jurnalistik.co.id – Pemadaman listrik membuat sidang tesis di Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya berlangsung dalam suasana gelap. Ruangan hanya diterangi lilin dan lampu senter dari ponsel saat proses ujian berlangsung.
Sidang tesis itu dijalani Reza Wira Tama Tasti (28), mahasiswa Magister Hukum Keluarga. Reza mengikuti sidang di Gedung Pascasarjana UIN Palangka Raya pada Senin (29/6/2026) pukul 18.00 WIB, dengan para penguji Abdul Helim, Sadiani, Abdul Khair, dan Surya Sukti.
Momen pemadaman tersebut kemudian menjadi perhatian karena beredar dalam video di media sosial. Dalam tayangan yang beredar, kondisi ruang sidang terlihat gelap dan penerangan berasal dari lilin serta senter ponsel.
Tenaga Administrasi Program Studi Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Palangka Raya, Iqbal Purnama, menjelaskan bahwa mati listrik di lingkungan kampus sudah sering terjadi sejak 22 Juni. Menurutnya, kejadian serupa pernah muncul sekitar tiga kali atau bahkan lebih, dengan pola yang tidak selalu sama.
Iqbal menuturkan bahwa pemadaman kerap terjadi pada waktu siang, berlangsung berjeda, dan tidak jarang pula terjadi dua hingga tiga hari berturut-turut. Ia menyampaikan informasi tersebut saat dihubungi untuk menanggapi kejadian saat sidang tesis berlangsung.
Selain frekuensi, Iqbal juga memaparkan keterkaitan pemadaman dengan ketersediaan fasilitas genset di kampus. Ia menyebutkan bahwa mesin berkapasitas besar saat ini tersedia di gedung baru, sehingga belum bisa menyuplai seluruh gedung di kampus.
Menurutnya, gedung pascasarjana yang digunakan untuk ujian tesis memang sudah disediakan genset. Namun pada saat sidang Reza berlangsung, muncul kendala teknis pada proses pengoperasian.
Iqbal mengatakan, ketika hendak digunakan ada masalah pada tali yang dipakai untuk menghidupkan mesin, hingga tali tersebut putus. Karena perlu waktu untuk perbaikan, sementara jadwal ujian tesis terus berjalan, alternatif tercepat akhirnya dipilih dengan menggunakan lilin serta penerangan senter ponsel.
Reza sendiri menjelaskan bahwa pemadaman listrik mengganggu jalannya sidang. Pada hari yang sama, ia mendapatkan jadwal pada pukul 18.00 WIB, sedangkan rangkaian ujian tesis dimulai sejak pagi hingga sore.
Dalam situasi seperti itu, pemadaman menimbulkan hambatan bagi proses belajar dan penggunaan perangkat pendukung. Reza menyampaikan bahwa pengajaran lebih banyak mengandalkan beberapa alat elektronik, termasuk TV sebagai penunjang, serta penggunaan AC agar kondisi ruang lebih nyaman.
Ia menekankan bahwa pemadaman listrik pada saat sidang jelas mengganggu aktivitas. Meski demikian, Reza menyatakan pandangannya bahwa kejadian tersebut justru mampu memantik semangat.
Reza mengungkapkan harapannya agar keadaan tidak dijadikan alasan untuk menghambat berkarya. Dalam penjelasannya, ia menyebut pemadaman dapat mendorong semangat agar tidak menjadikan situasi mati listrik sebagai pembenaran untuk berhenti bekerja dan berkarya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai outsourcing di Biro Hukum Setda Kalteng itu juga menyampaikan harapan agar pemerintah memperhatikan dampak pemadaman listrik terhadap masyarakat. Ia meminta agar fungsi regulasi, koordinasi, dan pengawasan dijalankan secara efektif untuk memastikan dampak terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Reza menyampaikan pula harapannya kepada PLN agar mempercepat perbaikan serta pelayanan. Ia berharap kondisi listrik, khususnya di Kalimantan Tengah, dapat segera pulih kembali sehingga aktivitas warga termasuk kegiatan pendidikan tidak terganggu berulang kali.
Keberlangsungan sidang tesis yang tetap berjalan meski tanpa listrik memperlihatkan upaya bertahan dalam situasi darurat. Namun kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa kesiapan sistem cadangan dan perbaikan teknis perlu dilakukan agar jadwal akademik tidak kembali terhambat pada waktu yang sama.












