Bisnis & Ekonomi

Rupiah Offshore Nyaris Tembus Rp18.000/US$ Kemarin, Hari Ini Dibuka Stagnan

0
×

Rupiah Offshore Nyaris Tembus Rp18.000/US$ Kemarin, Hari Ini Dibuka Stagnan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah di Luar Negeri Nyaris Rp18.000/US$ Kemarin, Hari Ini Aman? - Market

jurnalistik.co.id – Kontrak rupiah di pasar luar negeri dibuka stagnan pada perdagangan Jumat (29/5/2026), berada di posisi Rp17.866 per dolar AS. Tak lama setelah pembukaan, mata uang Garuda itu sempat bergerak menguat tipis 0,17% ke level Rp17.836 per dolar AS pada 07.24 WIB.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa rupiah offshore masih berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global. Pada satu sisi, pembukaan yang stagnan menunjukkan pasar masih menimbang arah berikutnya. Di sisi lain, penguatan tipis yang muncul sesaat setelah perdagangan dibuka mengisyaratkan bahwa tekanan belum sepenuhnya dominan pada awal sesi hari ini.

Gerak kemarin nyaris menyentuh Rp18.000

Jika ditarik ke sesi perdagangan sebelumnya, rupiah di luar negeri memang bergerak jauh lebih liar. Pada Kamis (28/5/2026), kontrak rupiah hampir menyentuh Rp18.000 per dolar AS, tepatnya Rp17.984 per dolar AS pada 10.57 WIB. Level itu menempatkan rupiah sangat dekat dengan batas psikologis yang selama ini menjadi sorotan pelaku pasar.

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah offshore kembali menjadi pusat perhatian. Lonjakan dan pelemahan yang terjadi dalam rentang waktu singkat menunjukkan bahwa pasar masih mencari titik keseimbangan baru. Dengan posisi kemarin yang sempat mendekati Rp18.000, pembukaan hari ini di Rp17.866 per dolar AS terbilang sedikit lebih tenang, meski belum benar-benar lepas dari tekanan.

Sentimen global ikut membaik

Di pasar internasional, kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari ke depan membuat sentimen pasar kembali optimistis. Perkembangan itu ikut memberi ruang bagi aset berisiko untuk bernapas lebih lega, setidaknya pada awal perdagangan hari ini.

Dampaknya juga terlihat pada indeks dolar Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama yang pada perdagangan kemarin sempat melemah 0,19% ke 99,02. Pelemahan indeks dolar ini menjadi salah satu petunjuk bahwa tekanan terhadap mata uang di kawasan lain, termasuk rupiah, bisa sedikit berkurang ketika pasar menilai tensi geopolitik mereda.

Selain itu, harga minyak jenis Brent juga terlihat mulai jinak. Pada 06.37 WIB, Brent tercatat di posisi US$93,71 per barel. Meski harga energi masih berada di level yang tinggi, pergerakan yang lebih tenang tersebut turut mewarnai pembacaan pasar atas arah aset dan mata uang pada awal sesi.

Namun mata uang Asia masih bergerak campuran

Meski sentimen global membaik, pergerakan mata uang kawasan di pasar yang sudah buka masih menunjukkan arah yang beragam. Data Bloomberg pada 07.36 WIB memperlihatkan won Korea Selatan melemah 0,38%. Setelah itu, dolar Singapura turun 0,05%, yen Jepang terkoreksi 0,04%, dan yuan offshore melemah 0,03%.

Di sisi lain, hanya baht Thailand dan ringgit Malaysia yang tercatat menguat. Baht naik 0,37%, sedangkan ringgit bertambah 0,27%. Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan sentimen tidak selalu diterjemahkan seragam oleh seluruh mata uang kawasan, karena masing-masing masih dipengaruhi faktor risiko dan arus perdagangan yang berbeda.

Dalam konteks itu, rupiah offshore tetap berada di antara mata uang yang pergerakannya paling mendapat perhatian. Setelah kemarin nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS, lalu hari ini dibuka stagnan sebelum sempat menguat tipis, pasar masih akan mencermati apakah level-level tersebut hanya menjadi area sementara atau justru awal dari fase berikutnya.

Untuk sementara, data yang muncul pada pagi ini menunjukkan bahwa rupiah memang belum benar-benar keluar dari area yang rapuh, tetapi juga belum kehilangan seluruh peluang untuk bergerak lebih stabil. Dengan pasar global yang masih dipengaruhi kabar AS-Iran, arah rupiah pada perdagangan hari ini tetap bergantung pada bagaimana sentimen itu diterjemahkan oleh pelaku pasar sepanjang sesi berjalan.