jurnalistik.co.id – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut serangan rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026) sebagai awal dari rangkaian serangan lanjutan. Dalam pernyataannya yang dikutip Senin (8/6/2026), IRGC menegaskan operasi itu akan berlangsung selama sepekan penuh.
IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut “bukanlah peristiwa yang berlalu begitu saja, melainkan awal dari serangkaian serangan berkelanjutan selama seminggu penuh,”. Pernyataan itu juga menyebut “Gelombang rudal dan drone akan terus diluncurkan sepanjang waktu selama tujuh hari ke depan hingga musuh gentar dan menghentikan kejahatannya.”
IRGC menyandarkan durasi serangan pada kondisi di Beirut, Lebanon. Mereka menegaskan akan menyerang Israel selama sepekan penuh hingga “mereka menghentikan operasi militer di Beirut, Lebanon.”
Selain soal kelanjutan serangan, IRGC juga menempatkan peringatan sebagai bagian dari pesan yang disampaikan. Mereka menyatakan bahwa setiap penargetan wilayah Iran “akan disambut dengan respons yang dahsyat dan di luar dugaan.”
Dalam konteks tersebut, IRGC menyebut operasi malam itu sebagai surat peringatan keras. Pernyataan itu menyatakan, “Operasi malam ini adalah sebuah peringatan. Jika agresi semacam itu terulang, tanggapannya akan lebih luas dan akan mencakup semua target Zionis-AS di wilayah tersebut.”
IRGC juga mengaitkan serangan ini dengan tindakan Israel sebelumnya di Lebanon. Menurut mereka, operasi ini merupakan respons setelah jet tempur Israel membombardir kawasan pinggiran selatan Kota Beirut, Lebanon.
Teheran menilai langkah Israel telah melampaui batas toleransi. Kepala komando pusat militer Iran menyebut Israel telah “melanggar seluruh batas toleransi lewat agresi militernya di Beirut.”
Dengan narasi tersebut, Iran menuntut agar Israel menghentikan serangan di Lebanon secara total. Teheran “menuntut agar Israel segera menghentikan total seluruh kampanye militernya di tanah Lebanon.”
Dalam pernyataan yang sama, IRGC menegaskan bahwa operasi ini merupakan rangkaian yang tidak berhenti pada satu waktu. Mereka menegaskan ancaman eskalasi apabila pola agresi terulang.
IRGC juga menyampaikan posisi diplomatiknya terkait upaya penghentian konflik. Mereka menyatakan bahwa setiap draf kesepakatan damai untuk mengakhiri perang secara permanen di masa depan “wajib menghentikan konflik paralel yang saat ini berkecamuk di Lebanon.”
Di sisi lain, pernyataan Iran berhadapan dengan penilaian Israel. Israel menuduh Teheran melakukan kesalahan fatal yang “harus dibayar mahal.”
Israel lantas menyiapkan pesan balasan melalui pimpinan militernya. Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, bersumpah akan meluncurkan aksi balas dendam yang tidak kalah mematikan ke jantung pertahanan Iran.
Letjen Zamir menyatakan bahwa respons militer Israel akan menunggu keputusan politik tertinggi. Ia mengancam, “Militer kami akan segera menyerang balik dengan kekuatan penuh begitu lampu hijau (perintah eksekusi) resmi diberikan oleh kabinet perang.”
Dengan demikian, pernyataan militer Israel menegaskan adanya syarat administratif sebelum langkah pembalasan dijalankan. Ancaman tersebut menempatkan “kabinet perang” sebagai otoritas yang menentukan kapan serangan balasan dilakukan.
Selain sikap militer masing-masing pihak, dinamika politik internasional juga disebut dalam pemberitaan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, disebut akan mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak membalas serangan rudal Iran terhadap Israel.
Dalam keseluruhan rangkaian pernyataan ini, IRGC menempatkan serangan sebagai pengikat waktu tujuh hari. Israel, di sisi lain, menyatakan kesiapan menyerang balik, namun mengaitkannya dengan pemberian “lampu hijau” resmi dari kabinet perang.
Dengan penegasan durasi serangan dan syarat balasan tersebut, tensi di kawasan tetap berada dalam kondisi waspada. Pernyataan Iran yang mengaitkan operasi dengan situasi di Beirut semakin menegaskan bahwa eskalasi diproyeksikan berlanjut selama operasi militer di sana belum dihentikan.
Sejumlah pesan peringatan juga menekankan adanya respons lanjutan bila ada penargetan terhadap wilayah Iran. Dalam kerangka itu, IRGC menyampaikan bahwa respons tidak hanya terbatas pada sasaran tertentu, tetapi juga mencakup spektrum yang lebih luas, sesuai pernyataan mereka tentang “semua target Zionis-AS di wilayah tersebut.”
Sementara itu, Israel tetap menyatakan tekad pembalasan sekaligus mengisyaratkan proses persetujuan internal. Ungkapan Letjen Eyal Zamir memperlihatkan bahwa langkah militer akan bergantung pada keputusan kabinet perang sebagai “lampu hijau” eksekusi.
Di tengah perselisihan yang berjalan, pernyataan diplomatik yang menuntut penghentian “konflik paralel” di Lebanon juga menjadi bagian dari posisi Iran. Dengan narasi itu, Iran menyatakan bahwa jalan kesepakatan damai ke depan harus disertai penghentian konflik yang berlangsung di Lebanon.
Keseluruhan pernyataan yang saling bertentangan ini menempatkan serangan pada Minggu (7/6/2026) sebagai titik awal yang terus diproyeksikan. IRGC menegaskan akan menjalankan serangan selama sepekan penuh, sementara Israel bersiap membalas ketika lampu hijau dari kabinet perang resmi diberikan.












