jurnalistik.co.id – Peluru nyasar di kawasan depan Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP) masih menyisakan ketakutan di kalangan mahasiswa. Peristiwa pada Selasa (2/6/2026) sore itu membuat sebagian mahasiswa memilih menghindari melintas di area rektorat.
Menurut laporan, insiden tersebut terjadi di depan gedung Rektorat UNP, Padang, Sumatera Barat. Pada kejadian itu, peluru nyasar diduga menimpa dua orang, yakni mahasiswa UNP bernama Nova dan warga sipil, Guruh.
Usai kejadian, keduanya harus menjalani perawatan medis. Nova dan Guruh disebut sedang dalam proses pemulihan di Rumah Sakit Tentara Reksodiwiryo.
Meski kedua korban telah diobati, rasa trauma tidak berhenti pada mereka. Di tengah aktivitas perkuliahan, sejumlah mahasiswa mengaku turut merasakan kekhawatiran yang sama.
Salah satu yang mengungkapkan dampak psikologis adalah Nurul Fikri, mahasiswa Fakultas Pendidikan Teknik Mesin. Ia mengatakan kini menjadi lebih waspada, khususnya bila ada kemungkinan insiden serupa terulang.
“Sejak setelah kejadian saya merasa gamang saja. Takut saya bisa jadi korban selanjutnya,” tuturnya kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026). Menurutnya, rasa takut itu membuatnya mengambil langkah antisipasi dengan tidak melintasi lokasi kejadian sejak hari peristiwa berlangsung.
Fikri menyebut sudah memasuki hari keempat ia tidak melewati halaman depan gedung rektorat. “Untuk sementara mungkin ini yang bisa saya lakukan. Lagi pula di lokasi juga banyak tentara yang sedang melakukan penyelidikan,” ujarnya.
Bagi sebagian mahasiswa, halaman depan rektorat selama ini juga memiliki fungsi sosial sebagai tempat berkumpul dan berfoto. Rozi Hardian mengatakan lokasi kejadian peluru nyasar merupakan spot seafoto favorit wisudawan dan mahasiswa untuk selebrasi setelah rangkaian kegiatan akademik.
Ia menyebut hampir setiap mahasiswa UNP tidak melewatkan momen berfoto di depan gedung rektorat, minimal sekali. Namun, sejak insiden tersebut, Rozi mengamati suasananya berubah.
“Tapi sejak kejadian, saya perhatikan sudah mulai lengang mahasiswa foto di sana. Sepertinya masih trauma,” ujarnya. Rozi menilai berkurangnya kerumunan tersebut tidak terlepas dari konteks kejadian yang berlangsung saat mahasiswa yang menjadi korban peluru nyasar sedang melakukan selebrasi sehabis ujian proposal.
Dalam pandangannya, kampus perlu mengambil langkah tegas agar ruang aman bisa kembali diciptakan bagi mahasiswa. Ia berharap proses penyelidikan yang dilakukan di lokasi berujung pada jaminan keamanan yang membuat aktivitas perkuliahan kembali berjalan tanpa rasa cemas berlebih.
Menurut pengakuan sejumlah mahasiswa, peristiwa itu tidak hanya berhenti pada momen kejadian, tetapi ikut mengubah rutinitas di sekitar rektorat. Di sela perkuliahan, kekhawatiran muncul ketika harus melintasi area yang sama, sehingga sebagian memilih menunda atau mengalihkan aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan di sana.
Langkah antisipasi juga terlihat dari kebiasaan mahasiswa yang biasanya datang untuk kegiatan kampus, kini menjadi lebih hati-hati. Rasa waspada membuat mereka mengamati situasi sebelum bergerak, terutama karena di lokasi masih ada proses penyelidikan dan keberadaan petugas yang melakukan pemeriksaan.
Selain aspek keselamatan, mahasiswa juga menyoroti perubahan suasana di halaman depan gedung rektorat. Tempat yang sebelumnya ramai untuk momen foto dan selebrasi kini terkesan berkurang, karena mereka merasakan adanya dampak psikologis yang sama setelah mengetahui Nova dan Guruh sempat menjadi korban serta menjalani perawatan.
Dalam konteks itu, harapan yang disampaikan mengarah pada pemulihan rasa aman secara bertahap, seiring berjalannya penyelidikan. Kampus dinilai perlu menunjukkan langkah yang jelas agar ruang belajar dan aktivitas akademik dapat kembali berjalan normal, tanpa kecemasan berlebihan, sehingga mahasiswa bisa fokus pada perkuliahan.












