jurnalistik.co.id – JAKARTA – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengajak para investor untuk memperluas penanaman modal di sektor pariwisata ke berbagai destinasi unggulan di Indonesia, tidak semata-mata berfokus pada Bali. Ia menilai, konsentrasi investasi yang terlalu besar di satu kawasan berpotensi membuat manfaat ekonomi pariwisata belum merata dirasakan daerah lain.
Menurut Widiyanti, Bali memang masih menjadi magnet utama, terutama di sejumlah kawasan seperti Canggu, Seminyak, Uluwatu, dan Ubud. Namun, kondisi itu sekaligus menunjukkan perlunya strategi yang lebih seimbang agar pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di satu pulau atau satu klaster destinasi saja.
“Indonesia bukan hanya Bali. Kita memiliki banyak destinasi unggulan dengan potensi pariwisata dan investasi yang sangat besar, yang masih menunggu untuk dikembangkan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,” ujar Widiyanti dalam Investor Roundtable 2026 yang digelar di Piasan Nusa Dua Restaurant, Bali, dikutip Senin (1/6).
Pernyataan itu menegaskan arah kebijakan pariwisata yang ingin mendorong pemerataan. Dalam pandangan Kementerian Pariwisata, investasi yang terdistribusi ke lebih banyak wilayah dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi yang lebih luas, sekaligus membuka ruang pembangunan yang lebih berkelanjutan di daerah-daerah yang selama ini belum tersorot sebesar Bali.
Widiyanti menekankan bahwa pemerataan tersebut penting bukan hanya untuk memperluas basis investasi, tetapi juga untuk memastikan manfaat sektor pariwisata menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Ketika investasi tidak terpusat pada satu kawasan, maka peluang kerja, aktivitas ekonomi lokal, dan manfaat turunan lainnya berpotensi tumbuh di berbagai daerah.
Karena itu, Kementerian Pariwisata memprioritaskan pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas serta sejumlah Destinasi Pariwisata Regeneratif. Keduanya diposisikan sebagai pusat-pusat pertumbuhan baru yang diharapkan mampu menarik minat investor sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan pariwisata di luar Bali.
Program tersebut, menurut Widiyanti, diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Lebih jauh, kebijakan ini ditujukan untuk memperluas distribusi manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah. Dengan kata lain, investasi pariwisata dipandang sebagai instrumen yang dapat memberi dampak langsung maupun tidak langsung bagi perekonomian lokal.
Di saat yang sama, Widiyanti juga menautkan arah pengembangan pariwisata Indonesia dengan tren global yang tengah bergerak ke arah berbeda. Menurutnya, wisata dunia kini semakin menaruh perhatian pada prinsip keberlanjutan, wellness tourism, serta pengalaman wisata yang autentik dan bermakna bagi wisatawan. Arah ini menjadi penting karena permintaan pasar pariwisata global juga ikut berubah.
Dalam konteks itu, destinasi di Indonesia dinilai punya ruang yang besar untuk dikembangkan secara lebih beragam. Bali tetap menjadi kekuatan utama, tetapi potensi destinasi lain juga disebut masih sangat besar dan belum tergarap maksimal. Karena itu, ajakan kepada investor untuk melirik daerah lain dipandang sebagai langkah strategis agar Indonesia tidak bergantung pada satu destinasi unggulan saja.
Dengan pendekatan yang lebih merata, sektor pariwisata diharapkan bisa tumbuh lebih tahan lama dan lebih inklusif. Investasi yang menyebar ke banyak destinasi unggulan bukan hanya memperkuat daya saing pariwisata nasional, tetapi juga membuka peluang agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati kawasan yang sudah mapan, melainkan juga wilayah lain yang sedang bertumbuh.
Bagi Widiyanti, pesan utamanya jelas: Indonesia memiliki lebih dari satu wajah pariwisata. Bali mungkin masih menjadi etalase utama, tetapi peluang investasi dan pengembangan pariwisata di destinasi lain juga sama pentingnya untuk diperhatikan, terutama jika tujuan akhirnya adalah pemerataan, keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas di seluruh Tanah Air.












