jurnalistik.co.id – JAKARTA — Di tengah dominasi dolar Amerika Serikat (AS), hampir semua mata uang Asia seperti rupee India, ringgit Malaysia, dolar Vietnam, dan peso Filipina memang bergerak melemah. Hanya dolar Singapura yang tampaknya lebih stabil. Namun jika melihat data yang tersedia, pelemahan rupiah terlihat lebih dalam, sekaligus menunjukkan bahwa mata uang Indonesia cukup rentan terhadap guncangan eksternal.
Melansir data Bloomberg pada Selasa (26/5/2026), rupiah bergerak dari Rp13.788/US$ pada akhir 2025 menjadi Rp17.783/US$ pada sesi perdagangan hari ini pukul 10:30 WIB. Dalam rentang 10 tahun, mata uang Nusantara itu terdepresiasi 28,98%, hampir menyentuh 30%. Angka tersebut menjadi penanda bahwa tekanan terhadap rupiah tidak terjadi sesaat, melainkan berlangsung cukup panjang.
Pergerakan itu membuat rupiah tampil sebagai mata uang yang paling sensitif di kawasan. Dalam perbandingan dengan sejumlah mata uang Asia lain, rupiah memang searah dengan tren pelemahan terhadap dolar AS. Tetapi derajat pelemahannya memperlihatkan bahwa laju penurunan nilai tukarnya tidak selalu sama dengan mata uang lain, sehingga posisinya kerap lebih mudah terseret saat ada perubahan sentimen eksternal.
Jika dibandingkan dengan rupee India, misalnya, arah pergerakannya memang serupa dengan rupiah dan sama-sama menunjukkan pelemahan. Namun, pelemahan rupee India tercatat paling besar, yakni 44,13%. Mata uang tersebut turun dari INR 66.153/US$ pada akhir 2015 menjadi INR 95.347/US$ pada hari ini. Dengan demikian, rupee India tetap menjadi salah satu mata uang yang melemah cukup tajam terhadap dolar AS sepanjang periode yang dicatat Bloomberg.
Pada saat yang sama, peso Filipina juga tercatat melemah terhadap dolar AS. Bloomberg mencatat, posisi peso Filipina berada di level PHP 47.170/US$ pada akhir Desember 2015, lalu bergerak menjadi PHP 61.565/US$ pada hari ini. Dengan hitungan tersebut, pelemahan peso mencapai 30,52%. Angka ini menempatkan peso Filipina di kelompok mata uang Asia yang juga mengalami tekanan cukup signifikan selama periode yang sama.
Meski begitu, sorotan terhadap rupiah tetap menarik karena pelemahan yang terjadi berlangsung dalam satu dekade penuh dan terjadi di tengah dominasi dolar AS. Dalam pembacaan data tersebut, rupiah tidak berdiri sendirian sebagai mata uang yang melemah, tetapi justru memperlihatkan kecenderungan yang lebih rapuh dibandingkan beberapa mata uang lain di kawasan. Itulah sebabnya rupiah sering dipandang lebih sensitif terhadap perubahan eksternal.
Secara umum, data Bloomberg itu memperlihatkan bahwa hampir semua mata uang Asia bergerak dalam tekanan yang sama, yakni melemah terhadap dolar AS. Hanya dolar Singapura yang tampak lebih stabil dalam periode tersebut. Namun di antara deretan mata uang yang melemah itu, rupiah tetap menonjol karena pelemahannya yang cukup dalam dan karakter pergerakannya yang dinilai paling sensitif di kawasan.
Dalam konteks itu, pelemahan rupiah dapat dibaca sebagai cermin dari besarnya pengaruh faktor global terhadap pergerakan nilai tukar domestik. Ketika dolar AS menguat, mata uang di kawasan umumnya ikut tertekan, tetapi rupiah tampak lebih cepat merespons dan lebih dalam pergeserannya. Kondisi ini membuat pasar cenderung menaruh perhatian ekstra pada rupiah setiap kali muncul perubahan arah sentimen internasional.
Rentang sepuluh tahun yang ditampilkan data Bloomberg juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya soal fluktuasi harian, melainkan kecenderungan yang berlangsung lama. Karena itu, posisi rupiah dalam perbandingan regional menjadi penting untuk dibaca secara hati-hati. Di saat sebagian mata uang lain masih bisa bertahan lebih stabil, rupiah justru memperlihatkan ruang gerak yang lebih terbatas ketika berhadapan dengan penguatan dolar AS.
Dengan pola seperti ini, wajar bila rupiah kerap dianggap berada di barisan mata uang yang paling mudah terpengaruh oleh gejolak eksternal. Sementara itu, stabilitas yang relatif lebih baik pada dolar Singapura memberi kontras yang jelas terhadap mata uang lain di Asia. Kombinasi faktor-faktor tersebut menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan kawasan yang dampaknya terasa lebih besar di Indonesia.












