Daerah

Marno, Mantan Buruh Pabrik yang Kini Mengasah Pisau Keliling

0
×

Marno, Mantan Buruh Pabrik yang Kini Mengasah Pisau Keliling

Sebarkan artikel ini
Dari Buruh Pabrik Jadi Pengasah Pisau, Jalan Panjang Marno Menjemput Rezeki News 3 Juni 2026
Ilustrasi: Dari Buruh Pabrik Jadi Pengasah Pisau, Jalan Panjang Marno Menjemput Rezeki

jurnalistik.co.id – Suara derit roda sepeda tua itu pelan-pelan menyusuri jalan-jalan permukiman di Kota Depok. Di atas sepeda modifikasi yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, Sumarno (70), atau yang lebih dikenal sebagai Marno, membawa mesin gerinda, batu asah, dan papan bertuliskan “ASAH PISAU Rp1.000”.

Di tengah kota yang terus berkembang, sosok seperti Marno semakin jarang ditemui. Namun bagi sebagian warga Depok, kehadirannya bukan sekadar menawarkan jasa. Ia juga membawa ingatan tentang pekerjaan lama yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

Selama lebih dari satu dekade, Marno mengelilingi berbagai kawasan permukiman di Depok untuk menawarkan jasa mengasah pisau, golok, pacul, hingga linggis. Dengan sepeda tua sebagai rekan kerja, ia tetap setia menjalani pekerjaan yang kini tak banyak lagi digeluti orang.

“Selama masih kuat bekerja, saya akan terus bekerja. Yang penting jangan sampai punya utang, tetap bersyukur, dan tidak mengeluh,” kata Pak Marno saat ditemui di rumah kontrakannya di Sukmajaya, Depok, Rabu (3/5/2026).

Jauh sebelum dikenal sebagai pengasah pisau keliling, kehidupan Marno habis di pabrik. Ia pernah bekerja di sebuah pabrik besi di Jakarta. Ketika perusahaan memutuskan memindahkan operasional ke Tangerang, Marno memilih tidak ikut pindah karena alasan keluarga.

Keputusan itu membuatnya harus mencari pekerjaan lain. “Saya keluar dari pabrik karena keluarga tidak mau pindah. Setelah itu sempat jadi penyapu jalan di Sudirman selama tiga tahun,” ujar dia.

Perjalanan hidupnya belum berhenti di sana. Sekitar tahun 1998, setelah masa Tragedi Semanggi, Marno bekerja di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Awalnya ia bertugas menjaga kebersihan, lalu mengikuti pelatihan selama tiga bulan sebelum akhirnya menjadi operator pengisian bahan bakar.

Seiring bertambahnya usia, pekerjaan itu tidak lagi ia jalani. Namun, pengalaman yang pernah diperoleh saat bekerja di pabrik justru menjadi bekal penting untuk bertahan hidup.

Di pabrik besi, Marno pernah belajar tentang pengolahan dan penajaman logam dari atasannya. Keterampilan itulah yang kemudian ia jadikan modal utama ketika memutuskan menjadi pengasah pisau keliling. “Saya tidak pernah terpikir akan jadi pengasah pisau. Tapi ilmu yang dulu diajarkan bos ternyata masih bisa dipakai sampai sekarang,” kata dia.

Sepeda tua jadi rekan kerja

Berbeda dari jasa pengasah modern yang memiliki bengkel tetap, seluruh peralatan Marno dibawa menggunakan sepeda modifikasi. Berdasarkan pengamatan lapangan, sepeda itu sudah mengalami berbagai perubahan agar mampu mengangkut perlengkapan kerja yang ia butuhkan setiap hari.

Di bagian depan sepeda terpasang papan besar bertuliskan “ASAH PISAU Rp1.000” yang mudah terlihat oleh warga. Di bagian tengah, mesin gerinda listrik dipasang permanen pada rangka sepeda. Mesin itu dipakai untuk proses awal penajaman bilah pisau atau alat lainnya.

Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan batu asah manual agar hasilnya lebih halus dan tajam. Dengan cara sederhana itu, Marno tetap menjalankan profesinya dari satu permukiman ke permukiman lain, membawa keterampilan lama yang masih memberi penghidupan hingga hari ini.

Bagi Marno, pekerjaan itu bukan hanya soal keterampilan, melainkan juga soal ketekunan menjaga ritme hidup. Setiap hari ia tetap berangkat dengan perlengkapan yang sama, menyusuri kawasan yang bisa dijangkaunya sambil berharap ada warga yang membutuhkan jasanya. Dari cara itulah ia bertahan, mengandalkan tenaga yang tersisa dan kebiasaan lama yang masih bisa diandalkan.

Di tengah layanan serba cepat dan pekerjaan yang makin modern, sosoknya menjadi pengingat bahwa ada profesi sederhana yang masih bertahan karena dibutuhkan. Sepeda tua, gerinda, dan batu asah miliknya bukan sekadar alat kerja, melainkan tanda bahwa usaha kecil pun bisa terus hidup selama masih ada ketekunan, pengalaman, dan kemauan untuk tetap berjalan.