jurnalistik.co.id – Boyolali, Jawa Tengah—Keluarga korban A (57), warga Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dokkes Polda Jawa Tengah untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya. Hingga saat ini, keluarga berupaya memastikan informasi yang didapat bersifat resmi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kuasa hukum keluarga, Wiwik Dwi Habsari, menjelaskan bahwa pihak keluarga melaporkan kasus meninggalnya A kepada kepolisian karena ingin mengetahui penyebab kematian secara jelas. Wiwik mengatakan keluarga sempat merasa ada kejanggalan sebelum peristiwa itu terjadi.
“Kita hanya pihak keluarga itu mengadukan maupun melaporkan ke pihak kepolisian karena penasaran, rasa ingin tahu atas kematian ibu dari pelapor.” Wiwik menyampaikan hal tersebut saat dihubungi melalui telepon pada Jumat (5/6/2026). Ia juga menekankan bahwa keluarga mendasarkan laporan pada rangkaian peristiwa yang mereka terima.
“Ada yang janggal karena sebelum kematian malamnya kan sempat makan makanan kiriman dari seseorang yang belum diketahui identitasnya,” kata Wiwik. Dalam penelusuran awal yang disampaikan keluarga, makanan kiriman tersebut berupa sate ayam yang dikonsumsi sebelum A meninggal.
Wiwik menambahkan, sate ayam tersebut dikirim melalui GoSend. Meski demikian, keluarga menegaskan bahwa mereka belum dapat menarik kesimpulan sendiri terkait penyebab meninggalnya karena menunggu pemeriksaan forensik dan hasil pemeriksaan ekshumasi.
“Hasil dari forensik kita tunggu saja. Nanti kalau hasil forensik sudah keluar kita sampaikan secara resmi dari pihak Polres dan keluarga. Ini perkara sensitif, tidak bisa bicara ke mana-mana intinya seperti itu,” ungkap Wiwik. Menurutnya, proses pemeriksaan masih menjadi kunci untuk menjelaskan secara resmi apa yang terjadi.
Wiwik mengatakan keluarga berharap pihak kepolisian bisa memberikan penjelasan yang gamblang setelah hasil pemeriksaan ekshumasi dari Dokkes Polda Jawa Tengah keluar. Ia menyatakan keluarga akan menerima apa pun hasil yang disampaikan petugas sesuai temuan pemeriksaan.
“Mudah-mudahan nantu pihak kepolisian bisa mengungkap dengan gamblang,” kata dia. Wiwik menegaskan sikap keluarga tersebut sekaligus sebagai upaya agar informasi yang diperoleh tidak hanya berbasis dugaan.
“Apapun hasilnya kita harus menerima karena keluarga hanya ingin mengetahui peristiwa ini apakah ada indikasi pembunuhan atau tidak, kan gitu. Apapun hasilnya pihak keluarga menerima dengan lapang dada,” ungkap Wiwik. Ia menilai bahwa kecurigaan yang muncul di lingkungan keluarga perlu diketahui faktanya melalui pemeriksaan.
“Artinya kecurigaan-kecurigaan yang menurut keluarga harus diketahui kalau memang ada tidak sesuai dengan praduga-praduga keluarga dan teman-teman terkait peristiwa makanan yang dikirim tidak diketahui identitasnya atau seperti apa.” Wiwik juga menambahkan, pada akhirnya keluarga menunggu kejelasan berdasarkan hasil dokter forensik.
“Intinya kalau ada kejelasan dari dokter forensik hasilnya seperti apa ya kita terima,” tambah dia.
Pemeriksaan terhadap menantu dan keterangan polisi
Sebelumnya, Polres Boyolali telah memeriksa menantu korban berinisial P. Dalam pemeriksaan tersebut, P mengakui yang mengirim sate ayam kepada korban, dan proses pemeriksaan berlangsung selama delapan jam.
Kapolres Boyolali, AKBP Indra Maulana Saputra, menyampaikan bahwa pemeriksaan dilakukan sampai waktu yang telah ditentukan. Ia mengatakan P memberi keterangan terkait pengiriman sate kepada penyidik saat ditemui di Mapolresta Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (4/6/2026).
“Kita lakukan pemeriksaan sampai dengan pukul 23.00 WIB di mana terduga pelaku menurut dengan keterangannya menyampaikan kepada penyidik bahwa yang bersangkutan yang mengirimkan sate tersebut ke kediaman almarhum,” kata Kapolres Boyolali. Ia menegaskan bahwa pengakuan tersebut belum menjadi dasar untuk memastikan hubungan langsung antara sate dan meninggalnya A.
Pihak kepolisian, menurut AKBP Indra Maulana Saputra, belum dapat menyimpulkan bahwa sate ayam yang dikirim P merupakan penyebab kematian. Karena itu, proses lanjutan tetap mengacu pada hasil pemeriksaan ekshumasi dari Dokpol Polda Jateng.
“Namun itu belum menyimpulkan ataupun belum membuktikan bahwa yang bersangkutan atau sate tersebut yang menyebabkan meninggalnya,” ungkap dia. Dengan demikian, kepolisian masih menunggu keterangan dari dokter kepolisian untuk menentukan langkah berikutnya terkait peristiwa tersebut.
“Makanya kami masih menunggu keterangan dari Dokpol. Ketika nanti keterangan Dokpol sudah menyatakan ada sesuatu hal zat yang diindikasikan penyebab dari meninggalnya baru kita bisa putuskan nanti terkait keterlibatan dari terduga pelaku tersebut,” tambah dia.
Sampai hasil pemeriksaan ekshumasi keluar, keluarga memilih bersikap menunggu temuan resmi. Mereka berharap jawaban yang diperoleh melalui pemeriksaan forensik dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab pasti meninggalnya A.








