Daerah

Bulan Suro di Pura Mangkunegaran Solo: Pulang untuk Menemukan Jati Diri

0
×

Bulan Suro di Pura Mangkunegaran Solo: Pulang untuk Menemukan Jati Diri

Sebarkan artikel ini
Makna Bulan Suro bagi Pura Mangkunegaran Solo: Pulang, Menemukan Jati Diri Regional 15 Juni 2026
Ilustrasi: Makna Bulan Suro bagi Pura Mangkunegaran Solo: Pulang, Menemukan Jati Diri

jurnalistik.co.id – Bagi Pura Mangkunegaran di Solo, Bulan Suro tidak berhenti sebagai penanda kalender. Di balik tradisi yang dijalankan, ada pesan untuk merujuk kembali pada diri—melalui ajakan “mulih” atau pulang.

Ketua penyelenggara kirab pusaka malam 1 Suro Pura Mangkunegaran, GRaj Ancillasura Marina Sudjiwo—yang akrab disapa Gusti Sura—menjelaskan bahwa Suro di Mangkunegaran mengundang masyarakat untuk “mulih”. Menurutnya, pulang yang dimaksud tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, melainkan juga sebagai proses kembali pada asal dan jati diri.

“Pulang ke rumah, pulang untuk kembali ke akar, pulang untuk kembali ke diri sendiri.” Gusti Sura menegaskan, “Itulah sebetulnya makna Suro. Terutama Suro yang ada di Mangkunegaran, yaitu pulang atau mulih,” dalam penjelasannya belum lama ini di Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah.

Gusti Sura juga merinci bahwa makna pulang dalam peringatan Suro mencakup dimensi yang lebih luas. “Tentu pulang itu terkait tidak hanya kita pulang secara arti pulang. Tetapi juga pulang untuk semesta, untuk kita kembali ke alam, kita kembali ke diri sendiri, kita menemukan jati diri kita sendiri, identitas diri sendiri dan terutama untuk memulihkan diri sendiri atau pulih,” katanya.

Dengan penjelasan itu, tradisi Suro diposisikan sebagai ruang permenungan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Pesan utamanya adalah mengarahkan perhatian pada pemulihan batin—sekaligus menguatkan identitas diri—melalui ritus yang dijalani secara sadar.

Ritual 24 jam, dari sore hingga pagi

Gusti Sura menyebut, rangkaian peringatan Suro di Pura Mangkunegaran tidak hanya berpusat pada malam 1 Suro. “Jadi Suro tahun ini tidak hanya acaranya difokuskan di malam 1 Suro. Tetapi rangkaian ritual adat akan berlangsung selama 24 jam atau satu hari full . Dari matahari terbenam sampai matahari terbit,” ujarnya.

Rangkaian ritual adat akan dimulai pada Selasa (16/6/2026) sore hingga Rabu (17/6/2026) pagi. Dengan rentang waktu tersebut, peringatan Suro dirancang sebagai perjalanan yang utuh, menampung proses melepaskan yang telah lewat dan menyiapkan diri untuk menyambut fase berikutnya.

Gaya penyelenggaraan yang berlangsung dari matahari terbenam sampai matahari terbit itu, menurut Gusti Sura, membuat Suro terasa sebagai peristiwa yang dijalani secara penuh. Di dalamnya, keterlibatan batin menjadi bagian penting dari makna yang ingin dihadirkan.

Bukan festival, melainkan tirakat sakral

Gusti Sura juga menegaskan bahwa Suro di Mangkunegaran bukan tontonan layaknya festival. “Suro bukan sekadar acara tontonan atau seperti yang disebut sebagai acara festival, konser ataupun apapun. Tetapi ini adalah acara sakral ritual adat dimana merupakan perjalanan tirakat yang kita jalani bersama-sama secara sadar,” katanya.

Pernyataan tersebut memperjelas posisi Suro sebagai tradisi yang bersifat sakral ritual adat. Proses tirakat dijalankan bersama-sama dengan kesadaran, sehingga pengalaman yang dituju tidak hanya berhenti pada kegiatan luar, melainkan juga membangun kedisiplinan batin dan refleksi diri.

Dalam kesempatan itu, Gusti Sura menambahkan bahwa Suro merupakan ritual adat untuk refleksi diri: melepas sekaligus menyambut tahun baru. Penggalan makna “mulih” kemudian dipahami sebagai dorongan untuk mengubah cara pandang—dari sekadar menjalani rutinitas menuju kesiapan lahir dan batin.

Ia menjelaskan bahwa 1 Suro adalah malam yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ruang hening. Malam tersebut memuat tiga dimensi waktu refleksi: “Atita”, yang merujuk pada saat melepaskan yang telah lewat; “Atiki”, ketika hadir sepenuhnya di saat ini; serta “Anagata”, sebagai bentuk menyambut yang akan datang.

Dengan susunan makna itu, Suro diarahkan agar orang tidak hanya menunggu pergantian waktu, tetapi juga melakukan penataan ulang diri. Dalam kerangka tersebut, “mulih” menjadi jembatan antara masa lalu yang dilepas dan masa depan yang disiapkan—agar seseorang kembali pada pusatnya sendiri.

Melalui rangkaian yang berlangsung selama 24 jam dan penegasan bahwa Suro adalah tirakat sakral, Pura Mangkunegaran menempatkan Bulan Suro sebagai momentum untuk memulihkan diri. Pada akhirnya, pesan “pulang untuk kembali ke akar” dan “kembali ke diri sendiri” diarahkan agar jati diri—identitas dan kesadaran diri—semakin jelas.