Bisnis & Ekonomi

Prabowo-Purbaya Sering Menyebut Fundamental Ekonomi: Apa Itu Fundamental Ekonomi?

2
×

Prabowo-Purbaya Sering Menyebut Fundamental Ekonomi: Apa Itu Fundamental Ekonomi?

Sebarkan artikel ini
Kerap Disebut Prabowo hingga Purbaya, Apa Itu Fundamental Ekonomi? Money 7 Juni 2026
Ilustrasi: Kerap Disebut Prabowo hingga Purbaya, Apa Itu Fundamental Ekonomi?

jurnalistik.co.id – Fundamental ekonomi belakangan kerap muncul dalam pernyataan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, terutama saat perhatian publik menyoroti rupiah yang melemah dan fluktuasi pasar.

Dalam sejumlah pidato dan penjelasan di media beberapa waktu terakhir, keduanya menekankan bahwa kondisi perekonomian Indonesia tetap berada pada fondasi yang kuat. Prabowo bahkan menyebut keyakinannya pada kekuatan fundamental nasional sebagai respons terhadap dinamika pasar.

Pada Mei 2026, Prabowo menyatakan tetap yakin terhadap perekonomian nasional karena Indonesia dinilai memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026).

Prabowo menegaskan, “Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” dalam konteks pembicaraan mengenai nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Ia juga menyinggung peran Purbaya dalam menjaga kondisi yang dinilainya tetap kuat meski terjadi dinamika global. “Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, nggak usah kau khawatir, mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar, yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo.

Sejalan dengan itu, Purbaya beberapa kali menyampaikan bahwa pelemahan rupiah maupun fluktuasi pasar saham tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih baik. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih terjaga, dan hal tersebut terlihat dari kinerja APBN yang tetap kuat.

Purbaya juga menilai aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih menunjukkan pertumbuhan yang menandakan perekonomian tetap berjalan. Ia menyebut adanya perbedaan antara persepsi publik dan kondisi yang berlangsung pada indikator anggaran serta aktivitas ekonomi.

“Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita kemana-mana semuanya ekonomi activity meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujar Purbaya di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Dalam kesempatan berbeda, Purbaya menambahkan bahwa sejumlah indikator ekonomi domestik tetap menunjukkan kondisi positif. Ia menyebut penerimaan pajak yang terus bertumbuh pada Mei 2026 sebagai salah satu bukti bahwa fondasi ekonomi dinilai tetap terjaga.

“Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada short, ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei saja masih kencang begitu,” kata Purbaya saat berbicara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Memahami fundamental ekonomi

Lantas, apa yang dimaksud dengan fundamental ekonomi? Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menjelaskan bahwa fundamental ekonomi pada dasarnya merupakan sekumpulan indikator makroekonomi yang digunakan untuk mengukur kesehatan dan daya tahan suatu negara.

Namun, menurut Dipo, fundamental ekonomi berbeda dengan indikator pasar seperti nilai tukar rupiah atau harga saham yang banyak dipengaruhi oleh persepsi investor. “Jadi kalau nilai tukar atau misalnya harga saham dan lain-lain itu kan benar-benar ada persepsi pasar ya. Tapi fundamental itu semacam performance si negara itu sendiri,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (6/6/2026).

Dipo mengibaratkan fundamental ekonomi sebagai laporan keuangan sebuah perusahaan. Jika kondisi perusahaan dinilai dari laporan keuangannya, maka kondisi sebuah negara dinilai dari berbagai indikator ekonomi makro yang menggambarkan performanya.

Ia menyatakan, “Jadi kalau misalnya ada perusahaan publik, fundamental itu adalah laporan keuangan perusahaan itu. Kalau di konteks negara itu indikator makro ekonomi,” menjelaskan bahwa indikator tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca dagang, transaksi berjalan, hingga defisit APBN.

Melalui indikator-indikator tersebut, ekonom dan investor dapat menilai apakah ekonomi suatu negara tergolong sehat atau tidak. Dari penilaian itu, kuatnya fundamental menjadi faktor penting agar negara mampu menarik modal asing masuk sekaligus memiliki kemampuan menghadapi berbagai gejolak dari dalam maupun luar negeri.