Daerah

Ujang, Pengasah Pisau Keliling Depok, Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi

0
×

Ujang, Pengasah Pisau Keliling Depok, Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi

Sebarkan artikel ini
Bertahan di Tengah Modernisasi, Pengasah Pisau Keliling Depok Andalkan Pelanggan Setia News 3 Juni 2026
Ilustrasi: Bertahan di Tengah Modernisasi, Pengasah Pisau Keliling Depok Andalkan Pelanggan Setia

jurnalistik.co.id – DEPOK — Di tengah semakin mudahnya orang membeli peralatan rumah tangga secara daring dan maraknya layanan digital, profesi pengasah pisau keliling di Depok makin jarang terlihat. Namun, bagi Ujang (58), pekerjaan itu masih menjadi sumber penghidupan yang ia pertahankan hingga sekarang.

Dengan pikulan bambu yang memanggul batu gerinda, alat asah, dan perlengkapan kerja lainnya, Ujang berjalan menyusuri jalan-jalan permukiman untuk menawarkan jasa yang sudah ia tekuni selama dua dekade. Ia memilih tetap bertahan pada pekerjaan yang akrab dengan suara panggilan khasnya itu, meski perubahan zaman membuat profesi ini tak lagi seramai dulu.

Ujang mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi pengasah pisau keliling. Sebelum menekuni pekerjaan tersebut, ia bekerja sebagai buruh bangunan dan juga menjalani berbagai pekerjaan serabutan.

Ketika pekerjaan konstruksi mulai tidak menentu, ia kemudian mengikuti jejak seorang kerabat yang lebih dulu bekerja sebagai pengasah pisau keliling. Dari situ, ia mulai belajar sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa berdiri sendiri.

“Awalnya saya cuma bantu bawa alat. Saya lihat cara kerjanya, belajar sedikit-sedikit. Lama-lama berani menerima pelanggan sendiri,” kata Ujang saat ditemui Kompas.com tengah berkeliling di kawasan Pancoran Mas, Depok, Selasa (2/5/2026).

Berbeda dengan sebagian pengasah pisau yang kini menggunakan sepeda modifikasi, Ujang masih mempertahankan cara lama. Ia memikul seluruh peralatannya menggunakan bambu dan berjalan kaki dari satu wilayah ke wilayah lain.

Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB, ia berangkat dari rumah kontrakannya di Depok. Rute hariannya meliputi Pancoran Mas, Depok Lama, Rangkapan Jaya, hingga sejumlah pasar tradisional.

Bagi Ujang, suara panggilan yang terus diulang sepanjang perjalanan masih menjadi cara paling efektif untuk menarik pelanggan. Ia menyebut, banyak pelanggan lama yang sudah hafal dengan suara itu.

“Banyak pelanggan lama yang hafal suara saya. Kadang mereka langsung keluar rumah begitu dengar saya lewat,” ujarnya.

Jasa yang ditawarkan Ujang juga tidak terbatas pada pisau dapur. Ia menerima pengasahan golok, parang, gunting, pisau potong daging, hingga sejumlah alat pertanian sederhana.

Tarif yang ia pasang relatif murah. Untuk pisau dapur dan gunting biasa, biayanya berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 10.000. Sementara itu, golok dan parang dikenakan biaya lebih tinggi karena membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama.

Meski pekerjaan itu masih berjalan, pendapatan yang diperoleh Ujang tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Pada hari ramai, ia bisa membawa pulang Rp80.000 hingga Rp150.000.

Namun, ketika pelanggan sepi, penghasilannya hanya sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari. Kondisi itu membuat pekerjaannya terasa semakin berat di tengah perubahan pola belanja masyarakat.

“Sekarang banyak yang pilih beli baru. Kalau dulu pisau tumpul sedikit langsung diasah. Sekarang banyak yang dibuang lalu beli lagi,” kata dia.

Bagi Ujang, bertahan sebagai pengasah pisau keliling bukan sekadar soal pekerjaan, tetapi juga soal menjaga rutinitas yang sudah lama ia jalani. Selama masih ada pelanggan yang menunggu jasanya, ia memilih terus berjalan dari kampung ke kampung dengan peralatan sederhana yang dipikulnya sendiri.

Meski penghasilan harian kerap naik turun, Ujang tetap menjalani pekerjaannya dengan pola yang sudah ia kenal baik. Baginya, yang terpenting adalah tetap bergerak dan hadir di rute yang selama ini menjadi andalan untuk mencari pelanggan. Di tengah arus perubahan kebiasaan masyarakat, ia masih mengandalkan ketekunan, langkah kaki, dan suara panggilan khas yang selama ini menjadi ciri pekerjaannya.

Di mata Ujang, profesi ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya ada ketahanan untuk terus bertahan di tengah persaingan dengan pilihan yang lebih praktis. Selama alat-alat dapur dan perlengkapan lain masih membutuhkan perawatan, ia percaya jasa pengasah pisau keliling tetap punya tempat, meski tidak lagi seramai masa lalu.