapi, penjajakan tengah kami lakukan untuk memulangkan keduanya,” jelasnya.
Karena itu, upaya yang dilakukan saat ini berfokus pada penelusuran keberadaan keduanya serta penyiapan langkah agar pemulangan bisa segera dilakukan. Rekaman video yang menampilkan dugaan penyiksaan dan penyekapan menjadi salah satu pemicu percepatan koordinasi dan pencarian informasi.
Kasus ini kembali menguatkan urgensi kehati-hatian saat mencari pekerjaan lewat tawaran di internet, terutama bila alur keberangkatan terlihat tidak wajar. BP3MI menekankan proses penelusuran masih berjalan, termasuk memastikan jenis tawaran pekerjaan yang digunakan sebagai modus.
Dalam keterangan yang dihimpun BP3MI, keterlibatan keduanya berangkat dari pola perjalanan yang berjenjang. Ayu disebut lebih dulu menempuh perjalanan ke Sulawesi, kemudian berhubungan dengan rekannya dari Tanjung Pinang. Setelah itu, keduanya melanjutkan rute menuju Batam, diteruskan lewat persinggahan di Malaysia, hingga akhirnya tiba di Myanmar.
BP3MI juga menilai cara rekrutmen dan pergerakan seperti itu tidak menggambarkan proses yang sepenuhnya sah. Tawaran pekerjaan dilaporkan datang melalui media sosial, dengan janji penghasilan serta fasilitas, sementara jenis kerja diperkirakan sangat mudah. Meski demikian, pihaknya menekankan bahwa dugaan tetap ditelusuri, termasuk kemungkinan skema penipuan daring yang menjadi pintu awal perekrutan.
Sejalan dengan informasi yang diterima, BP3MI menyebut telah melakukan koordinasi dengan pemerintah di Agam dan aparat kepolisian. Selain penguatan koordinasi lintas pihak, BP3MI juga melayangkan surat kepada kementerian agar dapat diteruskan ke KBRI di Myanmar, dengan tujuan mendukung proses penanganan dan langkah pemulangan.
Namun, hingga perkembangan terakhir, BP3MI belum bisa memastikan kondisi maupun lokasi kedua korban. Fokus penelusuran saat ini diarahkan pada upaya menemukan keberadaan mereka serta menyiapkan rangkaian langkah agar pemulangan dapat segera diwujudkan. BP3MI menambahkan, rekaman video yang beredar menjadi salah satu pemicu percepatan koordinasi karena berisi indikasi dugaan penyiksaan dan penyekapan.












